Tawaf Wada Jemaah Haji Kloter 28 SOC: Begini Solusi Bagi Risti
JEDDAH, muhammadiyahsemarangkota.org – Kekhawatiran keluarga mengenai kondisi fisik jemaah haji risiko tinggi saat menyelesaikan kewajiban terakhir di Makkah akhirnya terjawab.
Momentum krusial ini ditandai dengan kelancaran prosesi tawaf wada jemaah haji 28 SOC menjelang kepulangan mereka menuju tanah air. Langkah darurat yang efisien ini diambil agar para jemaah sakit tetap sah menutup ibadah mereka tanpa harus kelelahan di tengah kepadatan Masjidil Haram.
Aturan pelonggaran ibadah tersebut menjadi penyelamat bagi keselamatan fisik jemaah yang membutuhkan bantuan alat medis. Kabar penataan ibadah tersebut dilaporkan langsung oleh Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI), Ustadz Drs. Nurbini M.S.I. Ia memberikan informasi tersebut langsung dari Bandara King Abdul Aziz Jeddah pada jam 19.40 waktu setempat.
Melalui laporan resmi pada Kamis malam, 11 Juni 2026, Ia memetakan kondisi riil kepulangan kelompok terbang tersebut. Pihak otoritas memastikan seluruh rangkaian wajib haji penutup bagi jemaah lansia telah tertangani dengan baik oleh petugas di lapangan. Rombongan kini tinggal menunggu jadwal terbang yang aman untuk kembali ke Indonesia.
Penerapan Fikih Taisir Kemenag di Lapangan
Pihak Kementerian Agama mengandalkan konsep fikih taisir untuk melindungi kondisi fisik jemaah yang masuk kategori risiko tinggi (risti). Melalui aturan ini, jemaah pengguna kursi dorong mendapatkan kompensasi berupa penggabungan dua jenis tawaf sekaligus.
Kebijakan pelonggaran tersebut diambil demi menjaga keselamatan dan stamina jemaah menjelang penerbangan jauh ke tanah air.
“Sementara untuk yang risti yang menggunakan kursi dorong dengan mengikuti fatwa dari Kemenag dengan fikih taisir-nya, fikih kemudahan, maka bagi yang risti yang kursi dorong eh dijamak eh dengan tawaf ifadahl. Jadi melaksanakan tawaf ifadah sekaligus diniati dengan tawaf wada,” ujar Nurbini saat memberikan rincian data medis lapangan.
Langkah penggabungan tersebut terbukti efektif memangkas beban fisik jemaah secara drastis di area mataf. Rombongan risti cukup melaksanakan tawaf ifadah yang langsung diniatkan sekaligus sebagai tawaf wada atau adab perpisahan. Melalui strategi ini, jemaah rentan dapat menyelesaikan kewajiban mereka dengan tenang, aman, serta sah secara fikih.
Dinamika Gerakan Mandiri Jemaah Sehat
Berbeda dengan jemaah risti, anggota rombongan yang sehat memilih strategi waktu yang bervariasi demi menghindari kepadatan massa. Fenomena ini membuat pergerakan massa Kloter 28 SOC terpecah menjadi beberapa kelompok kecil sepanjang hari.
Petugas mencatat hanya belasan orang yang mengikuti skema jadwal pergerakan bersama dari pengurus kelompok terbang.
“Tetapi yang ikut bersama-sama yang dijadwalkan oleh kloter, ya hanya eh 14 orang. Yang lainnya melaksanakan tawaf wada secara mandiri,” ucap Nurbini menjelaskan kondisi pergerakan di Masjidil Haram.
Aliran jemaah mandiri ini menyebar sejak hari Rabu, mulai dari waktu pagi, setelah zuhur, hingga waktu asar. Bahkan, sebagian besar jemaah memilih bertahan di dalam Masjidil Haram sejak waktu magrib hingga isya untuk langsung memulai putaran tawaf. Langkah taktis ini terbukti ampuh mengurai penumpukan jemaah pada satu waktu yang sama.
Selain itu, beberapa jemaah memilih waktu yang lebih sejuk pada Kamis dini hari sebelum waktu subuh. Mereka sengaja mengincar momen spiritual tertinggi ini agar bisa menutup perjalanan dengan salat Subuh berjamaah. Setelah prosesi di depan Kakbah selesai, barulah rombongan tersebut kembali ke hotel untuk mengemas barang bawaan.
“Nah, kemudian setelah salat wada, kemudian mengikuti salat subuh di Masjidil Haram baru kemudian kembali ke ke hotel,” tutur Nurbini terkait variasi strategi jemaah.
Mobilisasi Menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah
Seluruh rangkaian adab perpisahan tersebut akhirnya selesai dengan lancar tanpa ada hambatan medis yang berarti. Jemaah segera kembali ke hotel untuk mengemas koper dan bersiap masuk ke dalam armada bus penjemputan. Proses pergerakan menuju pelabuhan udara berjalan tepat waktu sejak siang hari guna mengantisipasi kemacetan darat antarkota.
“Alhamdulillah semua sudah melaksanakan tawaf wada dan kemudian pada hari Kamis ini tadi mulai bakda zuhur, mulai jam eh 12.30, eh jemaah mulai memasuki bus untuk ke Bandara King Abdul Aziz Jeddah untuk kepulangan ke tanah air,” ujar Nurbini mengonfirmasi pergerakan akhir rombongan.
Saat ini, seluruh jemaah Kloter 28 SOC telah berkumpul di area terminal Bandara King Abdul Aziz Jeddah untuk menyelesaikan dokumen imigrasi. Mereka sedang menunggu di ruang tunggu bandara dalam kondisi sehat dan aman. Sesuai jadwal penerbangan, pesawat mereka akan terbang menuju tanah air pada pukul 22.00 waktu Arab Saudi.