Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Kezaliman Sesaat Lebih Berat dari Maksiat Puluhan Tahun: Seruan Moral di Awal HUT ke-80 RI

2 Agustus 2025, 09:48 WIB 2 menit baca
Kezaliman Sesaat Lebih Berat dari Maksiat Puluhan Tahun: Seruan Moral di Awal HUT ke-80 RI

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahkotasemarang.org – Sebuah seruan tajam nan menggugah dilontarkan dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Hidayah Polrestabes Semarang: “Kezaliman sesaat lebih berat dosanya dibanding maksiat puluhan tahun.”

Pernyataan dari Wakil Ketua PDM Kota Semarang, AM Jumai, itu menjadi sorotan utama di hadapan para pimpinan kepolisian dan jamaah. Pesan tersebut seolah menjadi cambuk moral di awal bulan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang bertema “Kemerdekaan dan Keadilan bagi Masyarakat.”

Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia yang semakin dekat menjadi momentum refleksi mendalam di Masjid Al-Hidayah Polrestabes Semarang, Jumat (01/08/2025). Di hadapan jajaran pimpinan kepolisian dan masyarakat, seorang tokoh Muhammadiyah Jawa Tengah, AM Jumai, menyampaikan khutbah Jumat yang menggugah, menyoroti makna kemerdekaan sejati yang bertumpu pada keadilan.

Kemerdekaan Sejati adalah Keadilan

Dengan suara yang berwibawa, Jumai mengawali khutbahnya dengan sebuah kutipan tajam dari sabda Rasulullah SAW:

“Kezaliman sesaat lebih berat dosanya dibanding maksiat puluhan tahun.” ucapnya dengan tegas didepan para jamaah.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah seruan moral yang secara khusus ditujukan kepada para pemimpin dan penegak hukum yang hadir. Ia mengajak mereka untuk merefleksikan kembali peran sebagai garda terdepan pelindung rakyat dan keadilan.

Khutbah ini dihadiri langsung oleh Kapolrestabes Semarang, Wakapolrestabes, serta jajaran pejabat lainnya. Jumai menjelaskan bahwa kemerdekaan sejati melampaui sekadar bebas dari penjajahan fisik. Kemerdekaan, dalam perspektif Islam, adalah pembebasan dari perbudakan spiritual, tekanan sosial, dan ketimpangan ekonomi.

Dengan mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 256, yang menyatakan tidak ada paksaan dalam agama, serta QS. Ibrahim: 1, yang menegaskan misi kenabian untuk membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Ia menekankan bahwa misi kenabian adalah membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya, sebuah transformasi spiritual dan sosial menuju keadilan yang paripurna.

Tak berhenti di situ, Jumai juga memberikan apresiasi dengan mengutip sabda lain, “Satu hari seorang pemimpin yang adil lebih utama dari ibadah sunnah selama 60 tahun.” Kutipan ini menjadi penyeimbang, memberikan penghargaan bagi pemimpin yang amanah sekaligus menjadi cambuk bagi mereka yang khianat.

Di penghujung khutbah, Jumai mengajak seluruh jamaah untuk mendoakan para pemimpin dan menjadikan diri mereka sebagai pemimpin yang teladan, jujur, dan adil di lingkungan masing-masing.

Kontributor: AM Jumai
Editor: Riki Apr
Bagikan: