Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Menggenggam Tangan yang Terpinggirkan, Kisah Dai Komunitas

26 September 2025, 08:00 WIB 4 menit baca
Menggenggam Tangan yang Terpinggirkan, Kisah Dai Komunitas

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Di tengah hiruk pikuk Selasa (23/9/25) siang Kota Semarang, di sudut sebuah rumah makan tak jauh dari jantung organisasi, Dr. AM. Jumai, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Semarang, menyesap tehnya perlahan. Matanya menerawang, bukan ke arah jalanan yang padat, melainkan seolah menembus lorong-lorong sunyi di mana sekelompok manusia memilih—atau dipaksa—untuk bersembunyi. Lorong-lorong itulah kini menjadi “medan perang” baru bagi Muhammadiyah, sebuah gerakan yang ia pimpin: Dakwah Komunitas.

Ini bukan lagi tentang ceramah kolosal di aula megah atau majelis taklim formal di masjid-masjid besar. Ini adalah misi merangkul, sebuah upaya yang lahir dari kesadaran pahit di Muktamar ke-48 di Surakarta. Kala itu, Persyarikatan Muhammadiyah dihadapkan pada sebuah ironi yang mengguncang: pertumbuhan amal usaha (AUM) tidak sebanding dengan pertumbuhan jamaah.

Rumah sakit, sekolah, dan universitas menjulang, tapi basis keanggotaan tak signifikan bertambah. Jawabannya: harus ada pendekatan yang lebih personal, yang mampu masuk ke “sel-sel” terkecil masyarakat.

Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Muhammadiyah Jawa Tengah itu menjelaskan, fenomena tersebut mendorong ijtihad organisasi untuk memisahkan fokus. Majelis Tabligh mengurus dakwah formal, sementara LDK fokus pada yang non-formal. Targetnya? Komunal-komunal berbasis profesi, hobi, atau yang sefrekuensi, termasuk yang paling marginal.

“Tidak semua orang bisa didekati secara massal,” ujarnya, suaranya terdengar tenang namun penuh keyakinan. Ia mencontohkan kaum marginal: PSK, waria, atau mereka yang berada di Lembaga Pemasyarakatan (LP). “Ketika dia mau ikut pengajian massal di Muhammadiyah, dia malu, gengsi, tidak pede. Tapi kalau kita masuk dengan pendekatan kemanusiaan, psikologi, dia bisa masuk.”

Kisah Sunan Kuning, sebuah lokalisasi di Semarang, menjadi saksi nyata betapa efektifnya metode ini. Jumai dan timnya berhadapan dengan 480 (pekerja seks komersial) PSK resmi. Hasil screening mereka mengejutkan: hanya 10% yang benar-benar menjadikannya sebagai tujuan “profesi”. Sisanya? Terpaksa.

“Ada yang dijual suaminya, terlilit utang, pemaksaan,” kisahnya, nadanya berubah serius. Ujung-ujungnya, faktor ekonomi.

Ketika Muhammadiyah masuk dakwah ke sana bukan sekadar dengan dalil agama, melainkan dengan dukungan penutupan lokalisasi—mereka disambut. “Mayoritas setuju. ‘Alhamdulillah kami bisa bebas, bisa pulang,’ kata mereka. Karena kalau pulang sendiri, ancamannya dibunuh, disakiti,” ia menirukan ungkapan penuh harap itu.

Menghitung Biaya Kemanusiaan

Inilah wajah sesungguhnya dari Dakwah Komunitas. Ia menuntut pengorbanan yang tak bisa diukur dengan hitungan pragmatis.

Saat ditanya soal efektivitas, usaha dan biaya yang dikeluarkan, Jumai tak mengelak.
“Kalau hitung-hitungan pragmatis, materialistis, itu enggak cucuk (tidak sepadan),” katanya terus terang.

Namun, ia menekankan, visi mereka adalah jangka panjang. “Paling tidak bisa mengubah paradigma mereka. Bahwa ada ormas yang peduli terhadap komunitasnya, itu dulu sudah luar biasa. Kita sudah mendapatkan tempat.”

Pendekatan ini jauh dari nuansa formal Majelis Tabligh. Fokusnya bukan pada dalil Qur’an dan Hadis secara kaku, melainkan pada teladan-teladan. Ketika berhadapan dengan komunitas pelaku UMKM atau biker di Semarang, timnya tidak hanya berdakwah spiritual, tetapi juga struktural dan kultural.

“Mereka ada kesulitan ekonomi. Maka kita libatkan apa yang mereka butuhkan,” jelasnya seraya menyebutkan program pendampingan UMKM, bantuan permodalan, dan kegiatan sosial.

Secara struktural, LDK menggandeng Dinas Koperasi, Dinas Sosial, bahkan Aparat Penegak Hukum (APH) seperti Polisi dan TNI menggarap mereka.

Integritas sebagai Tameng

Tantangan terbesar dalam dakwah komunitas, kata Jumai adalah karakter da’i-nya. Para dai komunitas harus berhadapan langsung dengan lingkungan yang berisiko.

“Kita harus menyiapkan orang-orang yang mental kuat dan punya skill,” tegas Jumai. Da’i Komunitas condong ke ranah Nahi Mungkar—mencegah kemungkaran—yang menuntut pelibatan power elite dan APH untuk menembus lorong sunyi dengan aman.

Namun, senjata paling utama bukanlah power atau fisik, melainkan integritas. “Kalau kita ini tidak memiliki integritas yang tinggi, masuk ke dunia seperti itu, dakwah hanya diketawain,” ujarnya dengan senyum menyeringai.

Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Unimus ini mengingatkan, integritas membuat seorang da’i Muhammadiyah dihormati oleh preman atau power elite sekalipun. “Tidak pernah punya kasus, tidak pernah punya masalah di masyarakat. Ini modal dalam gerakan dakwah,” pungkasnya.

Dakwah Komunitas adalah napas baru bagi Muhammadiyah. Ini adalah gerakan sunyi yang berani kotor, sebuah janji untuk menggembala kembali jamaah yang tercecer, satu per satu, dengan modal yang jauh lebih berharga dari amal usaha manapun: kemanusiaan dan integritas.

Kontributor: MPI PDM
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: