Jangkau 7,2 Juta Gen Z, Praktisi Pendidikan Muhammadiyah Dorong Inovasi Dakwah Digital Lewat Game Roblox
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org– Praktisi pendidikan Muhammadiyah mendorong Inovasi dakwah digital lewat game Roblox. Dengan lebih dari 7,2 juta pengguna aktif bulanan di Indonesia, platform game dunia virtual Roblox diidentifikasi sebagai kanal strategis terbaru bagi ulama atau guru untuk menyampaikan materi khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI).
Analisis ini muncul sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak untuk reorientasi metode pengajaran agama yang relevan bagi Generasi Z dan Gen Alpha, yang merupakan digital native. Praktisi Pendidikan Muhammadiyah, Yasykur H M atau biasa dipanggil Pak Alex, mendorong langkah proaktif ini.
“Kita menghadapi krisis re-orientasi metode pengajaran agama,” ujar Yasykur. “Jika ulama hanya menunggu mereka datang ke majelis, kita akan kalah cepat dengan narasi distopia dan risiko fragmentasi pemahaman agama yang dangkal di dunia maya. Roblox adalah medan dakwah baru yang harus kita masuki untuk menjamin otentisitas ajaran agama.”
Bagaimana Dakwah di Roblox Bekerja?
Roblox dipilih karena menawarkan keunggulan pedagogis melalui pembelajaran berbasis gamifikasi dan kolaborasi. Bagi orang awam, bayangkan Roblox seperti ruangan kelas virtual 3D, di mana setiap orang diwakili oleh boneka digital atau avatar.
Ulama atau guru, yang juga menggunakan avatar, tidak hanya berceramah, tetapi bisa membuat simulasi langsung. “Ini bukan hanya tentang bermain, ini tentang pembelajaran aktif,” jelas Yasykur.
Contoh praktiknya, guru dapat membangun replika masjid atau membuat lingkungan simulasi. Peserta didik (Gen Z/Alpha) dapat menggerakkan avatar mereka secara virtual untuk mempraktikkan gerakan salat atau simulasi manasik ibadah.
Selain simulasi, metode ini digunakan untuk interaksi cepat dan mendalam. Guru dapat berdiri di depan sekelompok avatar siswa, lalu mengajukan pertanyaan langsung seperti, “SIAPA YANG HAFAL AD DHUHA?” melalui live chat atau voice chat.
“Kita bisa membuat karakter virtual ustadz langsung berdialog dan mengetes audiens,” tambah Yasykur. Sesi ini biasanya dilakukan secara sinkronus (langsung) pada waktu luang audiens, yaitu sore, malam hari, atau selama akhir pekan, dengan fokus pada materi ringan seperti hafalan surah atau rukun iman.
Metode yang imersif ini—di mana materi agama disajikan dalam format yang menyerupai kenyataan—terbukti meningkatkan penyerapan dan retensi pengetahuan.
Tantangan Etika dan Keamanan Siber
Meskipun menjanjikan, implementasi dakwah di Roblox menuntut pembentukan tim khusus dan kerangka etika yang kuat.
“Sesi langsung ini sangat penting untuk mempertahankan otoritas keilmuan kita dan kedekatan emosional,” tegas Yasykur. “Tanpa itu, kita rentan terhadap fragmentasi pemahaman agama di lingkungan siber,” terang Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Semarang itu.
Tantangan terbesar yang disoroti adalah keamanan siber. Server Roleplay yang populer di Indonesia diidentifikasi rawan terhadap fenomena Child Grooming.
Yasykur menekankan, “Potensi ancaman seperti Child Grooming adalah perhatian utama yang tidak bisa diabaikan. Solusinya adalah membangun virtual world dakwah kita sendiri yang dimoderasi ketat, dengan kerangka etika yang kuat, untuk memastikan keamanan pengguna muda dan menjaga kemurnian pesan agama.”
Oleh karena itu, diperlukan tim multidisiplin: Ulama sebagai otoritas konten, didukung oleh talenta teknologi seperti Roblox Scripter (programmer) dan 3D Artist. Investasi pada SDM, gadget, dan kuota internet menjadi kebutuhan wajib untuk implementasi yang berhasil.
Baca juga:
Gebrak Dakwah Digital, Kader Muhammadiyah Rilis Quran Digital Pro dengan Fitur 4 Tafsir dan Sains