Mengapa Memperbaiki Shalat Jadi Kunci Utama Ketenangan Hati dan Keberkahan?
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang menghabiskan waktu seumur hidup mencari rahasia hidup bahagia, namun sering kali melupakan pondasi paling dasarnya. Suasana sejuk menyelimuti Kota Semarang pada Ahad pagi (11/01/2026) saat ratusan jamaah berkumpul mengikuti Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah. Agenda rutin ini menghadirkan narasumber ahli, Ust. M. Muhtar Arifin Sholeh, yang mengupas tuntas kaitan erat antara kualitas ibadah dengan kenyamanan hidup sehari-hari.
Dosen FAI Unissula ini menekankan bahwa setiap masalah yang kita hadapi mungkin saja berakar dari cara kita berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, memperbaiki shalat bukan hanya soal menggugurkan kewajiban, melainkan strategi utama untuk meraih ketenangan hakiki. Kesadaran inilah yang menjadi sorotan utama bagi para peserta yang hadir memenuhi ruang kajian.
Shalat Sebagai Standar Kebaikan dan Penarik Rezeki
Selanjutnya, Ust. Muhammad Muhtar Arifin Sholeh menjelaskan bahwa shalat merupakan barometer utama bagi seluruh amal manusia. Pendidik ini menyebutkan bahwa ibadah ini adalah standar kebaikan sekaligus pencegah perbuatan buruk.
Bahkan, beliau memaparkan bahwa shalat yang dilakukan dengan benar mampu mendatangkan keberkahan dalam rezeki serta menjadi senjata ampuh melawan musuh.
“Shalat itu merupakan keridhaan Allah, cahaya makrifah, dasar iman, dan kunci terkabulnya doa,” ungkap M. Muhtar Arifin Sholeh saat menjabarkan keistimewaan ibadah tersebut.
Maka dari itu, sosok pendidik ini mengajak jamaah untuk tidak lagi menunda-nunda waktu shalat. Shalat yang terjaga akan memberikan syafaat bagi pelakunya, bahkan menjadi pelita saat kelak berada di dalam kubur.
Membangun Pilar Kehidupan yang Kokoh
Selain itu, materi kajian ini mengingatkan bahwa shalat adalah tiang agama sekaligus batas pembeda antara iman dan kekufuran.
Sebagai amal pertama yang akan dihisab, kualitas shalat menentukan bagaimana nasib urusan lainnya di masa depan. Kemudian, pembicara menekankan bahwa shalat di masjid-masjid suci seperti Masjidil Haram dapat meningkatkan rasa syukur dan bakti kepada orang tua.
Akhirnya, pesan utama dari pertemuan pagi itu adalah sebuah rumus sederhana: kebaikan hidupmu sangat bergantung pada kebaikan shalatmu.
M. Muhtar Arifin Sholeh menutup kajian dengan mengajak semua yang hadir untuk menjadikan shalat sebagai kebutuhan, bukan beban. Mari kita mulai memperbaiki diri dengan memperbaiki sujud kita, karena di sanalah letak kunci kebahagiaan sejati yang tak pernah salah alamat.