Menjaga Citra Dakwah dari Kabar Angin dan Link Berbahaya
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org- Grup WhatsApp (WA) adalah urat nadi organisasi di era digital, sebuah backbone yang menjamin koordinasi berjalan cepat. Di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, WA sukses menjadi jalur utama penyampaian informasi penting dari tingkat PDM hingga Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM).
Namun, di balik efisiensi tersebut, tersembunyi sebuah dilema besar: bagaimana menjaga substansi dakwah dan nilai-nilai kaidah Muhammadiyah agar tidak tenggelam dalam banjir hoaks dan “sampah” informasi yang kerap memenuhi ruang percakapan virtual itu.
Inilah tantangan ganda yang kini diemban Sekretaris PDM Kota Semarang H. Suparno S.Ag., M.Si. Sebagai seorang dosen psikologi, ia terbiasa membedah pikiran dan perilaku manusia. Namun, dalam perannya di organisasi, ia harus berhadapan dengan kompleksitas perilaku digital: mengelola ruang-ruang percakapan yang tak terhindarkan, memastikan pesan organisasi yang terstruktur sampai.
Sementara di saat yang sama ia harus membiarkan, bahkan merelakan, ruang-ruang bagi warga yang lebih bebas menjadi tempat bertukar kabar angin.
Gema Hoaks di Dinding Organisasi
Saat ditanya tentang manajemen koordinasi, Suparno tak menyanggah, grup WA adalah kunci. Informasi penting dari PDM ke Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) selalu tersampaikan, meskipun alokasi waktu yang tersedia seringkali sudah mepet.
Ia bahkan memiliki grup WA yang ketat, Grup Ketua dan Sekretaris PCM, yang isinya khusus terkait kegiatan dan organisasi, jauh dari kebisingan yang tidak perlu.
Di grup formal ini, meskipun aturannya tidak tertulis, namun petunjuknya jelas: hanya informasi resmi PDM atau struktur resmi lainnya yang dibagikan. Baik informasi dari PP Muhammadiyah hingga tingkat PRM di lingkungan Kota Semarang. Atau bisa juga informasi yang berkaitan dengan kegiatan organisasi di lingkungan Muhammadiyah kota Semarang yang melibatkan PDM dalam pelaksanaannya
Namun, ia mengakui, ada ruang lain yang lebih longgar. Di grup WA besar yang menghimpun komunitas warga atau keluarga Muhammadiyah Semarang banyak informasi atau pendapat yang kurang akurat atau kurang pas, bahkan tak jarang info yang bersifat hoaks bersliweran di sana.
“Karena semua orang bebas (menyampaikan informasi/pendapat, red.). Kita biarkan,” tambahnya, menunjukkan sikap realistis terhadap dinamika komunikasi komunitas.
Pengakuan ini bukan tanpa beban. Ini adalah dilema humanis: bagaimana memfasilitasi kebutuhan berbagi dan bersosialisasi warga (memberikan ruang bebas) tanpa mengorbankan nilai-nilai dan kaidah dakwah yang dijunjung tinggi.
Di sana, di ruang virtual yang dikendalikan oleh algoritme emosi, pemikiran dari “organisasi sebelah” dan link-link berbahaya bisa masuk tanpa filter. PDM kini harus menjadi filter yang tak terlihat, memastikan pesan inti mereka tetap lurus dan utuh di tengah banjir informasi yang menyesatkan.
Tantangan yang Hilang dan Harus Dibangun Ulang
Perjuangan Suparno dan PDM Semarang bukan hanya soal menjaga kualitas informasi, tetapi juga soal mengumpulkan kembali kepingan data yang hilang.
Di sisi administrasi, PDM Semarang sudah memanfaatkan teknologi. Surat-menyurat kini melalui surat elektonik (email) atau link. Jadwal penceramah pun sudah didigitalisasi. Namun, ada pekerjaan rumah yang jauh lebih besar: membangun dashboard untuk memantau kinerja kegiatan.
Ia menyoroti titik krusial di ranah administrasi: sistem data keanggotaan yang seharusnya menjadi basis data pengambilan kebijakan, malah banyak yang hilang akibat proses migrasi.
“Ini yang mungkin jadi PR kami di sekretariat ini untuk merapikan lagi. Kalau saya harus buat
database baru, nanti yang saya takutkan ini akan berbeda dengan kebutuhan wilayah maupun kebutuhan pusat,” jelasnya , menyoroti risiko ketidakmampuan integrasi data, sebuah masalah yang diperparah dengan kurangnya komunikasi antara sistem wilayah dan pusat.
Kebutuhan akan pelatihan literasi digital, terutama mengenai keamanan siber dan proteksi dari link berbahaya, juga menjadi prioritas mendesak, sesuatu yang diakui belum pernah ada di Semarang. Di tengah semangat digitalisasi, organisasi sebesar PDM harus memiliki “benteng” siber yang kuat agar data dan reputasi tidak mudah dibajak atau diakses pihak tak bertanggung jawab.
Digitalisasi, bagi Suparno, pada akhirnya adalah ujian komitmen. Bukan hanya komitmen terhadap teknologi, tetapi komitmen untuk menjaga integritas informasi, merapikan administrasi yang berantakan, dan yang paling sulit, menjaga hati dan pikiran anggotanya agar tidak tersesat dalam link dan kabar angin di grup-grup WA.
Ia sedang membuktikan bahwa di era algoritme, dakwah yang paling efektif bukanlah yang paling viral, melainkan yang paling terstruktur, aman, dan paling berhasil merawat kepercayaan.
T