Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Menyusul Dua Sahabatnya, Jejak Abadi Tokoh Muhammadiyah Semarang Dr. Choirul Huda

19 Mei 2026, 12:18 WIB 3 menit baca
Tujuh pimpinan pleno PCM Ngaliyan periode 47 berfoto bersama di depan spanduk Musycab 2016. Tiga di antaranya kini telah wafat, termasuk tokoh Muhammadiyah Semarang Dr. Choirul Huda yang berdiri di bagian tengah.
JEJAK PENGABDIAN: Formasi tujuh dari sembilan pimpinan pleno PCM Ngaliyan ke-47 saat momen pelantikan di pelataran joglo TK ABA 54 pada tahun 2016. Dari kiri ke kanan: Alm. Isrob, Masrur, Alm. Sri Barno, Alm. Dr. Choirul Huda (tengah, berkacamata), Anas Hamzah, Solikul Hadi, dan Dr. Harun. Kepergian Dr. Choirul Huda menambah duka bagi jemaah sekaligus kehilangan besar akan sosok teladan dari deretan tokoh Muhammadiyah Semarang. (Foto: Dok. Istimewa/PCM Ngaliyan)

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org Tiga dari tujuh senyum dalam bingkai foto itu kini telah berpulang. Mereka pernah bersama-sama memikul beban umat sebagai tokoh Muhammadiyah Ngaliyan Semarang di pelataran joglo sederhana bertahun-tahun silam. Satu keyakinan teguh mengikat persahabatan mereka untuk terus bergerak dan menebar manfaat. Ketika kabar duka itu pecah pada Selasa (19/5/2026) dini hari tadi, lembaran sejarah kembali mencatat kehilangan besar atas seorang kawan seperjuangan yang setia hingga akhir hayat.

Kisah Pimpinan PCM Ngaliyan dalam Selembar Foto Lawas

Sebuah foto lawas menyimpan memori yang perlahan memudar. Gambar itu merekam senyum tujuh pria bersahaja dari total sembilan anggota pleno saat momen pelantikan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngaliyan periode ke-47 pada 2016 silam. Dua anggota pleno lainnya, yakni M. Najib dan Asep Jauharudin, memang tidak tampak dalam jepretan kamera saat itu. Ketujuh tokoh ini berdiri berjajar di Gedung Dakwah PCM, sekomplek dengan TK ABA 54 lama yang kini telah berubah wujud menjadi jalan tol.

Kepengurusan ini sejatinya berjalan dari 2016 hingga 2023. Pandemi Covid-19 kemudian memperpanjang masa bakti mereka selama dua tahun. Namun, waktu ternyata bergerak teramat cepat merenggut kebersamaan tersebut.

Kini, formasi dalam potret bersejarah itu tak lagi utuh. Satu per satu pimpinan pleno menyelesaikan tugasnya di dunia. Kepergian Dr. Choirul Huda, M.Ag, mantan sekretaris PCM. menambah deretan berita duka Muhammadiyah Semarang, menyusul dua rekannya yang lebih dulu berpulang menghadap Sang Khalik.

“Pimpinan pleno PCM 47 yang sudah wafat ada 3 orang: Pak Isrob, Pak Sri Barno, sekarang Pak Huda,” kenang Anas Hamzah (68), Ketua PCM Ngaliyan Periode Muktamar ke-47.

Rentetan perpisahan ini menorehkan jejak kesedihan mendalam bagi jemaah akar rumput. Publik benar-benar kembali kehilangan sosok teladan dari deretan tokoh Muhammadiyah Semarang.

Dedikasi Lintas Medan: Dari Dosen UIN Walisongo hingga Wirausaha

Sepanjang hidupnya, Dr. Choirul Huda mendedikasikan waktu pada banyak medan juang. Publik tidak hanya mengenal luas sosoknya sebagai akademisi dan dosen Perbankan Syariah di UIN Walisongo. Sejak masa mahasiswa, ia mematri denyut nadinya dengan ragam aktivitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Sosoknya tak pernah berpangku tangan, ia selalu menyalakan semangat kemandirian di tengah berbagai keterbatasan.

“Almarhum orang baik dan gigih dalam berwirausaha,” tutur Anas memberikan kesaksian tulus.

Ketangguhan ini mewujudkan keilmuan ekonomi Islam yang ia ampu. Ia mempraktikkan langsung ilmunya tersebut di kehidupan nyata. Kedekatan Anas dengan almarhum bahkan meresap jauh hingga urusan keluarga. Hubungan erat mereka melampaui batas ruang-ruang rapat organisasi.

“Kebetulan anaknya sekolah MI Nuris sekelas dengan anak saya sampai mondok SMP boarding school Daqu Solo,” tambahnya. Tali silaturahmi tersebut memperlihatkan betapa rekatnya ukhuwah persahabatan mereka sedari dulu.

Perjuangan Sunyi dan Penghormatan Terakhir di Bergota Palir

Perjuangan panjang melawan sakit akhirnya membawa almarhum pada titik perhentian abadi. Selasa dini hari, 19 Mei 2026, suasana senyap menyelimuti ruang perawatan RS Kariadi. Pria tangguh yang meninggalkan dua orang anak ini mengembuskan napas terakhirnya pada usia 50 tahun sekitar pukul 01.00 WIB.

Kabar obituari ini dengan cepat memanggil para pelayat untuk mendatangi rumah duka di Perum Bukit Beringin Asri (BBA) Ngaliyan. Sesuai rencana, keluarga dan jemaah melangsungkan penghormatan terakhir dan prosesi pemakaman pada pukul 13.00 WIB di Pemakaman Bergota 4/5 Palir Podorejo, Ngaliyan.

Kepergiannya meninggalkan legasi pengabdian yang akan terus menginspirasi, mengantarkan sang tokoh Muhammadiyah Semarang ini menuju tempat peristirahatan yang tenang.

Kontributor: Tim MPI PDM
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: