Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Ketua PP Muhammadiyah Soroti Umat yang Kaya Ajaran tapi Miskin Aksi

12 April 2026, 22:56 WIB 2 menit baca
Dr. Agus Taufiqurrahman, Ketua PP Muhammadiyah, mengenakan kemeja batik dan peci hitam, mengangkat tangan kanannya yang mengepal kuat dalam pose orasi bersemangat di podium kayu berlogo Muhammadiyah. Di latar belakang kiri terdapat spanduk dengan teks 'Aisyiyah terlihat.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes., menyampaikan tausiyahnya yang menggetarkan dengan pose orasi bersemangat di podium panggung Hari Ber-Muhammadiyah dan Ber-Aisyiyah di halaman Kantor Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Ahad (12/4/2026).

GENUK, muhammadiyahsemarangkota.orgParadoks tajam antara ajaran Islam yang mencerahkan dengan realitas umat yang tertinggal menjadi sorotan utama Ketua PP Muhammadiyah Dr. dr. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes. Kritik keras ini dilontarkan sebagai “alarm” kebangkitan umat dalam Pengajian Hari Ber-Muhammadiyah dan Ber-Aisyiyah di halaman Kantor Kecamatan Genuk, Semarang, Ahad (12/4/2026).

Kenyataan di lapangan sering kali menunjukkan ironi besar. Ajaran Islam sangat luar biasa, namun umatnya justru kerap tertinggal di berbagai sektor kehidupan. Agus secara tajam menyoroti jurang pemisah antara ajaran dan implementasi ini.

“Islam itu mencerahkan. Seharusnya hidup orang Islam itu cerah dan memberi manfaat. Tapi kenapa justru banyak yang tertinggal?” ujar Ketua PP Muhammadiyah asal Yogyakarta ini.

Oleh karena itu, ia mendesak umat untuk segera melakukan transformasi diri. Kesadaran kolektif ini sangat penting untuk meningkatkan kontribusi umat Islam di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Konsep Islam Berkemajuan sebagai Solusi

Selanjutnya, Agus menawarkan jalan keluar yang konkret. Ia menegaskan bahwa kebangkitan umat harus bermula dari pemurnian tauhid. Umat Islam wajib kembali menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman utama. Selain itu, penguatan sikap moderat, adil, dan membawa rahmat juga menjadi kunci penting.

Pendekatan wasatiyah inilah yang mendasari konsep Islam Berkemajuan. Ideologi tersebut bukan sekadar semboyan kosong untuk dihafal. Sebaliknya, konsep ini adalah pijakan kuat untuk mempertegas peran Muhammadiyah untuk bangsa.

“Kalau ini dijalankan, Indonesia bukan sekadar negara besar, tapi bisa menjadi baldatun thayyibatun,” tegas Agus.

Dalam konteks tersebut, umat Islam harus berhenti mengeluh. Mereka diwajibkan memanfaatkan nikmat kesehatan dan waktu luang guna menghadirkan perubahan positif.

Melanjutkan Bukti Sejarah

Lebih lanjut, bukti nyata dedikasi Persyarikatan sudah tercatat dengan tinta emas. Sejarah perjalanan republik ini tidak bisa lepas dari kiprah para pahlawan nasional Muhammadiyah. Tokoh-tokoh inspiratif seperti Jenderal Besar Sudirman hingga Fatmawati merupakan contoh autentik kader yang tangguh.

Hingga saat ini, kata Agus, total ada 33 pahlawan nasional yang lahir dari rahim Muhammadiyah. Fakta sejarah tersebut harus menjadi cambuk pengingat bagi generasi masa kini. Warisan kebesaran masa lalu sama sekali tidak boleh berhenti hanya sebagai cerita pengantar tidur.

“Tugas kita bukan mengulang sejarah, tapi melanjutkannya,” tegasnya.

Sebagai penutup, Ketua PP Muhammadiyah Dr. Agus memberikan alarm agar seluruh elemen umat segera berbenah diri. Momentum refleksi pasca-Ramadan ini harus mampu melahirkan kader berkemajuan yang konsisten membela dan membangun negara.

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: