Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Intip Cara Sejuk Aisyiyah Menyemai Dakwah dari Teras Rumah

2 Januari 2026, 15:22 WIB 2 menit baca
warga dalam kajian aisyiyah

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Mengawali lembaran baru tahun 2026, sebuah rumah di Jalan Dewi Sartika Barat, Sukorejo, berubah menjadi oase spiritual yang menyejukkan. Tepat pada Kamis sore (1/1/2026), sekitar 150 jamaah berkumpul memenuhi serambi rumah Siti Solehah untuk mengikuti kegiatan Aisyiyah Kota Semarang yang dikemas sangat sederhana namun bermakna. Tanpa spanduk mewah, Majelis Tabligh Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Sukorejo membuktikan bahwa kekuatan dakwah justru lahir dari keikhlasan dan kedekatan emosional antarwarga.

Menariknya, acara ini bertepatan dengan walimatunnikah putri tuan rumah, sehingga momen keluarga tersebut bertransformasi menjadi peristiwa umat yang inspiratif. Kehadiran warga dari berbagai kalangan, termasuk mereka yang berada di luar organisasi Muhammadiyah, menunjukkan bahwa pola dakwah Aisyiyah sangat diterima masyarakat luas karena sifatnya yang tenang, rasional, dan solutif bagi kehidupan sehari-hari.

Mempelajari Tafsir Al-Qur’an untuk Kehidupan Keluarga

Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Semarang, Ustadzah Hj. Aminah Kurniasih, memandu langsung kajian tafsir. Ia mengupas tuntas surat Al-Baqarah ayat 21–29.

Aminah menekankan pentingnya konsistensi dalam mengaji. Kegiatan rutin seperti tahsin Al-Qur’an mampu membentuk karakter perempuan yang cerdas. Aisyiyah terus berkomitmen menjaga kualitas spiritual warga melalui pengajian tematik.

Drs. Gunarto Muchsin dari Majelis Tabligh PDM Kota Semarang juga hadir memberikan pesan. Gunarto mengulas makna sakral sebuah pernikahan dalam Islam.

Pernikahan merupakan mitsaqan ghalizha atau janji yang sangat berat. Setiap pasangan memikul tanggung jawab besar di hadapan Allah dan masyarakat.

“Pernikahan bukan sekadar akad biasa. Ini adalah ibadah sosial. Masyarakat yang kuat lahir dari rumah tangga yang lurus,” tutur Drs. Gunarto Muchsin dengan mantap.

Dampak Nyata Dakwah Kultural di Tingkat Ranting

Ketua PRM Sukorejo, Drs. Fauroni, mengungkapkan fakta menarik tentang antusiasme warga. Meskipun anggota inti hanya 40 orang, jamaah pengajian selalu membludak.

Majelis bulanan Aisyiyah bahkan sering menghadirkan lebih dari 200 peserta. Angka ini membuktikan tingginya kepercayaan publik terhadap dakwah Aisyiyah. Organisasi ini sukses merangkul masyarakat tanpa sekat ritual yang rumit.

Warga betah menyimak materi hingga waktu Maghrib tiba. Mereka menemukan ruang aman untuk mencari tuntunan hidup yang jernih.

Dakwah Aisyiyah tidak berteriak, namun pesan-pesannya meresap kuat ke dalam sanubari. Para ibu ini bekerja dalam senyap namun memberikan dampak yang luar biasa bagi lingkungan.

“Aisyiyah konsisten menghidupkan organisasi lewat pengajian rutin. Kami ingin menyentuh kehidupan nyata masyarakat secara langsung,” tegas Ustadzah Aminah Kurniasih.

Pertemuan sore itu menjadi kado indah bagi warga Sukorejo. Dakwah yang bermula dari ruang tamu ini mampu menerangi lingkungan sekitar. Ketekunan para kader Aisyiyah memberikan harapan baru bagi masa depan umat.

Kontributor: ‎Imam Abu Maulana
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: