Lebih dari Ritual, Menyingkap Pesan Cinta di Balik Simbolisme Haji dan Kurban
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Pakaian ihram yang serba putih bukan sebatas kostum ibadah tanpa makna. Melalui kain tanpa jahitan tersebut, umat Islam diingatkan untuk menanggalkan segala atribut kesombongan duniawi. Ustaz Dr. Muhammad Muhtar Arifin Sholeh, M.Lib., membedah tajam simbolisme haji dan kurban ini di Masjid Unimus, Ahad (10/5/2026).
Dosen FAI Unissula tersebut menjelaskan bahwa haji adalah miniatur Padang Mahsyar. Setiap rukunnya menyimpan pesan moral untuk membentuk pribadi yang jauh lebih bertakwa. Persaudaraan universal menjadi ruh utama yang harus jemaah bawa pulang setelah menyelesaikan ibadah.
“Haji adalah simbol pertemuan akbar yang menghapus sekat status sosial bagi seluruh manusia,” ungkap Ustaz Muhtar Arifin dalam kajian Ahad Pagi tersebut.
Menyembelih Egoisme Melalui Ritual Kurban yang Bermakna
Ritual penyembelihan hewan memiliki makna filosofis yang sangat tajam bagi kehidupan. Ustaz Muhtar menegaskan bahwa kurban merupakan simbol keberanian untuk “menyembelih” sifat hewani dalam diri manusia. Pengorbanan Nabi Ibrahim menjadi potret nyata ketaatan mutlak yang melahirkan keberkahan luas.
Selain aspek spiritual, manajemen pengelolaan daging juga harus mengutamakan standar kesehatan tinggi. Pakar pendidikan ini melarang keras penggunaan kantong plastik hitam hasil daur ulang limbah kimia. Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan jemaah dari risiko zat karsinogenik yang berbahaya.
“Kurban mengajarkan kita melepaskan sesuatu yang dicintai demi meraih rida Allah SWT,” jelas sosok pengajar senior ini.
Keadilan Sosial dalam Distribusi Daging Kurban
Pembagian daging kurban yang ideal harus mampu menyentuh masyarakat secara adil. Ustaz Muhtar merujuk pada sunah Rasulullah dengan membagi jatah menjadi tiga bagian utama. Pola ini memastikan keluarga, tetangga, hingga fakir miskin merasakan kebahagiaan yang sama.
Prinsip keadilan juga mencakup larangan keras memberikan jatah daging sebagai upah bagi penjagal. Panitia wajib mengambil biaya operasional dari sumber lain di luar hewan kurban tersebut. Hal ini menjaga kemurnian ibadah agar tidak bergeser menjadi sekadar transaksi komersial semata.
“Jangan jadikan daging kurban sebagai upah jagal karena dapat mengurangi nilai ibadah kita,” pungkas Ustaz Muhtar menutup pembahasannya.