Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Hanya 3 Ayat! Rahasia Syukur dan Perintah Kurban bagi Muslim

1 Mei 2026, 21:22 WIB 3 menit baca
Gambar ilustrasi digital yang menampilkan seekor sapi berwarna hitam sedang merumput di halaman hijau yang luas pada waktu senja atau fajar. Di latar belakang, berdiri megah sebuah masjid berwarna putih dengan kubah besar dan menara tinggi yang menjulang ke langit yang berwarna jingga keunguan. Suasana terasa tenang dan religius dengan beberapa burung yang terbang rendah di kejauhan. Komposisi visual ini menggambarkan persiapan spiritual menjelang ibadah kurban.
Sebuah ilustrasi yang menggambarkan kaitan erat antara nikmat Allah dengan kewajiban berkurban, sebagaimana disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang (1/5/2026). Khutbah tersebut menekankan bahwa menyembelih hewan kurban adalah cara bagi muslim untuk "menyembelih" sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan dalam diri.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak umat muslim menghafal Surah Al Kautsar sebagai surat terpendek, namun jarang yang menyadari kekuatan raksasa di balik tiga ayatnya. Di balik ringkasnya kalimat tersebut, tersimpan sebuah “rumus” besar tentang bagaimana cara mengelola nikmat agar tidak berujung pada kesia-siaan. Kesadaran inilah yang menjadi inti pesan dalam khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang, Jumat (1/5/2026).

Ustadz Saidun hadir memberikan perspektif mendalam mengenai surah ini di hadapan para jemaah. Ia menjelaskan bahwa nama “Al-Kautsar” merujuk pada nikmat yang sangat banyak serta sebuah telaga istimewa di surga bagi Nabi Muhammad ﷺ. Namun, poin yang paling menarik adalah bagaimana surah ini menghubungkan secara langsung antara nikmat yang melimpah dengan kewajiban melakukan pengorbanan nyata.

Ustadz Saidun menekankan bahwa ayat kedua surah ini merupakan perintah tegas bagi siapa pun yang merasa hidupnya berkecukupan. Shalat dan kurban bukan sekadar ritual tahunan yang berlalu begitu saja tanpa makna. Sebaliknya, kedua ibadah tersebut adalah wujud syukur paling konkret yang melatih manusia untuk melepaskan ego pribadinya demi kepedulian sosial.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah,” kutip Ustadz Saidun saat membacakan ayat 1-2 Surah Al Kautsar.

Peringatan Keras bagi Pemilik Kelapangan Rezeki

Terkait ibadah kurban, terdapat sebuah peringatan yang cukup menggetarkan hati bagi mereka yang mampu namun enggan berbagi. Ustadz Saidun mengingatkan jemaah akan sebuah hadis Rasulullah ﷺ yang melarang orang berkemampuan namun tidak berkurban untuk mendekati tempat shalat. Hal ini membuktikan bahwa Islam memberikan perhatian yang luar biasa besar terhadap aspek kemanusiaan dan kedermawanan.

Kurban sejatinya menjadi ajang untuk mengasah keikhlasan batin serta empati terhadap sesama yang membutuhkan. Oleh karena itu, bagi muslim yang memiliki kelapangan rezeki, ibadah ini merupakan momen emas untuk membuktikan ketakwaannya. Dengan menyembelih hewan kurban, seseorang sebenarnya tengah menyembelih sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan dalam dirinya.

Selanjutnya, Ustadz Saidun menjelaskan bahwa orang yang justru membenci jalan kebaikan ini akan terputus dari rahmat Allah SWT. Makna ayat ketiga dalam Surah Al Kautsar menegaskan bahwa kemuliaan hanya akan datang kepada mereka yang mau berbagi. Akhirnya, pengorbanan harta tersebut akan bertransformasi menjadi keberkahan yang terus mengalir dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadikan Rasa Syukur sebagai Pedoman Hidup

Melalui khutbah yang menyentuh ini, jemaah mendapatkan ajakan untuk menjadikan nilai-nilai Surah Al Kautsar sebagai standar hidup. Hidup yang penuh syukur akan melahirkan pribadi yang ringan tangan dalam membantu kesulitan orang lain. Harapan besarnya, setiap muslim tidak lagi ragu untuk mendonasikan sebagian rezekinya demi kemaslahatan masyarakat yang lebih luas.

Kesederhanaan surah ini memberikan pelajaran berharga bahwa tindakan kecil yang konsisten jauh lebih baik daripada niat besar tanpa bukti. Dengan memperbanyak ibadah dan berbagi, setiap individu dapat meraih ketenangan batin yang sejati. Khutbah pun berakhir dengan doa agar setiap jemaah mendapatkan kekuatan untuk terus menebar manfaat di mana pun mereka berada.

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami,” tegas Ustadz Saidun mengutip hadis riwayat Ibnu Majah sebagai penutup pesan spiritualnya.

Kontributor: Halim Junior
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: