Meneladani Jejak Nabi: Menemukan Peta Jalan Menuju ‘Qalbun Salim’
SEMARANG UTARA, muhammadiyahsemarangkota.org – Pernahkah kita berhenti sejenak di tengah rutinitas yang padat, lalu bertanya pada diri sendiri: ke mana sebenarnya arah langkah kaki ini membawa kita? Pertanyaan reflektif inilah yang menjadi benang merah dalam suasana hangat di aula SMP Muhammadiyah 05 Semarang Utara, Selasa (09/12/2025).
Pagi itu, puluhan peserta kajian rutinan duduk menyimak dengan khidmat, seolah sedang mengisi ulang “baterai” iman mereka.
Ustadz Gunarto Muchsin dari majelis tabligh PDM Kota Semarang, yang hadir sebagai pemateri, tidak sekadar menyampaikan dalil, namun mengajak hadirin untuk menyelami kembali peta kehidupan melalui tema besar “Mengingkuti Jejak (Ittiba’) Perjalanan Hidup Rasulullah”.
Kompas Hidup dari Dua Teladan Agung
Dalam pemaparannya yang lugas namun menyentuh hati, Gunarto menekankan bahwa hidup ini terlalu berisiko jika dijalani tanpa panduan. Ia mengajak jamaah untuk menengok kembali warisan spiritual dari dua sosok agung: Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW.
Menurutnya, meneladani Nabi bukan hanya soal menghafal sejarah, melainkan menyerap semangat tauhid yang mereka bawa. Ini adalah tentang kesadaran eksistensi memahami bahwa kita diciptakan bukan untuk sia-sia, melainkan untuk mengabdi.
“Seringkali kita cemas soal rezeki atau kesehatan. Padahal, Nabi Ibrahim mengajarkan kita keyakinan total; Allahlah yang memberi makan, dan jika kita sakit, Allahlah yang menyembuhkan,” ujar Gunarto menggambarkan betapa bergantungnya manusia pada Sang Pencipta.
Hati yang Selamat: Satu-satunya Bekal yang Laku
Suasana kajian di SMP Muhammadiyah 05 Semarang semakin hening ketika pembahasan menyentuh realitas yang pasti dihadapi setiap manusia: kematian dan hari kebangkitan.
Gunarto menyoroti sebuah pesan krusial dari Surat Asy-Syu’ara. Ia mengingatkan bahwa di hari akhir nanti, tumpukan aset duniawi, jabatan mentereng, hingga kebanggaan terhadap keturunan, semuanya akan kehilangan nilainya.
“Pada hari itu, tidak ada yang bisa menyelamatkan kita. Harta yang kita tumpuk, anak yang kita banggakan, semua putus. Kecuali satu hal: siapa yang datang menghadap Allah dengan Qalbun Salim, hati yang bersih dan selamat,” tegas Gunarto mengutip esensi pesan Al-Quran.
Kalimat ini seolah menjadi “tamparan” lembut bagi kita yang seringkali terlalu sibuk memoles tampilan luar, namun lupa membersihkan hati dari noda syirik dan penyakit hati lainnya.
Merawat Tauhid, Menjemput Akhir yang Indah
Lantas, bagaimana cara kita memiliki hati yang selamat itu? Gunarto memberikan resep praktis yang bisa diterapkan sehari-hari.
Kuncinya ada pada Ittiba’ atau mengikuti tuntunan Rasul dengan setia. Mulai dari meluruskan tauhid, menjauhi syirik, hingga membasahi lisan dengan dzikir La ilaha illallah.
Beliau juga menekankan pentingnya konsistensi (istiqomah) dalam beribadah dan berdoa. Salah satu doa yang beliau titipkan adalah permohonan perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian, serta harapan terbesar setiap mukmin: meraih husnul khotimah.
“Kita tidak tahu kapan kontrak hidup kita habis. Maka, pastikan setiap detiknya kita isi dengan ketaatan, agar saat panggilan itu datang, kita sedang dalam kondisi terbaik, rindu bertemu dengan-Nya,” tambah Gunarto menutup sesi dengan pesan yang mendalam.
Kajian Selasa pagi ini bukan sekadar majelis ilmu biasa. Ia menjadi pengingat bagi keluarga besar SMP Muhammadiyah 05 dan masyarakat Semarang Utara, bahwa sejauh apa pun kita melangkah mengejar dunia, jalan pulang terbaik adalah jalan yang telah dirintis oleh para Nabi. Sebuah perjalanan menuju ridho Allah dengan membawa hati yang bening.
Baca juga : Tegaskan Kecintaan pada Rasul, Muhammadiyah Jangan Anti Sholawat