Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Mengapa Shalat Jadi Satu-satunya Pesan Terakhir Rasulullah yang Paling Menakutkan?

16 Januari 2026, 16:03 WIB 2 menit baca
Drs. KH Muhammad Saidun, M.Ag sedang menyampaikan khutbah di balik mimbar kayu cokelat di Masjid Raya Candi Lama Semarang, di hadapan jamaah pria lansia yang duduk menyimak dengan khidmat
Pesan tajam dari langit: Drs. KH Muhammad Saidun, M.Ag menyampaikan makna mendalam Isra Mi’raj di Masjid Raya Candi Lama Semarang, Jumat (16/01/2026). Beliau menekankan bahwa shalat adalah pesan terakhir Rasulullah SAW yang harus dijaga sebagai benteng kokoh untuk menghindari kerugian abadi di akhirat

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Pernahkah Anda membayangkan apa yang akan terjadi jika benteng terakhir dalam hidup Anda runtuh? Di tengah peringatan Isra Mi’raj yang penuh khidmat pada Jumat (16/01/2026), Masjid Raya Candi Lama Semarang mendadak hening saat sebuah pesan tajam disampaikan. Ternyata, momen 27 Rajab ini bukan hanya soal mengenang perjalanan sejarah, melainkan tentang menyelamatkan nasib akhirat kita melalui makna Isra Mi’raj dan shalat.

Drs. KH Muhammad Saidun, M.Ag, sang nakhoda Takmir masjid, tidak ingin jamaah pulang dengan tangan hampa. Sosok kharismatik ini menegaskan bahwa shalat adalah “oleh-oleh” paling eksklusif yang dijemput langsung oleh Rasulullah SAW dari langit ketujuh. Oleh karena itu, jika tiang ini goyah, maka seluruh bangunan identitas kita sebagai seorang muslim sedang berada dalam ancaman besar.

Antara Keberuntungan dan Kerugian Abadi

Selanjutnya, Kyai Saidun membedah realitas yang sering kita abaikan. Beliau menegaskan bahwa Tuhan akan menginterogasi amalan shalat lebih dulu di hari kiamat nanti.

Bahkan, sosok pengasuh umat ini menyebut shalat sebagai pembeda nyata antara kejujuran iman dan kemunafikan.

Tanpa shalat yang terjaga, keberuntungan dunia hanyalah fatamorgana. Hal itu justru akan berujung pada kerugian abadi bagi pemiliknya.

“Jika shalatnya baik, hamba itu beruntung. Namun jika rusak, ia pasti merugi,” tegas tokoh agama ini dengan suara bergetar. Maka dari itu, menjaga kekhusyukan adalah kebutuhan darurat bagi pencari keselamatan.

Misteri ‘Sungai’ Penghapus Dosa di Rumah Kita

Selain itu, sebuah perumpamaan luar biasa hadir untuk menyentuh logika jamaah. Bayangkan ada sungai jernih mengalir tepat di depan rumah kita.

Kita mandi di sana sebanyak lima kali setiap hari. Dampaknya, mungkinkah ada kotoran yang masih tersisa? Tentu tidak.

Kemudian, Kyai Saidun menekankan fungsi ajaib shalat lima waktu tersebut. Shalat bekerja otomatis membersihkan noda hitam di hati jika kita melakukannya dengan benar.

Pemimpin spiritual ini menutup khutbahnya dengan ajakan kuat. Beliau meminta jamaah menegakkan shalat mulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga.

Ternyata, menjaga shalat bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ini adalah cara kita memastikan diri tetap “bersih” di tengah dunia yang makin kacau. Shalat menjadi benteng kokoh yang menjaga kita dari perbuatan keji dan mungkar.

Kontributor: Tim Media & Komunikasi Masjid Raya Candi Lama Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: