Oase Spiritual di Musala Hotel, Potret Kebersamaan Jemaah Haji Indonesia Saling Menguatkan Hati Usai Subuh
MAKKAH, muhammadiyahsemarangkota.org– Ruangan musala hotel itu terasa sejuk dan terang benderang. Suasana ini memancarkan ketenangan di tengah riuhnya kota Makkah. Di sinilah, para jemaah Muhammadiyah kloter 28 SOC berkumpul bersimpuh usai menunaikan salat Subuh, Jumat (15/5/2026) pagi ini.
Tak ada keluhan tentang lelahnya raga yang terdengar. Sebaliknya, jemaah menghadirkan desau halus jemari memutar tasbih dan tatapan mata penuh antusias. Mereka tampak siap mereguk kesegaran rohani. Momen ini secara nyata mencerminkan kebersamaan jemaah haji Indonesia yang mengharukan.
Merawat Syukur Melalui Tausiyah di Penginapan Haji
Selanjutnya, Ustadz Taufiq Anas, pengisi kultum bergilir dari jemaah, berdiri bersahaja di hadapan mereka. Ia menyampaikan tausiyah di penginapan haji dengan gaya yang hangat. Latar belakangnya sebagai Dosen Binus University Semarang sejenak ia tanggalkan.
Sebaliknya, ia melebur utuh dalam empati sebagai sesama peziarah. Kemudian, suara lembutnya memecah ketenangan musala. Ia membawa pesan mendalam tentang rasa syukur setibanya di Tanah Suci.
“Alhamdulillah, kita sekarang sudah berada di Makkah. Ke Masjidil Haram, ke Ka’bah, melihat langsung Ka’bah. Berada di satu tempat yaitu kiblat umat Islam, berhaji,” tuturnya mengawali ceramah.
Menariknya, untaian kalimat pembuka ini langsung menyentuh sanubari para pendengar. Mereka menyadari betul besarnya anugerah tersebut. Oleh karena itu, rasa lelah seakan sirna seketika.
Menjaga Kemabruran Setelah Pulang Haji
Oleh sebab itu, kultum haji Muhammadiyah Semarang ini memainkan peran yang sangat krusial. Kegiatan rutin ini menguatkan kembali niat para tamu Allah. Khususnya, saat mereka harus beradaptasi dengan rintangan fisik di Makkah.
Ustadz Taufiq lantas memberikan arahan yang menyejukkan. “Untuk itu, kita harus melaksanakan ajaran-ajaran, ketentuan-ketentuan yang diajarkan oleh Rasulullah, yang diperintahkan oleh Allah,” paparnya penuh keyakinan.
Sebagai puncaknya, sang ustadz menitipkan satu pesan penting sebagai bekal. “Dan setelah ibadah haji kita, harus bisa menjaga kemabruran haji kita,” pesannya dengan tatapan teduh.
Pada titik ini, pancaran cahaya benderang di musala seakan berpadu sempurna. Cahaya itu selaras dengan pencerahan batin yang jemaah rasakan. Tekad mereka semakin bulat untuk memaksimalkan setiap detik untuk ibadah.
Rutinitas kultum setelah shalat fardhu di musala hotel ini bermakna lebih dari sekadar pelengkap ibadah harian. Momen berharga ini menjelma menjadi fondasi tegaknya kebersamaan jemaah haji Indonesia.
Di musala inilah, ustadz dan jemaah saling membasuh kelelahan dengan kesadaran spiritual. Fakta ini membuktikan bahwa kisah inspiratif jemaah