Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Manasik Haji KBIHU PDM Semarang Soroti ‘Brand Power’ Muhammadiyah sebagai Misi Islam Berkemajuan

29 September 2025, 09:41 WIB 3 menit baca
Manasik Haji KBIHU PDM Semarang Soroti ‘Brand Power’ Muhammadiyah sebagai Misi Islam Berkemajuan

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org- Muhammadiyah bukan sekadar organisasi massa (ormas), melainkan sebuah metodologi (manhaj) dan gerakan Islam berkemajuan yang memiliki potensi besar dalam pemberdayaan umat.

Hal tersebut disampaikan Dr. AM Juma’i, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, dalam agenda Manasik Haji Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) PDM Kota Semarang di Aula RS Roemani, Ahad (28/9/25).

Materi bertajuk ‘The Power of Brand’ yang dipaparkan Dr. Juma’i secara rinci memperkenalkan identitas dan visi persyarikatan Muhammadiyah kepada para calon jemaah. Menurutnya, pengenalan terhadap ‘Brand’ Muhammadiyah ini penting untuk menumbuhkan pemahaman bahwa seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang mereka rasakan, termasuk KBIHU, adalah buah dari gerakan yang memiliki landasan filosofis dan cita-cita luhur.

Dakwah Berkemajuan sebagai DNA Gerakan

Dr. Juma’i menjelaskan, lambang Muhammadiyah, matahari bersinar dengan dua belas sinar utama, dipilih dengan harapan agar organisasi ini menjadi entitas yang mencerahkan (menyinari) hati dan pikiran masyarakat, selaras dengan Risalah Islam Berkemajuan. Ia menekankan bahwa misi utama gerakan ini adalah memerangi keterbelakangan, kebodohan, dan kemerosotan akhlak, yang semuanya merujuk pada konsep Tajdid (Pembaharuan) dalam menjawab tantangan zaman.

“Dakwah yang kita usung haruslah Dakwah Berkemajuan: dakwah yang mencerahkan, menggembirakan, menggerakkan, dan mencerdaskan umat. Ia harus mampu meningkatkan amal sholih dan membuat umat merasa betah di dalamnya,” tegas Dr. Juma’i, menyoroti bahwa aktivitas ber-Muhammadiyah harus dijiwai oleh semangat pergerakan, bukan sekadar rutinitas.

Hal ini dipertegas dengan penjelasan Dr. Juma’i mengenai makna 12 sinar pada logo, yang mewakili semangat kaum Hawariyyun: keteguhan iman, kesetiaan mendalam, dan keberanian untuk berkorban jiwa dan raga demi agama Allah. Ia menyimpulkan pengenalannya terhadap persyarikatan sebagai bekal pemahaman, tanpa ada niatan untuk memaksa jamaah masuk dalam struktur organisasi Muhammadiyah.

Fondasi Aqidah untuk Haji Mabrur

Sebelum materi tentang ‘Brand’ Muhammadiyah dipaparkan, acara manasik yang dimulai tepat pukul 07:00 WIB ini dibuka dengan materi fundamental tentang tauhid yang disampaikan oleh Ustad H. Muchlas Maksum.

Ustad Muchlas menekankan bahwa ibadah haji yang mabrur hanya dapat dicapai melalui prosesi ibadah yang didasarkan pada akidah yang benar. Ia mengingatkan jemaah bahwa lawan dari tauhid (mengesakan Allah) adalah syirik (menduakan Allah), sebuah dosa besar yang disebutkan Al-Qur’an dapat menghapus amalan (Al An’am : 88) dan merupakan dosa yang tidak terampuni (An Nisa : 48).

Secara tidak langsung, ustad asal Mranggen, Demak ini menggarisbawahi pentingnya meluruskan niat sejak awal. Ia memaparkan adanya catatan praktik syirik yang masih terjadi dalam pelaksanaan haji. Seperti mengkeramatkan Ka’bah dan Maqam Ibrahim, melakukan cium Hajar Aswad bukan karena Allah atau sunnah Rasul, shalat dan berdoa menghadap Jabal Rahmah, hingga meminta hajat pada kuburan nabi dan para sahabat.

Penjelasan mendalam ini menjadi pengingat bagi calon jemaah untuk memurnikan seluruh niat dan ritual haji mereka, memastikan setiap langkah didasarkan pada ketauhidan yang murni. Dengan demikian, bekal manasik haji KBIHU PDM Kota Semarang tidak hanya menyentuh aspek fiqih ibadah, namun juga memantapkan akidah spiritual (tauhid) dan memperkenalkan orientasi gerak keumatan (Manhaj Berkemajuan), menjadikannya persiapan yang holistik sebelum menuju Tanah Suci.

Bagikan: