Sudah Kerja Keras Tapi Rezeki Seret? Waspadai 4 Kebiasaan Ini!
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Fenomena membanting tulang seharian namun rezeki terasa cepat habis tanpa sisa sering kali memicu tanda tanya besar di tengah tekanan ekonomi saat ini. Persoalan ini menjadi pengingat bahwa besarnya nominal harta tidak akan pernah menjamin ketenangan tanpa hadirnya keberkahan.
Pesan reflektif ini mengemuka dalam khutbah Jumat yang berlangsung di Masjid At Taqwa Wates, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, pada Jumat (16/10/2026) siang. Bertindak sebagai khatib, Ustadz Raad Noor Fattah mengupas tuntas akar permasalahan tersebut di hadapan para jemaah.
Mengutip rujukan kitab klasik Zadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ustadz Raad memaparkan empat kebiasaan buruk yang kerap menjegal aliran rezeki seseorang. Ia menegaskan pentingnya menjemput nafkah melalui jalan halal agar umur dan harta bernilai ibadah.
“Rezeki yang dilapangkan dan umur panjang adalah bagian dari anugerah Allah Ta’ala yang harus diraih melalui jalan halal,” tegas Ustadz Raad di hadapan para jemaah.
Menghindari Kebiasaan Tidur Pagi dan Lalai Salat
Faktor pertama yang paling sering menyumbat rezeki adalah kebiasaan tidur di waktu pagi (naumus-subhi). Padahal, awal hari merupakan waktu utama yang penuh berkah, di mana Rasulullah SAW secara khusus memanjatkan doa kebaikan untuk umatnya.
Selanjutnya, faktor kedua yang kerap melunturkan keberkahan adalah sikap meremehkan ibadah wajib atau sedikit salat (qillatus-solah). Menurut Ustadz Raad, salat merupakan tali penghubung utama antara seorang hamba dengan Sang Pencipta.
“Ketika seseorang meremehkan salat dan mengabaikan ketakwaan, maka pintu keberkahan rezeki otomatis akan tertutup rapat,” ungkapnya mengingatkan jemaah.
Menjauhi Sifat Malas dan Pengabaian Amanah
Di samping itu, faktor ketiga yang menjadi batu sandungan finansial adalah sifat malas-malasan (al-kasal). Islam menuntut setiap muslim untuk aktif berusaha dan bertawakal, ibarat burung yang terbang pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam kondisi kenyang.
Adapun faktor keempat yang paling merusak aliran keberkahan adalah sifat khianat (al-khiyanah). Sikap curang, ingkar janji, serta menunda pelunasan utang piutang menjadi pemicu utama yang mendatangkan kesusahan hidup hingga akhirat.
Oleh karena itu, Ustadz Raad mengajak seluruh jemaah untuk menjaga kedisiplinan ibadah dan memperbaiki akhlak harian. Sebab, harta yang berkah bukan diukur dari jumlahnya yang besar, melainkan dari ketenangan batin yang mengalir di setiap suapannya.