Pesan Idulfitri 1447 H: Ahli Tafsir Peringatkan Kehancuran Bangsa Akibat Hilangnya Keadilan Sosial
GAJAHMUNGKUR, muhammadiyahsemarangkota.org – Hilangnya rasa keadilan dan maraknya gaya hidup mewah yang tidak peka sosial dapat memicu kehancuran sebuah bangsa. Peringatan tegas ini menjadi pesan Idulfitri 1447 H dalam khutbah Dr. KH. Zuhad Masduki, MA di hadapan ribuan jemaah di area parkir Kantor PDAM Kota Semarang, Jalan Kelud Raya, Jumat (20/3/2026).
Fondasi Ketahanan Bangsa
Ahli tafsir dari UIN Walisongo ini menegaskan bahwa ibadah puasa sejatinya bertujuan melahirkan perubahan sikap dan akhlak berbangsa dan bernegara. Perubahan akhlak ini mutlak penting karena menjadi landasan utama ketahanan sebuah bangsa dalam menghadapi berbagai krisis. Oleh karena itu, umat Islam harus menyadari pentingnya mengaplikasikan keadilan dalam Islam secara benar pasca-Ramadan.
“Tanpa akhlak yang baik, suatu masyarakat atau bangsa akan binasa,” ujar Dr. KH. Zuhad Masduki.
Ia kemudian menambahkan bahwa dari sekian banyak nilai moral, penentu utama bertahan atau hancurnya sebuah bangsa adalah tegaknya akhlak keadilan di tengah masyarakat. Lebih lanjut, penceramah menilai tindakan melanggar keadilan sama halnya dengan menentang hukum alam semesta. Dosa akibat ketidakadilan ini pasti membawa dampak buruk yang mampu menghancurkan seluruh tatanan kehidupan manusia.
Ancaman Kemewahan Anti-Sosial
Khatib yang berdiri di hadapan ribuan jemaah ini juga menyoroti fenomena kesenjangan sosial yang nyata. Al-Qur’an secara tegas memberikan ancaman untuk membinasakan suatu negeri yang kehilangan rasa keadilan. Indikator utamanya terlihat ketika sekelompok orang leluasa hidup mewah tanpa mempedulikan kondisi masyarakat sekitarnya yang kurang beruntung.
Jika kondisi kemewahan yang anti-sosial ini terus masyarakat biarkan, maka kehancuran tidak bisa kita hindari. Ceramah Idulfitri menyentuh hati ini mengingatkan kita bahwa keadilan harus tegak secara konsisten, tanpa pandang bulu. Sistem keadilan bahkan harus melampaui batas identitas kelompok maupun afiliasi keagamaan.
“Sesungguhnya Allah menegakkan kekuasaan yang adil sekalipun kafir, dan tidak menegakkan yang zalim meskipun Muslim,” tegas Dr. Zuhad seraya mengutip ungkapan hikmah dari Ibnu Taimiyah.
Pada akhirnya, pesan Idulfitri 1447 H ini menuntut komitmen nyata dari setiap individu yang merayakannya. Seluruh lapisan masyarakat wajib bersinergi mewujudkan pemerataan dan menolong kaum lemah demi menyelamatkan masa depan bangsa dari kehancuran.
Baca juga:
Makna Idulfitri: Transformasi Kesalehan Ritual Menjadi Kesalehan Sosial
Khutbah Idulfitri 2026 di Semarang: Hilang Nurani Memanusiakan Manusia, Derajat Jatuh bak Binatang