Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Reputasi Digital Bukan Hanya Soal “Gencar Posting”, Tapi Bukti Nyata di Publik!

22 November 2025, 21:41 WIB 4 menit baca
Reputasi Digital Bukan Hanya Soal “Gencar Posting”, Tapi Bukti Nyata di Publik!

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Membangun citra merek (branding) organisasi di ruang digital tidak cukup dengan gencar posting. Strategi harus diubah: dimulai dari strategi memecahkan masalah nyata yang dirasakan publik dan membuktikan janji itu di lapangan.

Inilah inti dari Workshop Reputasi Digital dan Rapat Kordinasi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Se-Kota Semarang yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang. Acara ini secara khusus membahas produkksi berita dan penguasaan teknik media sosial dengan memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI).

Workshop ini berlangsung pada Sabtu, 22 November 2025, bertempat di Hotel Candi Indah Convention. Kegiatan ini diikuti oleh 90 peserta dengan melibatkan perwakilan Sekretaris PCM, tim MPI PCM, Organisasi Otonom (Ortom), dan Unsur Pembantu Pimpinan (UPP) PDM Kota Semarang.

Branding: Janji, Reputasi: Bukti

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Drs. Nurbini, M.S.I., membuka acara ini dengan memberi penekanan pada perbedaan mendasar antara kedua konsep tersebut. Menurutnya, branding adalah sisi aktif organisasi, yaitu janji atau “apa yang ingin kita katakan tentang diri kita”. Sebaliknya, reputasi adalah penilaian publik, atau “apa yang orang lain katakan tentang kita berdasarkan pengalaman mereka”.

Nurbini menegaskan, reputasi yang baik hanya bisa dilahirkan dari pembuktian janji tersebut. Kualitas, kredibilitas, integritas, kinerja, dan etika harus dijaga agar reputasi digital organisasi tetap positif.

Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo itu berharap, melalui penguasaan branding digital dan pemanfaatan AI, Muhammadiyah dapat semakin dikenal luas dan mendapatkan reputasi yang lebih baik lagi dari masyarakat.

Strategi Branding yang Menjadikan Audiens Pahlawan

Lantas, bagaimana organisasi merancang branding yang tepat? Raka Manggala, Branding Founder Kolamide.id, menjelaskan bahwa branding adalah tentang persepsi, yang harus diwujudkan melalui siklus terstruktur.

Siklus ini dimulai dari menggali kebutuhan publik (Customer Insight), lalu menyiapkan solusi nyata (Problem Solving), dan merancang komunikasi yang efektif.

Dalam komunikasi merek, Raka menyarankan agar organisasi menggunakan kerangka cerita yang menjadikan audiens sebagai Hero (Pahlawan) yang memiliki masalah, sementara organisasi berfungsi sebagai Guide (Pemandu) yang menawarkan solusi.

Puncak siklus ini adalah Brand Proofing. Ini adalah tahap pembuktian janji yang meliputi transparansi, akuntabilitas, dan menunjukkan dampak nyata dari kiprah yang dilakukan organisasi. Ia mengingatkan, “Pesan yang rumit akan membuat orang bingung dan pergi. If you confuse, you lose.”

Teknik Medsos: Fokus dan Konsisten

Menyambung strategi komunikasi Raka, Digital Manager Tribun Jateng, Abduh Immanulhaq, memberikan kiat teknis operasional media sosial. Ia menjelaskan bahwa dalam arus informasi saat ini, pesan harus jelas dan konsisten.

Organisasi harus menentukan satu pesan inti yang jelas dan menyampaikannya secara berkelanjutan. Abduh juga menekankan pentingnya memilih platform berdasarkan segmentasi audiens.

Dalam hal produksi konten, ia menyarankan penggunaan storytelling yang sederhana untuk postingan teks. Untuk video, format video pendek (short video) lebih efektif dibandingkan video panjang. Kunci keberhasilan strategi ini adalah konsistensi unggahan.

Kesatuan Identitas dan Cross Follower Jadi Prioritas

Untuk memastikan semua pesan tersampaikan dengan baik dan seragam, Ketua MPI PDM Kota Semarang, Hadi Santoso, S.T. M.Si., menyampaikan target utama Rapat Koordinasi (Rakor) ini.

Hadi Santoso menargetkan adanya kesatuan branding. Implementasi “Islam Berkemajuan” harus terwujud dalam desain, flyer, dan semua kegiatan yang diselenggarakan, mengacu pada satu tema besar yang seragam.

Guna membantu pertumbuhan media persyarikatan secara masif, MPI mendorong jaringan relawan aktif dari PCM, Organisasi Otonom (Ortom), dan Amal Usaha (AUM) untuk melakukan strategi cross follower.

“Harapannya terjalin kerjasama, ada cross baik itu media sosial maupun pemanfaatan media online, website, YouTube, IG dan sebagainya… untuk kemudian memberikan mengabarkan tentang apa yang ide gagasan dan apa yang sekarang dilakukan oleh Muhammadiyah Kota Semarang,” tegas Hadi Santoso.

Dalam workshop tersebut para peserta juga diajari pembuatan konten berita dan copywriting dengan bantuan AI atau kecerdasan artifisial oleh Agung S Bakti, Kordinator Media Center MPI PDM Kota Semarang. “Dengan bantuan AI pembuatan produk jurnalistik dan konten media sosial menjadi jauh lebih cepat dan lebih mudah dengan kualitas tak kalah dengan para profesional media,” tegas Agung.

Sebagai tindak lanjut, rangkaian acara ini turut menyosialisasikan Brand ID Muhammadiyah untuk keseragaman identitas. Sosialisasi ini dibawakan oleh Kepala Kantor Sekretariat PDM Kota Semarang, Andree Wijaya, sejalan dengan peluncuran brand guideline dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Sementara itu, untuk mendorong jumlah volume produksi konten berita dan media sosial dari setiap cabang, organisasi otonom dan masjid-masjid Muhammadiyah, pihak MPI juga memberikan rompi dan ID card peliputan relawan media kepada para peserta workshop. Rompi berwarna biru dongker dan ID card ini menjadi seragam dan identas resmi para relawan media sebagai wartawan Muhammadiyah di lapangan.

Baca juga:

Workshop Reputasi Digital dan Rakor MPI PCM Se-Kota Semarang

Diberi Rompi dan ID Card Media, Kakek 70 Tahun Ini Resmi Jadi ‘Wartawan Muhammadiyah’

Kontributor: Haikal
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: