Sikap Muhammadiyah Terhadap Palestina: Genosida Bukti Kegagalan Barat
BANDUNG, muhammadiyahsemarangkota.org – Menegaskan kembali Sikap Muhammadiyah terhadap Palestina, Haedar Nashir menyoroti bagaimana kekuatan global gagal menghentikan kekejaman, yang ia sebut sebagai runtuhnya kemanusiaan. Fenomena ini menjadi alarm keras bagi masyarakat internasional bahwa tatanan dunia sedang tidak baik-baik saja.
Runtuhnya Moralitas Global
Dunia saat ini seolah kehilangan arah di tengah gempuran kekerasan yang menimpa warga sipil. Haedar Nashir menilai bahwa genosida yang terjadi merupakan titik di mana humanisme sekuler luluh lantah. Nilai-nilai kemanusiaan yang sering diagungkan oleh negara-negara maju ternyata tidak mampu mencegah penghancuran kedaulatan sebuah bangsa.
Ketidakmampuan hukum internasional dalam menghentikan agresi ini menunjukkan adanya kegagalan peradaban Barat. Alih-alih membawa perdamaian, struktur politik global saat ini justru terlihat mandul saat menghadapi ambisi neo-kolonialisme modern. Oleh karena itu, perjuangan demi Kemerdekaan Palestina kini menjadi standar moral baru bagi keadilan dunia.
“Segala paradigma modern terus dibangun seakan-akan tidak pernah dan tidak akan pernah dirobek oleh peristiwa yang sama. Tetapi apa yang terjadi, bahwa sejak satu dekade ini sejak 1948, dan dalam kurun yang terakhir ini paradigma yang pro humanisme itu nyaris gagal,” ungkap Haedar pada Ahad (8/3/2026) malam di Masjid Salman ITB dikutip dari Muhammadiyah.or.id (8/11/2025).
“Banyak sekali lalu lintas kepentingan. Jangankan di level negara, di level ummah, di kelompok ummah saja betapa tak mudahnya merawat kemandirian, persatuan, dan orientasi bersama untuk membangun peradaban Islam,” tuturnya.
Urgensi Persatuan Dunia Islam
Selain mengkritik tatanan Barat, Haedar juga menyoroti kondisi internal negara-negara Muslim. Ia menegaskan bahwa persatuan dunia Islam adalah syarat mutlak untuk menghadapi tantangan zaman. Meskipun pesan perdamaian dan persaudaraan sudah tertuang jelas dalam nilai teologis, realitas politik yang kompleks sering kali menjadi penghambat utama dalam mewujudkan Kemerdekaan Palestina.
“Dunia muslim yang berbasis iman ini tentu harus bersaudara, dan ketika ada banyak hal yang membuat mereka bertengkar semestinya mereka islah atau berdamai. Agar mereka memperoleh rahmat Tuhan,” tambahnya lagi.
Lebih lanjut, ia mengingatkan kembali masa keemasan Islam antara tahun 700 hingga 1200 masehi. Kala itu, kosmopolitanisme Islam berhasil menyatukan peradaban dan memajukan kemanusiaan secara global. Sejarah ini seharusnya menjadi pemacu semangat bagi umat untuk kembali mandiri dan berdaulat dalam menentukan nasib bangsa.
Menghadapi Krisis Kemanusiaan Global
Saat ini, kita semua sedang berdiri di tengah krisis kemanusiaan global yang sangat nyata. Tragedi yang menimpa Palestina bukan sekadar masalah agama, melainkan masalah kemanusiaan universal yang menuntut tindakan konkret. Kita tidak boleh membiarkan ketidakadilan terus berlanjut tanpa suara yang tegas dari seluruh penjuru dunia.
Baca juga :
Tarawih Spesial, Safari Syekh Palestina: Menguak Kondisi Gaza Terkini Maret 2026
Jamaah Masjid Baitul Wahid Menyambut Hangat Syekh Tawfiq Rashed Muhammad Al Husein dari Palestina