Makna Ikhtiar: Ketika Kepala Sekolah Menjadi Penggerak Harapan
Tak banyak kepala sekolah yang mau meninggalkan kenyamanan ruang kerjanya untuk turun langsung ke lapangan. Tapi bagi Rosid Ridlo, S.Pd., Kepala SD Muhammadiyah 08 Semarang, langkah itu justru bagian dari ikhtiar bukan hanya untuk mencari siswa baru, tetapi juga menanamkan semangat kemajuan di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.
Pada Rabu (29/10/2025), ia menyambangi empat TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) sekaligus: TK ABA 41, 42, 48, dan 53. Dengan wajah cerah dan semangat yang tak surut, Rosid Ridlo memperkenalkan berbagai program unggulan sekolahnya sekaligus mengundang guru, siswa, dan wali murid untuk ikut serta dalam perayaan Milad Muhammadiyah ke-113.
Lebih dari Sosialisasi, Ini Tentang Semangat Dakwah
Kunjungan itu bukan sekadar rutinitas promosi pendidikan. Di balik langkahnya dari satu TK ke TK lain, ada keyakinan kuat bahwa keberhasilan sekolah tidak lahir dari diam, tetapi dari gerak dan kemauan untuk terus menjalin silaturahmi.
“Sekolah unggul bukan hanya dilihat dari gedung atau prestasi, tapi dari seberapa besar semangat berjuang dan kolaborasi yang kita bangun,” ujar Rosid dalam salah satu kunjungan.
Melalui kesempatan itu, ia juga menyampaikan rangkaian agenda Milad Muhammadiyah yang akan digelar pada 8, 15, dan 16 November 2025, mulai dari lomba paduan suara wali murid, lomba anak TK se-Kota Semarang, hingga kegiatan sosial seperti donor darah, berbagi sembako, dan jalan sehat.
Setiap acara dirancang bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk nyata dakwah yang menggembirakan dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Ada satu momen yang tak terlupakan ketika Rosid berkunjung ke TK ABA 42. Di halaman sekolah, sekumpulan anak kecil berseragam merah terlihat serius berlatih gerakan Tapak Suci, seni bela diri khas Muhammadiyah.
Rosid menghampiri mereka dengan langkah ringan, lalu menyapa satu per satu sambil tersenyum. Anak-anak itu menatap kagum ada kebanggaan tersendiri ketika seorang kepala sekolah datang langsung memberi semangat.
Di momen itu, tak ada jarak antara pemimpin dan anak didik. Hanya ada tawa, foto bersama, dan doa dalam hati: semoga dari tangan-tangan kecil itu, lahir generasi tangguh penerus Muhammadiyah.
Ikhtiar yang Tak Pernah Usai
Beberapa bulan sebelumnya, SD Muhammadiyah 08 Semarang telah dinobatkan sebagai Sekolah Unggul Madya oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah. Tapi bagi Rosid Ridlo, penghargaan itu bukan garis akhir, melainkan awal untuk berlari lebih jauh.
Ia sadar, keunggulan sejati bukan di atas panggung penghargaan, tapi di ruang-ruang kelas, di tangan para guru, dan di langkah-langkah kecil menuju perubahan.
“Kalau kita berhenti setelah dipuji, berarti semangat dakwah kita juga berhenti. Padahal, pendidikan itu perjuangan tanpa titik,” tuturnya.
Dari kunjungan itu, tersirat pesan besar bahwa ikhtiar adalah napas dari setiap perjuangan pendidikan Muhammadiyah. Bahwa untuk membangun sekolah unggul, dibutuhkan pemimpin yang mau turun langsung, menyapa, dan menebar semangat.
Bagi Rosid Ridlo, menjadi kepala sekolah bukan tentang posisi, tapi tentang misi. Ia tidak hanya memimpin, tapi juga menyalakan kembali semangat gotong royong, silaturahmi, dan dakwah pendidikan yang hidup di setiap jantung TK Aisyiyah.