Sukses Gelar Kaderisasi Pertama, Mahasiswa Pondok Pesantren Unimus Buktikan Santri Bisa Kritis
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Siapa bilang mahasiswa yang mondok hanya bisa mengaji di dalam kamar? Pekan lalu menjadi saksi bisu bagaimana para kader perintis sukses menepis krisis percaya diri dan melahirkan sebuah gerakan baru yang progresif. Lewat perjuangan keras, PK IMM KH Sahlan Rosjidi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) berhasil mencetak sejarah dengan menggelar Darul Arqam Dasar (DAD) untuk pertama kalinya.
Langkah awal bagi sebuah komisariat perintis di dalam pondok tentu tidak pernah mudah. Ritme hidup mahasiswa pondok pesantren Unimus yang ketat antara mengaji dan kuliah kerap menjadi dinding pembatas untuk bergerak bebas di dunia organisasi. Namun, sekat-sekat keterbatasan itu akhirnya runtuh di sebuah ruang kelas SD Muhammadiyah 8 Pedurungan tempat berlangsungnya acara.
Selama tiga hari penuh, 24 mahasantri melebur dalam dinamika forum kaderisasi mahasiswa Muhammadiyah ini untuk mematangkan nalar kritis mereka. Ketua Panitia DAD 2026, Akmal Mahamida, mengenang bagaimana tema “Transformasi Progresif” sengaja dipilih bukan sekadar pajangan. “PK IMM KH Sahlan Rosjidi ini adalah pengkaderan pertama dari komisariat,” ujar Akmal penuh haru.
Meruntuhkan Ego dan Krisis Percaya Diri
Langkah berani menggelar DAD perdana IMM Sahlan Rosjidi ini sekaligus menjadi jawaban atas berbagai problem klasik para mahasantri. Selama ini, rasa kurang percaya diri dalam forum ilmiah dan keterbatasan kemampuan komunikasi sering membuat potensi mereka terpendam. Belum lagi tantangan diaspora kader yang perlahan mengikis ikatan emosional antara santri dengan pondok pesantrennya.
Di tengah jalannya forum, Fahmi Ketua Umum PK IMM KH Sahlan Rosjidi sempat memberikan sebuah wejangan mendalam yang membakar semangat. Ia meminta seluruh peserta melepas ego kedewasaan mereka demi menyerap ilmu organisasi yang baru. “Pesan saya untuk seluruh peserta, tolong agar mengosongkan gelasnya terlebih dahulu,” tegas sang Ketua Umum saat membuka acara.
Perjuangan mahasantri Semarang ini rupanya membuahkan hasil manis dan memicu apresiasi tinggi dari pengelola pondok. Pembina pesantren yang hadir menilai kehadiran wadah kaderisasi ini sebagai gerakan progresif yang harus didukung penuh. Menurutnya, kolaborasi ini adalah mesin pencetak intelektual muda yang siap menjawab tantangan zaman secara nyata.
Menjadi Motor Penggerak dan Duta Perubahan
Lewat keberhasilan DAD perdana IMM Sahlan Rosjidi ini, peta gerakan mahasiswa di lingkungan pondok kini telah berubah. Nilai-nilai spiritual tidak lagi bersifat pasif, melainkan bertransformasi menjadi energi kreatif yang menghidupkan internal pesantren. Kini, 24 lulusan tersebut memikul tanggung jawab baru sebagai duta pembawa perubahan positif di luar kampus.
Mereka adalah wajah segar pesantren yang siap membuktikan bahwa anak pondok pun mampu bersuara lantang. Pihak komisariat kini menatap masa depan gerakan dengan kepala tegak dan penuh rasa optimis. Sejarah baru telah tertulis dari tangan-tangan mahasantri yang tak takut keluar dari zona nyaman mereka.