Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Makna Idulfitri 2026, AM Jumai Serukan Semarang Kembali ke Fitrah Keadilan

20 Maret 2026, 13:34 WIB • 2 menit baca
Dr. AM Jumai, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, menyampaikan khotbah tentang makna Idul Fitri 2026 di mimbar halaman Masjid Al Mujahidin Patriot di hadapan para jemaah.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. AM. Jumai, menyampaikan pesan keadilan dan refleksi makna Idul Fitri 2026 saat bertindak sebagai khatib salat Id di halaman Masjid Al Mujahidin Patriot Semarang, Jumat (20/3/2026).

SEMARANG UTARA, muhammadiyahsemarangkota.org– Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. AM. Jumai, mendesak warga dan jajaran pemimpin daerah untuk mengutamakan kejujuran serta keadilan sosial dalam membangun kota. Pesan tajam mengenai makna Idulfitri 2026 ini ia sampaikan saat bertindak sebagai khatib salat Id di halaman Masjid Al Mujahidin Patriot Semarang, Jumat (20/3/2026).

Ia menegaskan bahwa puasa Ramadan melatih kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Selanjutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi fondasi utama dalam membangun kota.

Oleh karena itu, makna Idulfitri 2026 bukan sekadar perayaan kemenangan menahan lapar dan dahaga. Momentum ini menuntut umat Islam untuk kembali kepada fitrah kejujuran dan memperkuat kepedulian sosial.

“Pembangunan kota tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga pembangunan moral, akhlak, dan keadaban masyarakat,” ujar AM Jumai PDM Semarang di hadapan jemaah.

Mengawal Pemimpin Berintegritas

Lebih lanjut, akademisi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) tersebut menyoroti peran krusial seorang pemimpin dalam tata kota. Islam selalu mengajarkan bahwa kepemimpinan merupakan sebuah amanah besar. Sayangnya, banyak pemimpin gagal menjalankan amanah tersebut akibat pengaruh lingkungan terdekatnya.

“Seringkali pemimpin tergelincir bukan karena niat awalnya buruk, tetapi karena dikelilingi oleh orang-orang yang salah,” tegas Jumai.

Ia mengingatkan bahaya pembisik fasik yang kerap menghasut dan menyebarkan fitnah demi kepentingan pribadi. Warga dan umat Islam harus berani membersihkan lingkaran kekuasaan dari orang-orang manipulatif tersebut. Tujuannya agar kebijakan yang lahir benar-benar adil dan berpihak pada rakyat.

Sebagai penutup khutbah Idulfitri Muhammadiyah Semarang ini, khatib mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membuang jauh dendam dan kebencian. Semua pihak wajib mengutamakan kepentingan bersama demi kemajuan daerah.

“Semarang akan menjadi kota yang maju apabila warganya berakhlak mulia, saling menghargai, dan bekerja bersama tanpa sekat kepentingan sempit,” pungkasnya.

Baca juga:

Makna Idulfitri: Transformasi Kesalehan Ritual Menjadi Kesalehan Sosial

Dari Ngaliyan untuk Dunia: Pesan Umat Islam dan Kemanusiaan Global di Momen Idulfitri

Teks Khutbah Idulfitri 2026 Singkat dan Menyentuh Hati: Kembali Suci di Tengah Dunia yang Terluka

Bagikan: