Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tegaskan Kecintaan pada Rasul, Muhammadiyah Jangan Anti Sholawat

7 Desember 2025, 21:45 WIB 3 menit baca
Tegaskan Kecintaan pada Rasul, Muhammadiyah Jangan Anti Sholawat

CANDISARI , muhammadiyahsemarangkota.org – Seringkali, kemajuan sebuah gerakan Islam diukur dari seberapa modern sistemnya, namun ada satu hal mendasar yang tidak boleh luntur: kecintaan yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW. Pesan inilah yang menjadi sorotan utama dalam suasana hangat Kajian Ahad Pagi di Masjid Raya Candilama, Semarang.

Di hadapan puluhan jamaah yang memadati lokasi pada Ahad (7/12/2025), KH Muhammad Afif hadir membawa oase kesejukan spiritual. Tidak sekadar berceramah, beliau meluruskan persepsi dan mengajak warga persyarikatan untuk merangkul kembali esensi spiritualitas Islam yang menyentuh hati.

Meneguhkan Identitas Lewat Sholawat

Ada momen menarik ketika KH Muhammad Afif menyampaikan tausiyahnya dengan nada yang tegas namun penuh kasih sayang.

Beliau menyoroti pentingnya ekspresi cinta kepada Rasulullah SAW yang tidak boleh dikesampingkan dalam rutinitas berorganisasi.
Dengan lugas beliau berpesan, “Muhammadiyah jangan Anti Sholawat.”

Kalimat ini seolah menjadi pengingat kuat bahwa sholawat adalah manifestasi iman yang tak terpisahkan dari napas perjuangan kader Muhammadiyah. Kecintaan kepada Nabi bukan hanya ritual lisan, melainkan bahan bakar spiritual dalam menjalankan roda organisasi.

Pesan ini memberikan perspektif segar bahwa modernitas Muhammadiyah berjalan beriringan dengan tradisi spiritual yang mengakar, menjadikan Kajian Ahad Pagi Semarang kali ini terasa lebih menyentuh sisi emosional jamaah.

Tiga Pilar Kunci Kemajuan Muhammadiyah

Lebih jauh, ulama kharismatik ini juga menggarisbawahi bahwa Muhammadiyah adalah Jalan Perjuangan. Agar jalan ini terus terang benderang dan organisasi tetap terdepan, KH Afif membedah resep utamanya. Menurut beliau, ada tiga pondasi kokoh yang wajib dipegang teguh oleh setiap kader.

Pertama adalah Imamah, yang berarti hadirnya kepemimpinan yang kuat dan solid. Kedua adalah Iffah, sebuah sikap mental untuk menjaga diri dari kebatilan dan mensucikan hati dari hal-hal yang tidak benar. Tanpa hati yang bersih, perjuangan akan kehilangan arah.
Poin ketiga yang beliau tekankan adalah semangat untuk selalu berbuat baik.

Kader dituntut membangun cita-cita terdepan demi kemajuan umat, bukan sekadar berjalan di tempat. Ketiga Kunci Kemajuan Muhammadiyah ini menjadi bekal berharga bagi jamaah untuk berintrospeksi dan menata kembali niat dalam berkhidmat.

Ikhtiar Sehat sebagai Penopang Ibadah

Meskipun inti acara berpusat pada santapan rohani yang bergizi, suasana pagi di lingkungan PCM Candisari 1 itu diawali dengan aktivitas fisik yang menyegarkan. Sebelum duduk menyimak kajian, para peserta, yang terdiri dari anggota dan simpatisan, melakukan Jalan Sehat Muhammadiyah mengelilingi kawasan masjid.

Tak hanya itu, panitia juga menyediakan sesi sarapan bersama dan layanan “Totok Punggung” (Topung). Hal ini menjadi latar belakang yang melengkapi acara utama, menyimbolkan bahwa jiwa yang kuat membutuhkan raga yang sehat. Ketua Tabligh PCM Candisari 1 menyebutkan bahwa rangkaian ini adalah upaya menyinergikan kesehatan fisik dan spiritual.

Kehadiran KH Muhammad Afif di Masjid Raya Candilama pagi itu menutup rangkaian kegiatan dengan kesan mendalam. Sinergi antara pesan “jangan anti sholawat”, penguatan ideologi, serta ikhtiar menjaga kesehatan fisik, menjadi paket lengkap yang diharapkan mampu membangkitkan gairah ber-Muhammadiyah yang lebih humanis dan berkemajuan di Kota Semarang.

Baca juga : Menelusuri Jejak Sains Islam: Dari Wahyu Pertama Hingga Puncak Peradaban

Kontributor: Muhammad Fahim Ahsani
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: