Melihat Umat Lebih Dekat, Menggerakkan Dakwah Lebih Tepat
SEMARANG SELATAN,muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang masih mengira bahwa dakwah cukup mengalir apa adanya: ceramah berjalan, kegiatan rutin hidup, lalu selesai. Namun dalam Sekolah Tabligh yang digelar pada Sabtu (15/11/2025) di Aula Roemani, Dr. AM. Jumai Wakil Ketua PDM Kota Semarang mengajak para peserta untuk membuka mata bahwa dakwah hari ini menuntut strategi yang jauh lebih cerdas, terukur, dan berbasis riset.
Dakwah tidak bisa bergerak hanya dengan semangat, tetapi harus digerakkan dengan peta yang jelas. “Jika umat berubah, maka cara dakwahnya juga harus berubah, tetapi tetap berpegang pada nilai,” ujarnya.
Dakwah Berkemajuan Tidak Bisa Tanpa Pemetaan Umat
Dalam pemaparannya, Dr. Jumai menggambarkan situasi kota besar seperti Semarang yang plural, kompleks, dan dinamis.
Kota ini dihuni masyarakat dengan latar belakang berbeda Jawa, Tionghoa, Arab, Melayu, Batak, Minang dengan ragam agama yang hidup berdampingan.
Kondisi ini membuat dakwah tidak bisa dilakukan secara seragam.
Ia menekankan bahwa Peta Dakwah bukan sekadar konsep, tetapi fondasi awal sebelum sebuah gerakan dijalankan.
Pemetaan mencakup potensi, masalah, dinamika keyakinan, hingga budaya lokal yang membentuk karakter masyarakat.
Dr. Jumai memaparkan, dakwah berkemajuan harus membaca data, mengenali wilayah “hijau” yang aktif, wilayah “kuning” yang potensial, dan wilayah “merah” yang rawan akidah maupun minim kegiatan keagamaan.
Dengan cara ini, dakwah tidak lagi menebak-nebak, tetapi tepat sasaran.
“Dakwah itu bukan hanya tugas mimbar. Dakwah adalah membaca masyarakat, menyentuh mereka dengan cara yang sesuai, dan hadir mengikuti kebutuhan zaman,” tutur Jumai.
Dari Literasi Digital hingga Keretakan Sosial
Mengambil hasil pemetaan sosial, Dr. Jumai menjelaskan bahwa tantangan dakwah kini tidak lagi berkutat pada masalah klasik.
Media sosial, arus informasi palsu, rendahnya literasi digital, hingga budaya urban yang semakin individualis menjadi hambatan baru yang harus disikapi dengan kecakapan.
Ia mengingatkan bahwa dai tidak cukup hanya memahami kitab, tetapi juga harus peka terhadap dinamika digital.
Generasi muda mencari jawaban di internet lebih cepat daripada bertanya pada guru, sehingga dakwah harus hadir di ruang digital dengan bahasa dan pendekatan yang tepat.
Selain digital, Dr. Jumai juga menyoroti perlunya hubungan lintas ormas dan lembaga dakwah.
Peta dakwah memungkinkan sinergi antarmasjid, PCM, PRM, hingga pemerintah sehingga gerakan amar ma’ruf nahi munkar tidak berjalan sendiri-sendiri.
Dalam satu penekanan, ia menyampaikan secara tegas, “Dakwah yang tidak mengikuti perkembangan zaman akan ditinggalkan umatnya.”
Dakwah berkemajuan itu harus hadir dengan cinta, bukan konflik tetapi dapat menghadirkan solusi, bukan menambah masalah dan selalu mendorong tumbuhnya amal saleh serta karakter umat yang lebih kuat.
Baca juga : PCM Banyumanik Sukses Aplikasikan Islam Berkemajuan Secara Nyata, Apa Rahasianya?