Ju′ dan Khauf: Dua Ancaman Nyata Kehidupan Bangsa
SEMARANG TENGAH, muhammadiyahsemarangkota.org – Ada dua ancaman fundamental bagi stabilitas negara yang dapat meruntuhkan sendi kehidupan suatu bangsa jika tidak diantisipasi dengan baik, yakni: ju’ (lapar/kelaparan) dan khauf (takut/ketakutan).
Hal ini disampaikan khatib Dr. AM. Jumai, dalam khutbah Jumatnya di Masjid Al Khusuf Komplek Balaikota Semarang, Jumat (26/9/2025).
Ia menegaskan bahwa dua ujian besar yang secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an ini bukan sekadar cobaan individu, melainkan ancaman kolektif yang bisa berakibat fatal bagi kehidupan bangsa.
Dalam konteks kekinian, khatib menyoroti bahwa tantangan lapar dan ketakutan sangat nyata, terutama di tengah krisis pangan global dan ketidakpastian politik. Ia mengutip Surah Al-Baqarah : 155 yang menyatakan bahwa manusia akan diuji dengan “sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.”
Secara spesifik, kondisi di Kota Semarang dan Jawa Tengah juga tak luput dari perhatian. Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang itu menyoroti adanya ketimpangan sosial mencolok yang berpotensi memicu jurang sosial yang dalam.
“Satu sisi, pejabat dan orang-orang dekat lingkaran kekuasaan sering kali memperoleh fasilitas istimewa. Namun, pada sisi lain, sebagian besar masyarakat masih berhadapan dengan kesulitan hidup sehari-hari—baik dalam memenuhi kebutuhan pangan, biaya pendidikan, maupun akses kesehatan,” ucapnya.
Ia memperingatkan, jika ketimpangan ini dibiarkan tanpa penanganan yang adil, hal itu dapat mengancam kohesi sosial masyarakat.
Nikmat berupa pangan dan keamanan yang merupakan karunia besar wajib dijaga, kata khatib, sebagaimana termaktub dalam QS. Quraisy: 4, yang mengamankan manusia “dari rasa takut.”
Untuk mengantisipasi ju ‘dan khauf, khatib memaparkan serangkaian langkah holistik yang harus diambil. Langkah spiritual menjadi fondasi, yaitu memperkuat syukur dan ibadah agar kesadaran religius senantiasa menuntun pemanfaatan nikmat Allah dengan sebaik-baiknya.
Dari aspek ekonomi, khatib menyerukan pentingnya kemandirian pangan. Penguatan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan lokal harus menjadi prioritas utama agar ketahanan pangan tidak rentan terhadap gejolak impor global.
Poin krusial ditekankan pada peran kepemimpinan. “Keadilan pemimpin adalah syarat mutlak terciptanya rasa aman,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa “Kepemimpinan yang adil, jujur, dan berpihak kepada rakyat kecil akan menjaga keseimbangan sosial serta mengurangi potensi ketidakpuasan publik.” Tanpa keadilan, rasa aman akan sulit dicapai.
Selain itu, instrumen sosial-keagamaan harus terus diperkuat melalui solidaritas sosial via zakat, infak, sedekah, wakaf, dan gotong royong. Mekanisme ini dinilai efektif untuk memastikan tidak ada satu pun warga yang dibiarkan kelaparan atau terpinggirkan.
Terakhir, khatib mendesak Pemerintah Kota Semarang untuk mewujudkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat. Pihak berwenang didorong untuk mengambil langkah nyata agar masyarakat bawah tidak menjadi korban ketimpangan struktural.
Khutbah ini menyimpulkan bahwa menjaga pangan dan keamanan adalah tanggung jawab kolektif. “Negeri yang kaya sumber daya tidak boleh membiarkan warganya kelaparan atau hidup dalam ketakutan akibat ketidakadilan sosial,” tutupnya, mengingatkan bahwa rapuhnya kedua aspek ini akan membuat masyarakat kehilangan harapan dan kepercayaan pada sistem yang ada.