Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Muktamar Tapak Suci Muhammadiyah: Upaya Membawa Pencak Silat ke Level Global

16 Juni 2026, 22:03 WIB 3 menit baca
Ilustrasi dua pendekar Tapak Suci Muhammadiyah berseragam merah melakukan aksi tendangan bela diri di depan pendopo, dengan spanduk acara dan latar belakang sawah serta penonton.
Ilustrasi aksi pendekar Tapak Suci Muhammadiyah menjelang Muktamar XVI di Semarang. Kegiatan ini diperkirakan akan dihadiri oleh ribuan kader dari berbagai daerah dan mancanegara untuk membahas masa depan organisasi di era digital dan membawa pencak silat ke level global.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org Ribuan pendekar dari penjuru domestik hingga mancanegara bersiap menghadiri Muktamar Tapak Suci Muhammadiyah yang berskala global di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang.

Perhelatan akbar bertajuk Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah ini dijadwalkan berlangsung pada 8 Agustus 2026 mendatang. Panitia memproyeksikan sebanyak 11.439 peserta akan menghadiri dan meramaikan pusat kota Semarang, Jawa Tengah.

Peserta yang hadir terdiri atas unsur Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, hingga perwakilan luar negeri. Kehadiran utusan mancanegara ini menegaskan status pencak silat mendunia yang tidak lagi sekadar menjadi olahraga lokal.

Jaringan Internasional Muhammadiyah di Sektor Budaya

Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, Yudha Kurniawan menegaskan bahwa skala kegiatan ini sangat luar biasa untuk ukuran organisasi bela diri. Struktur kepengurusan yang menembus batas negara menjadi bukti keberhasilan strategi organisasi.

“Tidak banyak organisasi otonom yang mampu menggerakkan puluhan ribu orang dalam satu kegiatan nasional. Tidak banyak pula perguruan pencak silat yang memiliki jaringan organisasi hingga berbagai negara dan mampu menghadirkan perwakilan luar negeri dalam forum permusyawaratan tertingginya,” ujar Yudha Kurniawan seperti dilansir suaramuhammadiyah.id melalui artikel bertajuk Muktamar XVI Tapak Suci dan Api Syiar yang Harus Menyala pada Selasa (16/6/2026).

Fenomena berkumpulnya belasan ribu pendekar ini merefleksikan keberhasilan dakwah kultural yang konsisten. Persyarikatan mampu memanfaatkan seni bela diri sebagai alat pemersatu umat lintas negara selama lebih dari enam dekade. Oleh karena itu, momentum ini menjadi panggung pembuktian prestasi di tingkat dunia.

Sejarah Tapak Suci dan Titik Balik Literasi Digital

Namun, momentum besar pencak silat mendunia ini memicu kegelisahan terkait strategi komunikasi publik. Pengurus daerah menilai publikasi kegiatan sebesar ini masih belum sebanding dengan prestasi para atlet di gelanggang.

“Padahal dari sisi nilai berita, Muktamar XVI memiliki hampir semua unsur yang dicari media massa. Sayangnya, budaya publikasi di lingkungan Tapak Suci masih belum tumbuh sekuat budaya latihan dan kompetisi,” kata Yudha Kurniawan yang juga bekerja di BPMP DIY tersebut.

Selanjutnya, Ia menambahkan bahwa organisasi harus belajar dari sejarah panjang persyarikatan. Sejak tahun 1915, pendahulu Muhammadiyah sudah melek literasi dengan menerbitkan majalah Soeara Moehammadijah sebagai alat perjuangan. Kerangka berpikir inilah yang semestinya diadopsi oleh seluruh jajaran pengurus perguruan saat ini.

Pendekar Media di Ruang Redaksi

Menghadapi era digital, permusyawaratan tertinggi di Semarang ini diharapkan menjadi momentum perubahan. Organisasi kini membutuhkan kader yang menguasai teknologi informasi, manajemen media sosial, hingga jurnalistik. Langkah taktis ini dipercaya mampu memperluas jangkauan syiar organisasi di internet.

Langkah strategis tersebut penting agar sejarah Tapak Suci dan seluruh prestasinya dapat diakses oleh masyarakat luas secara daring. Transformasi ini menjadi syarat mutlak agar gaung organisasi semakin nyaring di tingkat global. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya melihat hasil akhir melainkan juga menghargai proses panjang kaderisasi.

“Tapak Suci membutuhkan pendekar di gelanggang pencak silat. Namun Tapak Suci juga membutuhkan pendekar-pendekar media yang mampu mengabarkan perjuangan perguruan kepada masyarakat,” ucap Yudha Kurniawan saat mengakhiri keterangannya.

Melalui langkah ini, Muktamar XVI diharapkan memicu kesadaran baru bagi seluruh kader. Perjuangan modern kini tidak hanya bertumpu pada kekuatan fisik di matras, melainkan juga lewat narasi positif di layar gawai. Pada akhirnya, syiar yang membahana akan membawa pencak silat Indonesia semakin dikenal di dunia internasional.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: