Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Snack Dari Narkoba? Jangan Tertipu! Narkoba Sekarang Banyak Menyamar

15 November 2025, 21:32 WIB 2 menit baca
Snack Dari Narkoba? Jangan Tertipu! Narkoba Sekarang Banyak Menyamar

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Tidak ada yang menyangka bahwa bentuk narkoba di era sekarang bisa menyerupai brownies, keripik, bahkan vape rasa buah. Namun inilah kenyataan yang disampaikan Jamaludin Ma’ruf S.Farm., Apt., Ketua Tim Kerja Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Jawa Tengah, dalam Pengajian PRM Sekayu yang digelar di Masjid At-Taqwa Sekayu, Jumat (14/11/2025).

Dengan gaya penyampaian lugas dan terbuka, Jamaludin mengajak masyarakat melihat bahaya narkoba dari sudut yang jarang disadari: narkoba kini bukan hanya berbahaya, tapi juga semakin sulit dikenali.

Narkoba Banyak Menyamar Brownies Ganja, hingga Vape: “Semua Bisa Menipu Mata”

Jamaludin membuka sesi dengan fakta mengejutkan: ada 1.301 jenis narkoba di dunia, dan jumlah itu terus bertambah seiring perkembangan modus penyelundupan.

“Sekarang narkoba bukan cuma serbuk atau pil. Ada yang bentuknya keripik harga tiga juta rupiah, brownies ganja 400 ribu per loyang, bahkan vape elektrik yang isinya campuran zat berbahaya,” jelasnya.

Dari data yang disampaikan BNN Jateng, perkembangan bentuk narkoba memang semakin “ramah mata” dan mudah menyamar sebagai makanan atau barang sehari-hari:

Keripik pisang metamfetamin, Brownies ganja, Catridge vape berisi zat berbahaya seperti THC, ketamin, Tembakau sinte, Happy Water (cairan meth), Kertas LSD

“Kalau masyarakat tidak waspada, narkoba jenis baru ini bisa masuk ke rumah tanpa disadari,” lanjutnya.

Barangnya Makin Cantik, Tapi Dampaknya Makin Jahat

Jamaludin tidak hanya menjelaskan bentuknya, tetapi juga efek mematikannya.
Ia mencontohkan penyalahgunaan obat bebas ketika dikonsumsi berlebihan—misalnya minum 10 saset komix atau overdosis dextromethorphan yang bisa mengakibatkan: halusinasi berat, kehilangan koordinasi tubuh, bahkan kematian.

“Ini bukan sekadar barang haram. Ini mesin perusak. Pangkal kejahatan. Pecandu narkoba itu suka bohong, suka menyakiti diri sendiri dan orang di sekitarnya,” tegasnya.

BNN Jateng dalam paparannya juga menunjukkan bukti-bukti penyelundupan yang makin ekstrem: sabu disembunyikan di sandal, kaligrafi, penyaring air, hingga dimasukkan ke tubuh.

Data nasional dan UNODC menunjukkan bahwa pengguna narkoba paling banyak berasal dari kelompok usia produktif 15–35 tahun.

Jamaludin menjelaskan bahwa anak muda menjadi kelompok paling rentan karena rasa ingin tahu yang tinggi dan kecenderungan menganggap bentuk narkoba yang menyerupai makanan, minuman, atau vape sebagai sesuatu yang aman.

Padahal, menurutnya, justru penyamaran itulah yang membuat narkoba jenis baru semakin mematikan dan sulit dikenali.

Ia menegaskan bahwa upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat. Lingkungan, keluarga, dan masyarakat harus bergerak bersama karena ancaman narkoba kini semakin dekat dan semakin licik dalam menyasar korban.

Jamaludin juga mengingatkan bahwa segala sesuatu yang merusak akal memiliki konsekuensi besar, bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga masa depan seseorang.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: