“Tangan Senyap” Muhammadiyah Lawan Judi dan Miras di Semarang
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org- Semarang, di balik gemerlap lampu malam dan hiruk pikuk jalur pantura, menyimpan labirin gelap yang tersembunyi. Ini bukan sekadar perjudian di pojok gang atau peredaran miras di pinggir jalan; ini adalah jaringan laten, akar kemaksiatan yang terentang kuat, lebih terorganisir dari yang terlihat di permukaan. Sebuah dunia “metafisik” yang tak nampak, yang didukung oleh oknum, germo, hingga bandar kuat.
Melawan kegelapan ini tak bisa dengan barisan massa dan teriakan lantang semata. Dr. AM. Jumai, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, tahu betul konsekuensi dari konfrontasi frontal. Bagi aktivis nahi mungkar yang juga seorang akademisi ini, perlawanan itu haruslah sunyi, cerdas, dan bermitra dengan kekuasaan. Ini adalah seni mengolah data akurat menjadi ‘amunisi’ persuasif, menjauh dari pertempuran jalanan menuju meja perundingan dengan para ‘Power Elite’.
Bagi Jumai, dakwah Nahi Munkar bukanlah tugas sembarangan, sebab ia menuntut tantangan dan persiapan yang lebih berat dibandingkan dakwah Amar Ma’ruf. Ia berpendapat bahwa dakwah ini tak boleh dilakukan oleh “sembarang orang”.
Muhammadiyah, menurutnya, perlu meneladani strategi dakwah Nabi Muhammad SAW yang didampingi oleh empat sahabat dengan peran dan latar belakang berbeda. “Kanjeng Nabi Muhammad itu dalam perjalanan dakwahnya didampingi empat sahabat yang memiliki latar belakang berbeda,” jelas Dr. Jumai dalam perbincangan santai dengan muhammadiyahsemarangkota.org, baru-baru ini.
Sahabat pertama adalah Abu Bakar, seorang tokoh karismatik yang merupakan representasi sosok pimpinan yang disegani di era sekarang. Sosok kedua adalah Umar bin Khattab, orang yang sangat pemberani, diibaratkan mantan preman atau penguasa wilayah yang memiliki pengaruh besar.
Selanjutnya ada Usman bin Affan, pengusaha kuat dari sisi mal (harta), bahkan wakafnya masih dimanfaatkan hingga kini. Terakhir, Saidina Ali, yang dikenal cerdas, seorang ilmuwan, dan ahli administrasi.
Keempat peran sahabat inilah yang menjadi cetak biru bagi strategi dakwah Nahi Munkar Muhammadiyah. Jika ingin sukses, Gerakan ini harus membagi peran dan melibatkan “Power Elite”, yaitu penguasa, pengusaha, dan pihak keamanan atau aparat penegak hukum (APH).
Stop Apatis, Rangkul Kekuasaan Lokal
Muhammadiyah, kata Jumai, pantang apatis terhadap kekuatan politik dan kekuasaan yang ada. Pelibatan ini harus dilakukan di segala tingkatan, mulai dari Presiden, Gubernur, Wali Kota, hingga Lurah, RW, dan RT.
Kekuasaan lokal, seperti Ketua RT atau RW, seringkali diremehkan padahal merupakan wilayah dakwah yang sangat nyata dan strategis. Pengabaian terhadap kekuatan lokal ini terbukti berakibat fatal.
Dr. Jumai mencontohkan kasus di Kabupaten Lamongan atau Mangkang, Semarang Barat, di mana papan nama hingga masjid Muhammadiyah gagal berdiri atau dirobohkan karena tidak adanya penguasa lokal yang peduli terhadap Muhammadiyah.
Karena itu, sambung Jumai, diktum Muktamar Muhammadiyah di Makassar mewajibkan kader dan simpatisan untuk pantang menolak ketika diangkat sebagai Ketua RT atau RW. Ini sebuah penegasan strategis tentang pentingnya penguasaan wilayah.
Strategi Senyap: Data Akurat Melawan Bandar
Dalam konteks pemberantasan penyakit masyarakat di Semarang, Muhammadiyah memilih jalan yang berbeda. Jumai mengakui bahwa komunitas kemaksiatan, bandar, oknum, germo, dan prema, memiliki akar kekuatan yang kuat dan terorganisir di dunia laten. Konfrontasi langsung hanya akan memicu kericuhan dan kerugian, sebab mereka bisa menyiapkan “personel keamananan” mereka sendiri dalam jumlah yang jauh lebih besar.
“Maka jangan [bergerak] sendiri yang mancing,” katanya tegas. “Jangan Kokam (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah; satgas keamanan Muhammadiyah, red) sendiri yang mancing. Kokam itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aparat kepolisian atau tentara.”
Strategi yang dilakukan adalah “Tangan Senyap” dengan menggunakan data yang sangat lengkap dan akurat. Timnya tidak hanya menginventarisir titik lokasi dan pemilik lahan, tetapi juga merinci jenis perjudian seperti SDP Singapura, HK Hongkong, atau apakah menggunakan kupon atau sistem online, termasuk mencari tahu siapa backing-annya. Data yang sudah diolah dan dianalisis ini kemudian dilaporkan kepada Kepolisian (APH).
“Pak Polisi, di titik ini, pemilik rumah ini, backing-annya ini, jenisnya ini, itu beroperasi dari sini. Mohon untuk ditertibkan,” ungkap Jumai, menirukan laporannya.
Dengan strategi ini, Muhammadiyah Kota Semarang berhasil menutup lapak togel di Metro dan Peterongan, bahkan markas pusat miras di Jalan Dokter Cipto. Eksekusi penutupan adalah wilayah APH, sementara peran Muhammadiyah adalah sebagai penyedia data, penganalisa, dan yang paling penting, sebagai pengontrol, terangnya.
Selain itu, kata dia, penting pula untuk melibatkan tokoh kearifan lokal (preman tobat) dalam pemberantasan penyakit masyarakat tersebut. Karena mereka dinilai cukup paham situasi kondisi lapangannya.
Tiga Prioritas Agenda Nahi Munkar
Saat ini, Jumai menyoroti adanya tiga agenda Nahi Munkar yang menjadi prioritas di Kota Semarang. Ketiga masalah ini meliputi maraknya perjudian baik online maupun offline, peredaran miras yang masih sangat masif, dan juga masalah PSK terselubung.
Mengenai PSK terselubung, ia menjelaskan bahwa fenomena prostitusi telah bertransformasi, tidak lagi terlokalisir, melainkan menggunakan kedok kafe atau karaoke yang bertransaksi untuk bertemu di hotel.
Selain tiga masalah utama tersebut, ia menyoroti pula maraknya peredaran produk non-halal, seperti masakan daging babi, yang sudah sangat masif. Jumai mendorong Ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah untuk duduk bersama membuat halaqah (diskusi mendalam) dan mendesak pemerintah agar segera membuat Peraturan Daerah (Perda) yang kuat untuk menghentikan peredaran ini.
Lalu, bagaimana cara kader Muhammadiyah di akar rumput untuk terlibat aktif dalam dakwah Nahi Munkar ini? Kader di tingkat bawah (PCM dan PRM), disarankan Jumai agar tidak melakukan eksekusi langsung. Peran mereka cukup memberikan informasi data lokasi secara lengkap kepadanya atau kanal yang ditunjuk.
Saat ini, laporan sering masuk melalui jalur personal karena belum ada pusat komando (posko) atau kanal kelembagaan yang permanen. Namun, dengan posisinya sebagai Wakil Ketua PDM Semarang, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PWM Jawa Tengah, dan Ketua Forum Ormas Semarang FKSB, Jumai dinilai mampu menjadi representasi dan power untuk menekan pihak kepolisian agar segera menindaklanjuti laporan.
“Kalau yang menindaklanjuti masyarakat nanti terjadi kericuhan, kegaduhan, nanti situasi Semarang tidak kondusif,” tutupnya, menekankan pentingnya kolaborasi strategis dengan APH.