Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Meneladani Walisongo, Simfoni Dakwah Kultural Muhammadiyah yang Menyejukkan Balaikota

27 Desember 2025, 17:44 WIB 3 menit baca
Meneladani Walisongo, Simfoni Dakwah Kultural Muhammadiyah yang Menyejukkan Balaikota

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Suara denting gamelan yang selaras seketika menyihir ribuan pasang mata di pelataran Balaikota Semarang. Di atas panggung, puluhan perempuan berkebaya melangkah anggun, membawakan tembang-tembang Jawa yang sarat makna. Alunan karawitan ini bukan sekadar hiburan pengisi waktu, melainkan sebuah metode dakwah kultural yang Muhammadiyah pilih untuk menyentuh relung hati masyarakat secara halus dan bersahaja.

Meski matahari kian menyengat, para penonton justru enggan beranjak dari tempat duduk mereka. Gerak gemulai anak-anak dan remaja yang menyatu dengan irama gending seolah membuktikan bahwa tradisi tetap bisa eksis di tengah zaman modern. Fenomena ini memberikan isyarat kuat bahwa nilai-nilai Islam dapat tersampaikan dengan indah melalui kearifan lokal yang tumbuh dari rahim budaya sendiri.

Inspirasi Walisongo dalam Syiar Islam Modern

Muhammadiyah kini kembali menoleh pada strategi dakwah para pendahulu, seperti Walisongo yang sukses menanamkan nilai Islam lewat wayang dan tembang.

Drs. Bambang Supriono, M.Pd., selaku Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PDM Kota Semarang, menginisiasi gerakan ini dengan penuh ketekunan.

Ia memandang seni bukan hanya sebagai tontonan, melainkan tuntunan hidup yang terbungkus dalam balutan estetika.

Sosok pegiat budaya ini telah menggembleng warga Muhammadiyah, khususnya dari wilayah Mijen, sejak tahun 2023. Ia melatih mereka menyanyikan lagu-lagu Islami seperti Assalamualaikum, Rukun Iman, hingga Ayo Sholat dengan iringan musik klasik Jawa yang kental.

“Di zaman Walisongo, dakwah tersampaikan lewat karawitan hingga gending-gending Jawa. Dari situlah kami terinspirasi agar dakwah dapat diterima dengan lapang oleh masyarakat,” tutur Drs. Bambang Supriono dengan mantap.

Melestarikan Pakem Tradisi Sambil Menjaga Kemurnian Pesan

Misi besar LSBO PDM Kota Semarang tidak hanya berhenti pada suara musik, tetapi juga merambah ke dunia pagelaran wayang kulit hingga kethoprak.

Bambang memastikan seluruh pertunjukan tersebut tetap membawa pesan keislaman tanpa merusak pakem atau aturan dasar seni tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.

Komitmen ini bertujuan agar Muhammadiyah bisa merangkul dan mengajak masyarakat mendekat lewat cara yang santun.

Ia menjelaskan bahwa proses menyatukan disiplin seni dengan niat dakwah membutuhkan kesabaran yang luar biasa.

Baginya, menghidupkan organisasi budaya di bawah naungan persyarikatan adalah jalan sunyi untuk mengetuk kesadaran umat tanpa harus menggurui.

“Visi kami sederhana: melestarikan seni budaya Jawa. Muhammadiyah berkomitmen mengangkat seni tradisional agar bisa merangkul, menggandeng, dan mengajak masyarakat mendekat,” ujarnya lirih namun penuh keyakinan.

Dakwah budaya ini mengajarkan kita bahwa iman seringkali hadir lewat rasa, bukan sekadar seruan keras. Di tengah dunia yang penuh kebisingan, alunan gamelan di Balaikota hari itu menawarkan jeda bagi manusia untuk mendengar dengan hati.

Muhammadiyah membuktikan bahwa menjaga kemurnian nilai Islam bisa berjalan beriringan dengan merawat akar budaya. Sebab, seperti gending yang harmonis, pesan kebenaran akan sampai ke dalam jiwa jika disampaikan dengan keselarasan yang indah.

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: