Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Saf Makin Rapat! Sentil Fenomena ‘Balas Dendam’ di Malam Kedua Ramadan

18 Februari 2026, 22:20 WIB 3 menit baca
Foto jarak dekat (close-up) dengan pencahayaan hangat di atas meja kayu yang menunjukkan menu berbuka puasa sederhana. Terdapat sebuah piring kecil berisi beberapa butir kurma dan segelas air putih yang dingin dan berembun di sampingnya. Di latar depan, terlihat bagian dari sajadah hijau dengan motif khas dan seuntai tasbih kayu berwarna cokelat yang melingkar. Di latar belakang yang kabur, tampak cahaya dari sebuah lentera tradisional, menciptakan suasana tenang dan spiritual.
Kembali ke Sunnah: Sajian kurma dan air putih sebagai pengingat pesan Ustadz Aripin di Masjid Asy Syifa agar jamaah tidak menjadikan waktu berbuka sebagai ajang 'balas dendam' konsumtif (18/02/2026). Momentum malam kedua ini menekankan bahwa pengendalian diri yang sesungguhnya diuji saat hidangan tersaji, di mana kesederhanaan menjadi kunci untuk menjaga kualitas takwa dan kesehatan.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Antusiasme masyarakat Semarang dalam menjemput keberkahan memuncak pada malam kedua Ramadan 1447 Hijriah. Buktinya, Masjid Asy Syifa dipenuhi lautan jamaah yang membuat saf shalat menjadi sangat rapat pada Rabu (18/2/2026) malam. Peningkatan ini menciptakan atmosfer spiritual yang jauh lebih kental dibandingkan malam pertama.

Semangat membara tersebut menjadi momentum penting bagi setiap individu untuk merefleksikan kembali niat ibadah mereka. Alhasil, kekhusyukan Isya dan Tarawih menyelimuti seluruh sudut ruangan masjid tanpa menyisakan tempat kosong. Pasalnya, malam-malam awal ini menjadi penentu seberapa kuat konsistensi seorang muslim dalam menjalankan madrasah ruhani sebulan penuh.

Meluruskan Niat di Awal Bulan

Selanjutnya, Ustadz Aripin dalam kultum singkatnya membedah secara tajam mengenai apa itu hakikat takwa yang sebenarnya ingin Allah tuju melalui puasa. Buktinya, takwa bukan hanya sebatas rasa takut yang pasif, melainkan kesadaran penuh untuk selalu berada dalam koridor perintah-Nya. Sosok penceramah ini menekankan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Sang Pencipta hanya terukur dari kualitas ketakwaannya, bukan harta maupun jabatan.

Ustadz Aripin mengingatkan jamaah bahwa takwa harus menjadi identitas yang melekat di mana pun kaki berpijak, bukan hanya saat berada di dalam masjid.

“Derajat seseorang di sisi Allah bukan diukur dari jabatan atau hartanya, tetapi dari ketakwaannya,” tegas penceramah tersebut di hadapan saf yang memenuhi ruangan.

Dampaknya, setiap langkah yang kita ambil setelah keluar dari masjid harus mencerminkan perubahan perilaku yang lebih mulia dan beradab. Ternyata, menjaga konsistensi takwa di tempat kerja atau rumah justru menjadi tantangan terbesar yang harus kita hadapi selama bulan suci ini.

Puasa Bukan Ajang Balas Dendam Saat Berbuka

Kemudian, sorotan beralih pada fenomena sosial yang sering kali mengaburkan makna puasa, yakni perilaku konsumtif saat waktu berbuka tiba. Buktinya, penceramah melontarkan peringatan keras agar umat Islam tidak mengubah momen berbuka menjadi ajang balas dendam dengan menyantap makanan secara berlebihan. Oleh karena itu, setiap muslim yang memilih mengikuti sunnah Rasulullah dengan menyegerakan berbuka menggunakan kurma telah mengambil langkah yang jauh lebih bijak dan menyehatkan.

Sosok penceramah menegaskan bahwa godaan hidangan lezat yang tersaji di depan mata justru menjadi ujian pengendalian diri yang sesungguhnya.

“Ramadhan bukan bulan balas dendam setelah seharian berpuasa. Justru ini momentum melatih kesederhanaan dan pengendalian diri,” ujarnya saat mengingatkan para jamaah.

Tujuannya, setiap muslim dapat menjaga pahala puasa agar tidak gugur hanya karena kegagalan meninggalkan perkataan dusta atau perbuatan buruk. Sejatinya, Allah tidak memerlukan rasa lapar dari hamba-Nya yang masih membiarkan hawa nafsu duniawi mencemari akhlak mereka secara tak terkontrol.

Menjaga Api Semangat Ibadah Tetap Menyala Hingga Akhir

Terakhir, peningkatan jumlah jamaah pada malam kedua ini harus menjadi kekuatan nyata, bukan sekadar euforia sesaat yang meredup di pertengahan bulan. Buktinya, panitia masjid kini bekerja ekstra keras menyiapkan pelayanan terbaik demi menjaga kenyamanan jamaah hingga malam-malam terakhir nanti. Maka dari itu, sinergi antara semangat jamaah dan pesan moral dari mimbar masjid harus mampu melahirkan perubahan sosial yang nyata di tengah masyarakat.

Sosok penceramah mengajak setiap individu agar memanfaatkan momentum Ramadan 2026 sebagai titik balik untuk meningkatkan kualitas disiplin dan kedermawanan.

“Mari jadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan. Jangan sampai Ramadhan berlalu, tetapi kita tidak berubah,” pungkas Ustadz Aripin saat menutup kultumnya.

Fenomena membludaknya jamaah di Masjid Asy Syifa membuktikan bahwa masyarakat masih memiliki kerinduan yang sangat kuat terhadap jalan ketakwaan. Sejatinya, kemenangan sejati tidak bersandar pada berapa kali kita mengikuti tarawih, melainkan pada seberapa besar perubahan akhlak yang kita miliki setelah Ramadan usai. Mari kita jaga saf tetap rapat dan pastikan hati tetap terpaut pada jalan ketakwaan yang hakiki!

Kontributor: Tim Media PCM Semarang Utara
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: