Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Menelusuri Jejak Sains Islam: Dari Wahyu Pertama Hingga Puncak Peradaban

7 Desember 2025, 21:04 WIB • 3 menit baca
Menelusuri Jejak Sains Islam: Dari Wahyu Pertama Hingga Puncak Peradaban

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Bayangkan sebuah masyarakat yang awalnya hidup dalam kegelapan moral dan buta huruf, tiba-tiba bangkit menjadi pemimpin peradaban dunia hanya dalam hitungan abad. Transformasi menakjubkan ini tidak dimulai dengan pedang atau harta, melainkan dengan satu kata perintah yang sederhana namun bertenaga dahsyat: “Iqra” atau “Bacalah”.

Fenomena sejarah inilah yang menjadi sorotan utama dalam kajian yang berlangsung hangat pada Ahad (07/12/25). Bertempat di Masjid At Taqwa, kompleks RS Roemani Wonodri, jemaah diajak menyelami tema mendalam “Literasi Iqra’: Menuju Peradaban Sains Islam”.

Hadir sebagai pemateri, Ust. Drs. H. Kasmui, M.Si dari Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, membedah bagaimana wahyu pertama di Gua Hira menjadi titik nol bagi ledakan ilmu pengetahuan yang menerangi dunia.

Pembahasan ini tidak hanya menengok masa lalu, tetapi juga mengajak kita merenung: ke mana perginya semangat itu sekarang?

Lebih dari Sekadar Mengeja Huruf

Dalam paparannya, Ust. Kasmui menekankan bahwa kita seringkali menyempitkan makna “membaca” hanya pada teks tertulis. Padahal, konsep Literasi Iqra yang diajarkan Islam jauh melampaui itu.

“Iqra’ adalah perintah komprehensif untuk menjadi makhluk pembelajar seumur hidup,” tegasnya saat menjelaskan kedalaman makna wahyu pertama tersebut. 

Kasmui menjelaskan bahwa perintah ini mencakup tiga dimensi vital: membaca ayat Qur’aniyah (wahyu tertulis), membaca ayat Kauniyah (alam semesta sebagai laboratorium sains), dan yang terpenting, membaca dengan menyebut nama Tuhan sebagai landasan tauhid.
Inilah filosofi hidup yang sebenarnya.

Iqra adalah gerbang untuk terus tumbuh, di mana seorang muslim senantiasa dalam mode belajar, mengobservasi pola alam semesta, dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Namun, ia mengingatkan sebuah prinsip penting “Pengetahuan bertujuan untuk mengenali kebesaran Allah, bukan untuk kesombongan intelektual,” ujar Ust. Kasmui mengingatkan jemaah agar ilmu selalu berlandaskan iman. 

Jejak Emas Ilmuwan Muslim di Panggung Dunia

Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa Peradaban Sains Islam pernah menjadi kiblat pengetahuan global selama berabad-abad, tepatnya dari abad ke-8 hingga ke-13. Di saat belahan dunia lain masih meraba dalam kegelapan, ilmuwan muslim justru sedang sibuk meletakkan fondasi sains modern.

Siapa yang tak kenal Al-Khawarizmi? Tanpa kontribusinya merumuskan Aljabar, mungkin teknologi digital yang kita nikmati hari ini tidak akan pernah ada. Di bidang kesehatan, dunia berhutang pada Ibn Sina (Avicenna) dengan mahakaryanya The Canon of Medicine yang menjadi buku rujukan dokter di Eropa selama 500 tahun.

Bahkan, kejayaan ini terlihat jelas di Andalusia (Spanyol), di mana perpustakaan Kordoba menyimpan hingga 1 juta jilid buku, menjadi bukti betapa tingginya kecintaan umat Islam kala itu terhadap ilmu pengetahuan.

Refleksi: Mengapa Apinya Meredup?

Namun, roda sejarah berputar. Cahaya peradaban yang begitu terang perlahan meredup. Keruntuhan ini bukan terjadi tanpa sebab. Selain faktor eksternal seperti serangan militer, faktor internal seperti perpecahan politik dan stagnasi intelektual menjadi pemicu utama. Semangat ijtihad dan kebebasan berpikir yang dulu diagungkan, perlahan tergantikan oleh kejumudan.

Panggilan Kembali ke Gerbang Ilmu

Kini, tantangan ada di depan mata kita. Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk beribadah ritual, tetapi juga membingkai pencarian ilmu sebagai jalan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Momentum kajian di Masjid At Taqwa RS Roemani ini menjadi panggilan bagi kita, khususnya warga Muhammadiyah dan umat Islam di Semarang, untuk melakukan “re-aktivasi” semangat wahyu pertama. Menutup kajiannya, Ust. Kasmui menyampaikan pesan yang kuat tentang syarat kebangkitan umat:
“Kebangkitan kembali umat hanya dapat diwujudkan dengan kembali kepada semangat wahyu pertama: sebuah perintah abadi untuk membaca, meneliti, berpikir kritis, dan berinovasi dengan landasan iman,” pungkasnya.

Baca juga : Tawa dan Air Mata di Pesantren Lansia Semarang: Mengupas Satu-Satunya Bekal Abadi Menuju Liang Lahat

Kontributor: Tim media At Taqwa RS Roemani
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: