Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Menjemput Ketenangan Jiwa yang Hilang, Mengupas Keutamaan Bulan Haram sebagai Jeda Sakral Manusia Modern

16 Mei 2026, 14:23 WIB 4 menit baca
Jemaah pria bermata teduh sedang menunduk khidmat mendengarkan khutbah tentang keutamaan bulan haram di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang.
Ratusan jemaah tampak larut dalam suasana khidmat saat menyimak refleksi spiritual tentang urgensi menjaga waktu dan amalan di bulan-bulan mulia. (Foto: Dok. Masjid At Taqwa)

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org Rutinitas kerja yang padat sering kali meninggalkan rasa hampa yang pekat di dalam dada. Meskipun raga merasa sehat bugar, manusia modern kerap kehilangan arah untuk merenungkan makna hidup. Akibatnya, mereka melewatkan momentum emas untuk merenungkan keutamaan bulan haram.

Lembaran hampa itulah yang coba dibuka kembali di bawah kubah Masjid At Taqwa PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) kota Semarang pada Jumat siang (15/05/26). Langkah-langkah kaki yang lelah mulai bersimpuh di atas hamparan karpet hijau untuk mencari ketenangan. Melalui momentum khutbah Jumat tersebut, sang khatib mengajak jamaah memanfaatkan waktu mulia ini guna mengupas tuntas keutamaan bulan haram sebagai obat penyembuh jiwa.

Suasana khidmat langsung menyelimuti ruang utama masjid siang itu. Ratusan pasang mata tertuju lurus pada mimbar utama. Di atas sana, Ustadz Ibnu Al Hafidz berdiri tegas untuk menyampaikan untaian nasihatnya. Maka, di tengah deru angin kota yang sayup-sayup terdengar, sebuah refleksi mendalam mulai bergulir ke tengah jamaah. Sang khatib mengajak seluruh hadirin merenungkan kembali kedahsyatan makna keutamaan bulan haram tersebut.

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang,” ujar Ustadz Ibnu Al Hafidz dengan nada suara yang bergetar penuh penekanan. Ia secara tegas mengutip sebuah hadits sahih riwayat Imam Bukhari.

Saat mendengar petuah tersebut, keheningan di dalam masjid terasa kian menebal dan menyentuh kalbu. Rentetan kalimat itu seolah menjadi tamparan lembut bagi siapa saja yang kerap menghabiskan usia untuk hal-hal yang sia-sia. Padahal, setiap detik kehidupan yang mengalir kelak pasti menghadapi fase pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta.

Berhenti Sejenak di Zona Aman Spiritual

Berkaitan dengan hal tersebut, Islam sebenarnya telah menyediakan sebuah jeda eksklusif. Rasulullah menyebut masa khusus ini sebagai Al-Asyhurul Hurum. Oleh karena itu, pemahaman mengenai mengapa disebut bulan haram menjadi sangat krusial bagi umat Islam agar tidak melangkah tanpa arah.

Kata haram di sini bukan berarti pembatasan aktivitas harian. Sebaliknya, istilah ini merupakan sebuah simbol kehormatan dan kemuliaan besar yang langsung berasal dari Allah SWT. Lebih lanjut, Ustadz Ibnu Al Hafidz menerangkan rincian penanggalan suci tersebut. Gerbang mulia ini terdiri dari empat bulan khusus, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Oleh karena itu, ketika kalender mulai memasuki masa ini, atmosfer spiritual di sekitar umat muslim harus ikut berubah. Momen sakral ini menjadi kesempatan emas bagi kita semua untuk melakukan evaluasi total atas segala dosa yang telah lalu.

“Kemuliaan bulan haram jangan hanya diketahui secara teori, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari,” tegasnya dengan penuh wibawa. Akhirnya, ratusan jamaah menyimak kalimat tersebut dengan saksama.

Memanen Pahala Melalui Amalan Bulan Dzulqa’dah

Oleh karena itu, setiap individu kini dituntut untuk lebih bijak dalam memilah aktivitas harian mereka. Langkah awal yang paling sang ustadz anjurkan adalah memperbanyak taubat dan istighfar. Amalan ini terbukti ampuh untuk membersihkan kembali lembaran hati yang buram.

Di samping itu, konsistensi dalam mengejar amalan bulan dzulqadah akan menjadi investasi akhirat yang luar biasa. Melalui untaian khutbah tersebut, Ia juga menggarisbawahi pentingnya menghidupkan malam dengan sholat sunnah serta memperbanyak sedekah. Sebab, seluruh amalan saleh ini akan melipatgandakan pahala kebaikan secara tak terhingga jika dilakukan dengan tulus. Pada akhirnya, waktu luang yang semula terasa hampa kini berubah total menjadi ladang berkah yang menenangkan jiwa.

Menjemput Keberkahan yang Tersisa

Pada akhirnya, waktu tidak akan pernah berjalan mundur untuk siapa pun. Oleh sebab itu, kehadiran khutbah di Masjid At Taqwa Semarang ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Hidup terlalu singkat jika kita hanya menghabiskannya untuk meratapi kehampaan.

Lagipula, mengetahui alasan mengapa disebut bulan haram harusnya menyadarkan kita semua untuk segera berbenah sebelum jatah usia selesai. Mari jadikan bulan yang dimuliakan Allah ini sebagai momentum emas untuk pulang bersujud pasrah kepada-Nya. Kita harus menunjukkan keseriusan dalam mendalami esensi sekaligus memetik berkah dari keutamaan bulan haram. Langkah ini perlu kita iringi dengan konsistensi memperbanyak amalan bulan dzulqadah agar jiwa tidak lagi terasa hampa.

Kontributor: Halim Zaqi
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: