Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Jangan Nikah Dulu Kalau Belum Tahu Ilmu Ini, Watak Pasangan Ternyata Bisa Dibaca!

11 Desember 2025, 18:03 WIB 2 menit baca
Jangan Nikah Dulu Kalau Belum Tahu Ilmu Ini, Watak Pasangan Ternyata Bisa Dibaca!

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang siap menggelar resepsi, menyiapkan mahar, bahkan mencicil rumah… tapi lupa satu hal paling penting: memahami watak pasangan. Padahal, menurut psikologi, karakter seseorang bisa “terbaca” dan dipetakan, bahkan sebelum hidup serumah.

Ilmu inilah yang dibedah habis-habisan dalam sebuah kajian psikologi keluarga yang digelar ’Aisyiyah Kota Semarang di lantai 5 Gedung Dakwah Muhammadiyah, Sabtu (6/12/2025). Para Peserta akhirnya dibuat sadar bahwa konflik rumah tangga bukan semata karena kurang cinta, tetapi karena kurang mengenali kepribadian satu sama lain.

Konflik Itu Bukan Karena Tidak Sayang

Psikolog Kasiyati, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa setiap pasangan membawa “bagasi” masing-masing: pengalaman masa kecil, nilai hidup, pola komunikasi, hingga cara memandang sebuah masalah. Semua itu membentuk watak yang unik.

Dan sering kali… justru watak yang unik itulah pemicu gesekan kecil yang akhirnya meledak menjadi konflik besar.

“Banyak konflik muncul bukan karena suami istri tidak saling mencintai, tetapi karena mereka belum memahami watak asli pasangannya,” tutur Kasiyati.

Ia menegaskan bahwa pertengkaran biasanya muncul dari ketidaksesuaian harapan, perasaan tidak diterima, atau luka batin yang belum sembuh. Bila watak pasangan dikenali lebih awal, gesekan bisa diredam sebelum menjadi konflik terbuka.

Peserta juga diberi gambaran bahwa memahami karakter bukan sekadar teori, tetapi keterampilan yang bisa dilatih mulai dari membaca pola respon pasangan, memahami kebutuhan emosionalnya, hingga mengenali batas wajar dalam perbedaan.

Aisyiyah Ingin Setiap Rumah Tangga Lebih Kuat

Kajian ini hanya salah satu langkah strategis ’Aisyiyah Kota Semarang dalam memperkuat ketahanan keluarga. Sebanyak 18 Pimpinan Cabang ’Aisyiyah diwajibkan mengirimkan minimal lima perwakilan agar ilmu psikologi keluarga ini menyebar hingga ke tingkat akar rumput.

Perempuan disebut memiliki peran sentral dalam menciptakan “iklim damai” di rumah—mulai dari mengelola emosi, membaca situasi pasangan, hingga menjadi penentu arah keharmonisan keluarga.

Pembahasan juga menekankan bahwa konflik yang dibiarkan tanpa solusi akan menjadi bom waktu yang menggerus keharmonisan.

Karena itu, memahami watak pasangan bukan sekadar wawasan tambahan, tetapi sistem peringatan dini agar rumah tangga tetap kokoh dan ramah emosi.

Kontributor: Indah LPPA Kota Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: