Mending Diam Kalau Gak Penting! Ini Alasan Menjaga Lisan dalam Islam
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Seringkali kita lupa bahwa setiap kata yang keluar dari mulut merupakan jendela langsung menuju kondisi hati. Buktinya, tutur kata seseorang tidak hanya sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan nyata dari kualitas iman yang ia miliki. Pesan mendalam ini mengemuka dalam Kultum Sholat Dzuhur yang berlangsung di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang bersama Ustadz Sarmadi, Senin (26/01/2026).
Narasumber kharismatik ini menegaskan bahwa seorang mukmin sejati memiliki kendali penuh atas lidahnya. Pasalnya, lisan merupakan anggota tubuh yang kecil namun menyimpan dampak yang sangat masif bagi kehidupan sosial dan spiritual. Oleh karena itu, menjaga setiap ucapan menjadi agenda wajib bagi siapa saja yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir.
Antara Kata yang Menyejukkan atau Diam yang Menyelamatkan
Selanjutnya, Ustadz Sarmadi mengingatkan jamaah mengenai pesan Rasulullah ﷺ tentang seni berkomunikasi.
Bahkan, pilihan untuk diam jauh lebih baik daripada memaksakan diri berbicara namun berujung pada menyakiti hati orang lain.
Alhasil, setiap muslim harus memikirkan matang-matang manfaat dari setiap kalimat sebelum melontarkannya ke ruang publik.
Mengenai pentingnya kontrol diri ini, sang ustaz mengutip sebuah hadis populer yang menjadi landasan akhlak muslim.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam,” tutur Ustadz Sarmadi di hadapan para jamaah yang menyimak dengan khidmat.
Ternyata, lisan yang tertata dengan baik merupakan bukti paling jujur bahwa seseorang memiliki hati yang bersih dan penuh iman.
Bahaya Tergelincir Akibat Kata-kata Sia-sia
Selain itu, narasumber ini memperingatkan bahwa banyak manusia justru terperosok ke dalam lubang dosa bukan karena tindakan fisik yang berat.
Dampaknya, ucapan yang sia-sia, fitnah, hingga ghibah seringkali menjadi penyebab utama rusaknya hubungan ukhuwah dan kedamaian hati.
Maka dari itu, mengontrol perkataan merupakan bentuk pertahanan diri yang paling efektif dari godaan setan.
Ustadz Sarmadi juga menekankan bahwa lisan yang terjaga akan selalu membawa ketenangan bagi lingkungan sekitarnya.
“Lisan yang baik lahir dari hati yang bersih dan senantiasa mengingat Allah SWT. Menjaga lisan bukan hanya soal ucapan, tetapi juga mencakup sikap hati kita,” tegas penceramah tersebut.
Ternyata, konsistensi dalam berkata benar mampu mempererat tali persaudaraan antar sesama muslim di tengah gempuran informasi saat ini.
Menata Kembali Akhlak Mulai dari Tutur Kata
Kemudian, agenda kultum ini mengajak jamaah untuk mulai memperbaiki diri dari hal yang paling sederhana namun mendasar. Sebab, perbaikan akhlak yang paling nyata bermula dari cara kita berinteraksi dan berbicara setiap hari.
Sejauh ini, kesadaran untuk menjaga lisan akan membawa dampak positif yang luas, mulai dari kedamaian pribadi hingga keharmonisan dalam masyarakat.
Mari kita jadikan setiap kata yang terucap sebagai jembatan kebaikan dan ladang pahala. Ternyata, dengan menjaga lisan, kita sedang menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang mengedepankan kelembutan dan kedamaian.
Mulailah lebih bijak dalam bersuara, agar lisan kita benar-benar menjadi saksi keimanan yang kokoh di hadapan Allah SWT nanti.