Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Mengubah Air Mata Jadi Harapan: Misi Kuat Milad Aisyiyah ke-109 di Kota Semarang

1 Juni 2026, 07:51 WIB 3 menit baca
Suasana Rapat Periodik pengurus PDA dan PCA Aisyiyah se-Kota Semarang yang sedang membahas strategi dakwah kemanusiaan dan persiapan Milad Aisyiyah ke-109.
Pengurus Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Semarang memberikan pemaparan strategi dakwah kemanusiaan di hadapan para perwakilan cabang dalam Rapat Periodik, Ahad (31/5/2026). Rapat ini menjadi ajang konsolidasi jelang peringatan Milad Aisyiyah ke-109.

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org Aula sebuah Gedung Dakwah Muhammadiyah menjadi saksi bisu berkumpulnya para arsitek peradaban. Ahad kemarin, puluhan perempuan tangguh tersebut sedang merancang strategi menjelang peringatan Milad Aisyiyah ke-109. Melalui momentum ini, mereka bertekad menghadirkan wajah Islam yang benar-benar menyentuh dan memberdayakan manusia.

Rapat periodik tingkat kota tersebut berlangsung di Aula GDM (Gedung Dakwah Muhammadiyah) Kompleks RS Roemani Semarang, pada Ahad (31/5/2026). Dalam agenda ini, jajaran pengurus Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) dan seluruh perwakilan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) se-Kota Semarang turut hadir. Secara khusus, para tokoh perempuan tersebut membedah peta jalan dakwah kemanusiaan. Nantinya, rencana besar ini akan segera mereka gulirkan ke tengah masyarakat luas.

Ketua PDA Kota Semarang, Hj. Aminah Kurniasih M.Pd, memimpin langsung konsolidasi tersebut. Lebih lanjut, Aminah menegaskan bahwa tema peringatan milad Aisyiyah ke-109 ini merupakan wujud perlawanan terhadap zaman yang makin kehilangan rasa kemanusiaan.

“Sebab dakwah tidak boleh berhenti di mimbar. Sebaliknya, dakwah harus turun ke jalan. Kita harus menyentuh anak-anak kurang gizi, mendampingi mereka yang kehilangan pegangan, menguatkan keluarga rapuh, dan menggerakkan ekonomi yang terpuruk,” ujar Aminah.

Aksi Nyata Berantas Stunting

Selanjutnya, panitia siap menggelar puncak peringatan tingkat kota di kampus Unimus Semarang pada Sabtu, 20 Juni 2026. Menariknya, agenda besar ini tidak sekadar berisi pidato seremonial yang menjemukan. Pengurus justru mengarahkan fokus acara pada aksi penyelamatan anak-anak penderita stunting.

Oleh karena itu, setiap pengurus cabang wajib menghadirkan lima anak. Nantinya, para balita ini akan menerima santunan dan bantuan paket gizi khusus. Bagi Aminah, langkah sederhana ini bernilai sebagai fondasi utama untuk membangun masa depan bangsa.

“Ketika banyak orang sibuk memperdebatkan teori, Aisyiyah memilih menyelamatkan generasi,” tegas Aminah. Ia pun menambahkan bahwa masyarakat harus turun tangan memastikan generasi penerus tumbuh sehat sejak dini.

Menggemakan Suara Mubalighat dan Merangkul Mualaf

Tidak berhenti di situ, Sejarah Aisyiyah juga mencatat rekam jejak panjang organisasi ini di berbagai sektor. Sebagai contoh, Majelis Tabligh kini terus mendorong para pendakwah perempuan agar semakin berani tampil. Tujuannya, mereka harus rutin mengisi kultum dalam setiap kegiatan periodik organisasi.

Tentu saja, langkah pembaruan ini sangat penting bagi ekosistem dakwah ke depan. Sebab, suara perempuan berilmu harus terdengar makin nyaring. Dengan demikian, dakwah yang mencerahkan dapat terus menyala di tengah umat.

Selain dakwah mimbar, pembinaan kaum mualaf juga menempati urutan prioritas. Mengingat, mereka yang baru memeluk Islam tidak boleh berjalan sendirian. Maka dari itu, pengurus rutin mendampingi dan menguatkan akidah mereka setiap dua bulan sekali melalui program pembinaan khusus.

Mendorong Kemandirian Ekonomi Umat

Sementara itu, sektor ekonomi terus bergerak mencari ruang pemberdayaan baru. Buktinya, organisasi ini secara masif menggelar pelatihan pengolahan susu kedelai hingga budidaya jamur. Tentu saja, upaya taktis ini bertujuan untuk membangun kemandirian finansial warga bermula dari skala rumah tangga.

Aisyiyah memahami satu hal yang sangat mendasar: kemiskinan tidak cukup dikasihani, tetapi harus diberdayakan,” ungkap Aminah. Lebih jauh, Ia meyakini bahwa pemberdayaan umat membutuhkan kerja nyata di lapangan alih-alih sekadar diskusi.

Sebagai kesimpulan, gerakan ini konsisten menanam benih peradaban selama lebih dari satu abad. Meskipun usia organisasi terus bertambah, semangat pengabdian mereka tidak pernah padam. Pada akhirnya, selama masih ada perut yang lapar dan hati yang rapuh, perjuangan para perempuan ini tidak akan pernah usai.

Kontributor: Imam S Abu Maulana
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: