Ternyata Kematian Bukan Akhir, Melainkan ‘Temu Kangen’ Paling Indah dengan Allah
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Selama ini banyak orang menganggap kematian sebagai momok yang paling menakutkan dan mengakhiri segala kebahagiaan. Sejatinya, bagi mereka yang memegang teguh iman, momen tersebut justru menjadi garis start menuju pertemuan yang paling dinantikan dengan Sang Pencipta. Pandangan menyejukkan ini mengemuka dalam pengajian Muhammadiyah Ranting Bulu Lor yang berlangsung di Gedung SMP Muhammadiyah 5 Semarang, Selasa malam (20/01/2026).
Ustadz H. Amin Nurohim hadir membawakan kajian mendalam tentang Surah Fushilat yang menyentuh sisi kemanusiaan jamaah. Alih-alih membicarakan siksa yang mencekam, narasumber justru mengajak hadirin melihat sisi keindahan dari sebuah kepulangan. Alhasil, suasana pengajian yang dimulai sejak pukul 19.30 WIB ini berubah menjadi ruang refleksi yang menenangkan jiwa dan penuh harapan.
Rahasia Tenang Menghadapi Ajal Lewat Istiqamah
Seringkali, ketakutan muncul karena kita terlalu mencintai dunia dan lupa akan janji-janji langit yang jauh lebih indah.
Ustadz Amin mengutip pesan cinta Allah dalam QS. Fushilat ayat 30 yang memerintahkan malaikat untuk menenangkan hati orang beriman.
Kendati demikian, ketenangan tersebut hanya milik hamba yang mampu menjaga konsistensi atau istiqamah dalam menyebut nama Allah sebagai Tuhan mereka.
Narasumber kharismatik ini menekankan bahwa rasa tenang saat ajal menjemput adalah buah dari iman yang hidup dalam keseharian.
“Barang siapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya,” tutur Ustadz Amin saat membacakan hadis penguat di hadapan puluhan jamaah.
Oleh sebab itu, kematian seharusnya kita maknai sebagai pintu perjumpaan yang penuh kerinduan, bukan sebuah perpisahan yang menyakitkan.
Mengelola Kesedihan Agar Tidak Terjebak Godaan Setan
Selain itu, sang penceramah menasihati jamaah agar tidak membiarkan diri larut dalam kesedihan yang berlebihan atas kehilangan.
Sebab, duka yang tak terkelola dengan baik seringkali menjadi celah bagi setan untuk menghilangkan rasa syukur dalam hati manusia.
Padahal, Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi siapa saja yang mampu menjaga hatinya tetap bersyukur meski dalam kondisi sulit sekalipun.
Ustadz Amin mengingatkan bahwa berbaik sangka atau husnuzan kepada ketetapan Allah merupakan kunci hidup bahagia.
“Kesiapan menghadapi kematian lahir dari amal saleh yang kita jaga terus-menerus. Jangan sampai kesedihan justru menjauhkan kita dari Allah,” tegas tokoh agama tersebut.
Maka dari itu, mengelola emosi dengan dzikir dan doa menjadi benteng utama agar iman tetap stabil di tengah badai ujian kehidupan.
Menata Orientasi Hidup Menuju Kehidupan Abadi
Pada akhirnya, pengajian ini berhasil mengubah cara pandang jamaah dalam menata kembali tujuan hidup mereka di dunia.
Seiring dengan itu, kematian kini tidak lagi tampak sebagai akhir yang gelap, melainkan gerbang bercahaya menuju kehidupan abadi yang jauh lebih sempurna.
Muhammadiyah Ranting Bulu Lor terus berupaya menghadirkan kajian yang mencerahkan agar masyarakat memiliki bekal tauhid yang kuat.
Sejauh ini, komitmen dakwah yang humanis terbukti mampu memberikan ketenangan batin bagi warga di tengah hiruk-pikuk masalah duniawi.
Mari, kita mulai memandang setiap helaan napas sebagai kesempatan untuk mempersiapkan “pertemuan agung” tersebut dengan amal terbaik.Sebab, saat hati sudah rindu pada Allah, maka kepulangan tidak akan lagi terasa sebagai sebuah ketakutan yang menghantui.
Baca Juga :
Kematian, Pintu Gerbang Menuju Kehidupan Abadi
Tahun Baru 2026, Benarkah Usia Kita Bertambah atau Justru Mendekati Garis Finish