Keutamaan Memberi Maaf dan Tantangan Menurunkan Ego di Momen Lebaran
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Membersihkan diri dari beban gengsi dan ego menjadi tantangan terbesar umat Islam dalam meraih keutamaan memberi maaf. Refleksi spiritual penyejuk hati tersebut menjadi pokok bahasan utama pengajian Majelis Ta’lim Baiti Jannati di Masjid Al Muhajirin, Semarang, pada Ahad (5/4/2026) pagi ini.
Mengelola ego pasca-Ramadan seringkali menjadi tantangan terberat bagi umat Muslim. Oleh karena itu, momentum Lebaran bukan sekadar rutinitas bersalaman semata. Tradisi tahunan ini justru menjadi sarana paling efektif untuk melepaskan beban psikologis di masa lalu.
Penceramah kondang, Ustaz Prof. Dr. Ahwan Fanani, M.Ag., menegaskan hal tersebut di hadapan ratusan jamaah yang hadir. “Esensi dari halalbihalal bukan sekadar prosesi bersalam-salaman, melainkan momentum untuk membersihkan diri dari penyakit hati dan dendam,” ujar Wakil Ketua Pimpinan Daerah (PDM) Muhammadiyah Kota Semarang itu.
Keberanian Meminta Maaf
Melepaskan dendam memang membutuhkan kelapangan dada yang luar biasa besar. Sayangnya, banyak orang seringkali merasa gengsi untuk mengakui kesalahan mereka secara terbuka. Padahal, Islam sangat menghargai jiwa-jiwa berani yang mau menurunkan egonya.
ia kemudian menyoroti tingkatan mental seorang muslim dalam konteks interaksi sosial ini. “Meminta maaf membutuhkan keberanian, namun memberi maaf adalah sebuah kemuliaan yang ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT,” ujar akademisi tersebut.
Pernyataan ini sekaligus mempertegas keutamaan memberi maaf demi meraih ketenangan batin dalam Islam. Sebagai contoh nyata, Rasulullah SAW selalu mempraktikkan sikap mulia ini. Nabi Muhammad konsisten membalas setiap keburukan musuhnya dengan kebaikan. Beliau tidak pernah menyimpan amarah, melainkan mendoakan kebaikan bagi mereka.
Menjaga Kerukunan Jamaah
Nilai-nilai spiritual inilah yang menjadi fondasi utama kerukunan warga di kawasan Karangayu. Melalui kegiatan pengajian seperti ini, warga terus memupuk rasa empati dan keutamaan menyambung tali silaturahmi. Hasilnya, kekeluargaan jamaah tetap solid di tengah dinamika kehidupan perkotaan.
Pengurus masjid sangat berharap nilai-nilai pemaaf ini terus hidup dalam keseharian masyarakat. “Semoga dengan berakhirnya Ramadan dan dilaksanakannya halalbihalal ini, kita kembali ke fitrah dan menjadi pribadi yang lebih pemaaf seperti yang dicontohkan oleh Baginda Nabi,” ujar salah satu pengurus Masjid Al Muhajirin.
Baca juga:
Menguak Makna Halalbihalal menurut KH Tafsir, Bedah Rahasia Maaf yang Hakiki
Asal-usul Sejarah Halalbihalal: Tradisi Unik Muhammadiyah Sejak 1924
Kupat dan Lepet: Simbol Estetika dalam Asal-usul Halalbihalal di Jawa