Sebut Dosa Multi-Level Marketing, Khatib Ini Bongkar Modus Penguasa!
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Prof. Dr. Rosihan, M.Ag. menyampaikan khotbah Idul Adha yang menggetarkan jemaah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banyumanik pada Rabu (27/5/2026). Di hadapan jemaah yang membludak di halaman SD Srondol Wetan 02, Rosihan secara berani menyoroti fenomena manipulasi hukum demi melanggengkan kekuasaan sebagai bentuk dosa jariyah politik yang merusak tatanan negara.
Rosihan mengawali ceramah dengan mengupas esensi khotbah wada Nabi Muhammad SAW mengenai deklarasi Hak Asasi Manusia (HAM). Namun, sang profesor langsung menarik relevansi tersebut secara tajam dengan realitas sosial politik di Indonesia saat ini.
Salah satu poin yang paling menyita perhatian jemaah adalah kritik kerasnya terhadap pemaksaan aturan demi ambisi pribadi. Oleh karena itu, sang khatib mengingatkan umat agar tidak meniru tindakan-tindakan yang menabrak konstitusi.
“Jangan sampai anak yang belum cukup umur mencalonkan diri sebagai kepala negara dengan cara mengubah undang-undang. Tindakan semacam ini melahirkan dosa jariyah atau dosa multi-level marketing,” tegas Rosihan dengan nada tinggi di atas mimbar.
Bongkar Kejahatan Digital Pengadaan Chromebook
Lebih lanjut, Guru Besar Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang ini membongkar praktik lancung yang marak terjadi saat masyarakat sedang berjuang menghadapi krisis pandemi beberapa tahun lalu. Ia mengecam keras pengadaan teknologi digital seperti Chromebook sekolah yang justru menjadi ajang mencari keuntungan sepihak.
Menurut Guru Besar Unissula tersebut, mengambil hak-hak orang lain di tengah situasi sulit merupakan perbuatan yang sangat keji. Tindakan rakus ini juga tergolong sebagai dosa jariyah politik karena dampaknya merugikan masyarakat luas dalam jangka panjang.
“Ketika masyarakat berada pada posisi sulit, ada saudara kita yang mengambil keuntungan secara terencana. Kejahatan digital ini mengambil hak orang lain secara tidak benar,” tambah pakar hukum Islam tersebut.
Definisi Takwa: Suka Memberi, Bukan Mengambil Harta Rakyat
Sementara itu, Rosihan meluruskan salah kaprah masyarakat mengenai indikator orang yang bertakwa. Menurutnya, takwa tidak hanya tercermin dari panjangnya sujud saat shalat atau giatnya ibadah puasa sunnah seseorang.
Merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Lail, ia menegaskan bahwa orang yang paling takwa dan selamat dari api neraka adalah mereka yang suka memberi. Meskipun demikian, ia melihat fakta ironis di Indonesia di mana banyak oknum pejabat yang justru lebih suka merampas hak rakyat.
“Negara ini berdiri dengan sedekah dan orang-orang yang suka memberi, baik harta maupun jiwa. Oleh sebab itu, mari kita pegang teguh Al-Qur’an dan Sunnah agar bangsa ini terhindar dari lingkaran dosa jariyah politik,” pungkas Rosihan menutup khotbah Idul Adha 1447 H tersebut.