Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Makmurkan Umat, Ini Fakta Program Santunan Anak Yatim dari Muhammadiyah di Semarang

28 Juni 2026, 20:55 WIB 3 menit baca
Suasana program santunan anak yatim di Masjid At-Taqwa Nurul Huda Semarang saat Kak Kempho Antaka sedang mendongeng di hadapan anak-anak.
Kak Kempho Antaka memicu semangat anak-anak dengan cerita Islami yang interaktif dalam program santunan anak yatim yang digelar oleh PCM Semarang Timur di Masjid At-Taqwa Nurul Huda, Ahad (28/6/2026). (Foto: Dokumentasi Istimewa)

SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org Pimpinan Cabang Muhammadiyah Semarang Timur menolak membiarkan kotak amal mengendap tanpa dampak nyata bagi masyarakat. Melalui komitmen panjang, organisasi keagamaan ini menghadirkan program santunan anak yatim yang berfokus pada kemakmuran umat sekaligus memuliakan anak-anak yang kehilangan sandaran hidup.

Peristiwa yang penuh dengan nuansa emosional tersebut berlangsung pada Ahad pagi, 28 Juni 2026. Ratusan jamaah dan puluhan anak yatim berkumpul memenuhi ruang utama lantai dua Masjid At-Taqwa Nurul Huda, Jalan Taman Rejomulyo No. 69, Rejosari, Semarang Timur. Di tempat ini, pengurus menghadirkan kebahagiaan lewat acara bertajuk Dongeng dan Santunan Anak Yatim.

Kehadiran mereka di masjid bukan sekadar untuk mendengarkan lantunan ayat suci dalam Pengajian Muharram 1448 Hijriah. Namun, aksi PCM Semarang Timur santunan ini sengaja dikemas secara kreatif untuk menyembuhkan luka batin anak-anak pasca-kehilangan orang tua.

Komitmen Nyata Muhammadiyah Kota Semarang

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Semarang Timur, Supriagung, menjelaskan bahwa konsistensi gerakan ini merupakan pengejawantahan dari instruksi kepemimpinan di tingkat daerah. Oleh karena itu, organisasi harus selalu hadir memberikan solusi nyata di tengah masyarakat.

“Sebagaimana yang diamanatkan Ketua PDM Kota Semarang, Muhammadiyah harus makmur dan memakmurkan. Salah satunya dengan memuliakan anak-anak yatim. Alhamdulillah, kegiatan ini telah memasuki tahun keempat,” ujar Supriagung saat memberikan sambutan.

Menurut Supriagung, penerima manfaat dari agenda ini sengaja dirancang secara inklusif agar menjangkau masyarakat luas. Langkah tersebut menjadi bukti bahwa Muhammadiyah Kota Semarang berkomitmen menyebarkan kebermanfaatan tanpa memandang sekat kelompok.

“Program tetap PCM Semarang Timur ini menyasar penerima yang tidak hanya berasal dari keluarga Muhammadiyah. Kami juga membagikannya kepada siswa-siswi TK ABA serta masyarakat umum di wilayah Kecamatan Semarang Timur,” tambah Supriagung.

Transparansi Alokasi Infak Masjid untuk Anak Yatim

Langkah konkret untuk memuliakan sesama ini bersumber dari tata kelola finansial umat yang sehat dan akuntabel. Pengurus secara konsisten menggalang dana melalui kotak infak masjid untuk anak yatim secara khusus, lalu memperkuat jalurnya lewat kolaborasi bersama berbagai lembaga zakat.

Berkat pengelolaan yang transparan, tahun ini setiap anak menerima paket sembako, aneka jajanan, serta santunan uang tunai sebesar Rp250.000. Meskipun demikian, nominal materi tersebut hanyalah stimulus kecil dari sebuah misi besar kemanusiaan.

Sentuhan emosional justru memuncak saat Kempho Antaka, Ketua Umum Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI), mulai menguasai panggung. Pria yang akrab disapa Kak Kempho itu memecah kesunyian ruang masjid dengan gelak tawa anak-anak lewat untaian cerita Islami yang segar.

Ia menegaskan bahwa metode mendengarkan kisah nabi jauh lebih efektif untuk membangun karakter generasi muda. Oleh karena itu, Sanggar Cergam miliknya terus bergerak menyebarkan nilai-nilai kebaikan secara persuasif.

“Kami membawa misi syiar bil kisah. Kami ingin anak-anak mengenal Rasulullah, para sahabat, dan perjuangan Islam melalui cerita. Mereka seharusnya lebih akrab dengan keteladanan Nabi daripada sekadar tokoh-tokoh kartun,” ungkap Kak Kempho di hadapan para jamaah.

Menjemput Rida Melalui Kehadiran Hati

Ketika acara usai dan gulai sapi selesai disantap, ruang utama masjid perlahan kembali sepi. Anak-anak tersebut melangkah pulang membawa bingkisan dan uang saku di tangan mungil mereka dengan perasaan gembira.

Namun, ketika mereka kembali ke rumah masing-masing, tetap ada satu ruang rindu kepada sosok ayah yang tidak mampu diisi oleh materi. Oleh karena itu, kehadiran hati dan kasih sayang yang berkelanjutan dari lingkungan sekitar menjadi kebutuhan paling mendasar bagi mereka.

Melalui keberlanjutan program santunan anak yatim ini, pengurus mengingatkan masyarakat untuk tidak sekadar berdonasi. Sebaliknya, umat muslim harus ikut serta mendampingi tumbuh kembang dan memberikan perhatian yang utuh kepada anak yatim.

Pada akhirnya, gerakan mengalirkan dana infak masjid untuk anak yatim ini menyimpan rahasia spiritual yang mendalam. Boleh jadi, bukan kita yang sedang menyelamatkan masa depan mereka, melainkan doa tulus anak-anak yatim dalam sunyi yang diam-diam menyelamatkan hidup kita.

Kontributor: Imam S Abu Maulana
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: