Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Jarak 3,5 Km Bukan Kendala, Intip Siasat Cerdas Jemaah Haji Semarang Sulap Hotel Jadi ‘Pesantren’

12 Mei 2026, 22:26 WIB • 4 menit baca
Seorang pria mengenakan rompi biru bertuliskan 'MUHAMMADIYAH' sedang memberikan kultum menggunakan mikrofon di hadapan jemaah haji pria yang duduk lesehan mendengarkan dengan khidmat di sebuah ruangan hotel.
Suasana kultum (kuliah tujuh menit) rutin yang diikuti jemaah haji KBIHU Muhammadiyah Semarang Kloter 28 SOC seusai salat fardu di musala hotel penginapan mereka di Makkah.

MAKKAH, muhammadiyahsemarangkota.org – Seluruh jemaah haji kloter 28 SOC asal Kota Semarang bersyukur telah menuntaskan rangkaian umrah wajib di awal fase ibadah. Menghadapi tantangan jarak penginapan sejauh 3,5 kilometer dari Masjidil Haram, sebanyak 356 jemaah ini punya strategi unik dengan menyulap hotel layaknya pesantren kilat yang hangat demi menjaga stamina dan asupan spiritual tetap maksimal.

Kelelahan fisik memang sering menjadi tantangan utama di Tanah Suci. Menyadari jarak penginapan ke pusat ibadah yang cukup jauh, rombongan jemaah haji Semarang ini segera menerapkan strategi khusus. Mereka sepakat membagi waktu ibadah secara cermat agar bisa menjaga stamina usai merampungkan rukun haji yang berat.

“Kegiatan sehari-hari di hotel, jamaah salat Zuhur dan Asar hampir semua salat di masjid hotel. Salat Magrib, Isya, Subuh sebagian salat di Masjidil Haram dan sebagian di hotel,” ujar Ketua Kafilah KBIHU Muhammadiyah Semarang, Dr. Mafrukhi, kepada muhammadiyahsemarangkota.org Selasa (12/5/2026) malam waktu Indonesia.

Keputusan logis ini diambil demi merespons kepadatan dan kondisi Masjidil Haram 2026 saat ini. Menariknya, hanya Kloter 28 SOC yang menempati hotel penginapan tersebut secara eksklusif.. Situasi ini memberikan keuntungan tersendiri bagi jemaah untuk beribadah dengan lebih tenang dan berfokus penuh pada kualitas ibadahnya.

Menyulap Hotel Jadi ‘Pesantren’

Berada di dalam hotel ternyata bukan berarti kualitas ibadah mereka menurun. Sebaliknya, jemaah justru secara kreatif mengubah suasana penginapan menjadi layaknya “pesantren dadakan”. Pembinaan spiritual terus mengalir lancar melalui rutinitas kultum dan tadarus bersama. Tips ibadah haji terpadu seperti ini terbukti efektif menjaga kestabilan psikologis jemaah.

Sekelompok jemaah haji pria duduk melingkar lesahan di atas karpet bersama petugas haji yang mengenakan batik TPIHI dan pembimbing KBIHU, tampak sedang berdiskusi santai dan ramah tamah di musala hotel.
Momen pengajian dilanjutkan ramah tamah dan koordinasi lapangan antara Ketua Kafilah KBIHU Muhammadiyah Dr. Mafrukhi, petugas TPIHI, dan jemaah haji Kloter 28 SOC di hotel penginapan, membahas kondisi kesehatan dan rencana ibadah, Selasa (12/5/2026).

“Setiap habis salat fardhu diadakan pengajian singkat sekitar 7-10 menit. Imam dan pengisi kultum digilir per rombongan atau yang mewakili rombongan,” tambah Mafrukhi merinci semangat warganya.

Rotasi tugas imam dan penceramah tersebut ampuh menumbuhkan kemandirian. Meski demikian, tim pembimbing selalu siap siaga memantau dari dekat. Jika ada perwakilan rombongan yang belum siap, Mafrukhi dan Nurbini selaku petugas langsung gesit mengambil alih peran itu.

Di sela waktu istirahat, sebagian besar jemaah lebih memilih tenggelam dalam tadarus Al-Qur’an dan mendengarkan kajian tafsir seputar haji dan umrah.

Visi Fisik: Fokus Wajib, Hindari Forsir Tenaga

Ketenangan batin jemaah saat beribadah di Makkah tidak lepas dari visi pembinaan yang sangat rasional dari tanah air. Ketua Lembaga Pembina Haji dan Umrah (LPHU) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. Ahmad Furqon, menegaskan pentingnya prioritas fisik. Ia mengingatkan bahwa tantangan cuaca panas saat ini sangat berisiko bagi jemaah yang terlalu memfporsir tenaga.

“Ibadah haji banyak mengandalkan pada ketahanan fisik jemaah, sementara pelaksanaan puncak ibadahnya masih cukup lama. Sehingga kita mengimbau jemaah untuk menjaga fisiknya, di antaranya kita tidak menyarankan jemaah melaksanakan umrah sunnah berulang-ulang,” tegas Dr. Furqon dalam wawancaranya kepada muhammadiyahsemarangkota.org usai acara sosialisasi penyembelihan hewan dam di kantor PDM, malam ini.

Kebijakan KBIHU Muhammadiyah ini cukup kontras dengan lembaga lain yang acap kali menargetkan umrah sunnah hingga berkali-kali sebelum puncak haji. Dr. Furqon khawatir jika jemaah memforsir habis stamina mereka, mereka justru tidak mampu melaksanakan rukun inti yakni wukuf di Arafah.

Saat ini, kata Furqon, pemerintah Arab Saudi pun mulai memperketat pergerakan jemaah agar mereka tetap fokus pada tujuan utama haji.

Solusi Cerdas Pengganti Umrah Sunnah

Sebagai alternatif pengganti umrah sunnah yang menguras fisik, LPHU memberikan solusi cerdas. Pembimbing mengarahkan jemaah untuk memperbanyak aktivitas di Masjidil Haram tanpa harus melakukan perjalanan mikat yang melelahkan LPHU menilai cara ini jauh lebih efektif dan berdampak besar secara spiritual bagi jemaah.

“Kita anjurkan memperbanyak di Masjidil Haram atau Nabawi ketika di Madinah. Karena keutamaan di Masjidil Haram 100 ribu kali lipat dibandingkan masjid lain. Selain itu kalau mereka masih ingin menambah bisa melakukan tawaf sunnah, sebagai pengganti tahiyatul masjid, dan pahalanya juga besar,” jelas Furqon merinci solusi tersebut.

Sinergi antara pembimbing di lapangan dan kebijakan strategis dari LPHU sebagai induk KBIHU Muhammadiyah memastikan jemaah Kloter 28 SOC tetap aman. Dengan menunda umrah sunnah, jemaah memiliki tabungan energi yang cukup untuk menghadapi puncak haji.

Pendekatan berbasis sains dan fiqih yang moderat ini terbukti membuat jemaah Semarang lebih tenang dalam menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Pantau terus laporan terkini dan terlengkap setiap hari, kabar jemaah haji Muhammadiyah Kloter 28 SOC Semarang, langsung dari Tanah Suci. Hanya di Muhammadiyahsemarangkota.org

Kontributor: KBIHU Muhamadiyah Semarang
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: