Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Lebih dari Ritual, Menyingkap Pesan Cinta di Balik Simbolisme Haji dan Kurban

10 Mei 2026, 12:36 WIB • 2 menit baca
Foto dokumentasi yang menampilkan Ustaz Dr. Muhammad Muhtar Arifin Sholeh, M.Lib. sedang berdiri di podium kayu sebuah masjid. Beliau mengenakan kemeja batik bermotif cokelat dan krem, peci hitam, serta kacamata. Beliau tampak sedang berbicara sambil memegang mikrofon dengan tangan kanan dan tangan kiri yang bergerak memberikan penekanan pada penjelasannya. Di latar belakang, terlihat bagian dalam masjid yang luas dengan tiang-tiang besar dan jemaah yang duduk menyimak secara khidmat.
Ustaz Dr. Muhammad Muhtar Arifin Sholeh, M.Lib. saat memberikan tausiyah mengenai pesan cinta di balik ritual haji dan kurban di Masjid Unimus, Semarang (10/5/2026). Beliau menekankan bahwa haji merupakan miniatur Padang Mahsyar yang menghapus sekat status sosial, sementara kurban adalah simbol keberanian manusia untuk menanggalkan sifat egoisme.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Pakaian ihram yang serba putih bukan sebatas kostum ibadah tanpa makna. Melalui kain tanpa jahitan tersebut, umat Islam diingatkan untuk menanggalkan segala atribut kesombongan duniawi. Ustaz Dr. Muhammad Muhtar Arifin Sholeh, M.Lib., membedah tajam simbolisme haji dan kurban ini di Masjid Unimus, Ahad (10/5/2026).

Dosen FAI Unissula tersebut menjelaskan bahwa haji adalah miniatur Padang Mahsyar. Setiap rukunnya menyimpan pesan moral untuk membentuk pribadi yang jauh lebih bertakwa. Persaudaraan universal menjadi ruh utama yang harus jemaah bawa pulang setelah menyelesaikan ibadah.

“Haji adalah simbol pertemuan akbar yang menghapus sekat status sosial bagi seluruh manusia,” ungkap Ustaz Muhtar Arifin dalam kajian Ahad Pagi tersebut.

Menyembelih Egoisme Melalui Ritual Kurban yang Bermakna

Ritual penyembelihan hewan memiliki makna filosofis yang sangat tajam bagi kehidupan. Ustaz Muhtar menegaskan bahwa kurban merupakan simbol keberanian untuk “menyembelih” sifat hewani dalam diri manusia. Pengorbanan Nabi Ibrahim menjadi potret nyata ketaatan mutlak yang melahirkan keberkahan luas.

Selain aspek spiritual, manajemen pengelolaan daging juga harus mengutamakan standar kesehatan tinggi. Pakar pendidikan ini melarang keras penggunaan kantong plastik hitam hasil daur ulang limbah kimia. Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan jemaah dari risiko zat karsinogenik yang berbahaya.

“Kurban mengajarkan kita melepaskan sesuatu yang dicintai demi meraih rida Allah SWT,” jelas sosok pengajar senior ini.

Keadilan Sosial dalam Distribusi Daging Kurban

Pembagian daging kurban yang ideal harus mampu menyentuh masyarakat secara adil. Ustaz Muhtar merujuk pada sunah Rasulullah dengan membagi jatah menjadi tiga bagian utama. Pola ini memastikan keluarga, tetangga, hingga fakir miskin merasakan kebahagiaan yang sama.

Prinsip keadilan juga mencakup larangan keras memberikan jatah daging sebagai upah bagi penjagal. Panitia wajib mengambil biaya operasional dari sumber lain di luar hewan kurban tersebut. Hal ini menjaga kemurnian ibadah agar tidak bergeser menjadi sekadar transaksi komersial semata.

“Jangan jadikan daging kurban sebagai upah jagal karena dapat mengurangi nilai ibadah kita,” pungkas Ustaz Muhtar menutup pembahasannya.

Kontributor: Rizqi Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: