Pentingnya Kepemimpinan Islami untuk Indonesia Emas 2045
MIJEN, muhammadiyahsemarangkota.org- Wacana tentang masa depan Indonesia Emas 2045 kini menjadi pembahasan publik. Salah satu pilar yang dinilai krusial adalah kepemimpinan Islami. Hal ini menjadi topik utama dalam kegiatan Kajian Jumat Pagi Berkah (Kajibah) di Masjid Al-Kautsar, Wonolopo, Mijen, pada Jumat (12/9/2025).
Dalam ceramahnya, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang Dr. H. AM Jumai, SE., MM., menyoroti pentingnya kepemimpinan Islami sebagai kunci utama untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Menurutnya, umat Islam menghadapi tantangan besar yang hanya bisa dijawab dengan penguatan lima pilar utama: akidah, ibadah, ilmu pengetahuan, ekonomi umat, dan ukhuwah Islamiyah.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa dengan menguatkan kelima pilar tersebut, umat Islam diharapkan mampu melahirkan generasi madani yang meneladani masyarakat Madinah binaan Rasulullah SAW, generasi takwa yang kokoh dalam syariat, serta generasi qur’ani yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Dr. AM Jumai mengutip sejumlah dalil Al-Qur’an dan Hadis untuk memperkuat argumennya. Salah satunya adalah firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa: 58 yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”
Dalil-dalil lain juga disebutkan untuk menekankan pentingnya ilmu pengetahuan (QS. Al-Mujadilah: 11), ukhuwah (QS. Al-Maidah: 2), dan ibadah (QS. Al-Baqarah: 208).
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya,” ujar Dr. AM Jumai mengutip Hadis riwayat Bukhari dan Muslim, menegaskan peran krusial kepemimpinan dalam Islam.
Secara ilmiah, gagasan tentang generasi madani didasarkan pada prinsip syura, ukhuwah, dan persamaan derajat yang diterapkan oleh Rasulullah SAW di Madinah. Konsep ini sejalan dengan pandangan para pakar pendidikan Islam, seperti Azyumardi Azra (2013) dan Hidayat (2019), yang menekankan pentingnya karakter berlandaskan Al-Qur’an.
Acara yang diikuti oleh jamaah salat subuh dan masyarakat sekitar ini ditutup dengan salat Isyraq dan dilanjutkan dengan makan bersama. Kegiatan penutup ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga turut menggerakkan ekonomi umat melalui kebersamaan dan pemberdayaan potensi jamaah.