Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Teguran Tuhan Sebagai Tanda Cinta? Pelajaran Hidup dari Kisah Nabi Muhammad SAW

21 September 2025, 16:14 WIB 2 menit baca
Teguran Tuhan Sebagai Tanda Cinta? Pelajaran Hidup dari Kisah Nabi Muhammad SAW

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org- Apa jadinya jika teguran justru menjadi bukti cinta? Pemikiran inilah yang menjadi benang merah dalam Pengajian Ahad Pagi yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhamamdiyah (PDM) Kota Semarang di Masjid At-Taqwa, Kompleks RS Roemani, Ahad (21/9).

Pekan ini, para jamaah diajak merenungi kembali sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW, bukan hanya sebagai utusan, tetapi juga sebagai hamba yang senantiasa berada dalam bimbingan kasih sayang Ilahi.

Dalam pemaparannya, DR. Zuhad Masduki, M.Ag, hadir sebagai penceramah yang dengan hangat menguraikan ayat-ayat Al-Qur’an dan sirah nabawiyah. Ia mengajak jamaah untuk melihat perjalanan Nabi bukan sekadar sejarah, tetapi sebuah teladan yang relevan bagi kehidupan modern.

DR. Zuhad mengawali ceramahnya dengan menyoroti bagaimana Allah melindungi Nabi Muhammad sejak kecil, bahkan saat beliau terlahir sebagai yatim dan hidup dalam kesederhanaan. “Kelahiran Nabi bukan sekadar sejarah, tetapi tanda kasih sayang Allah kepada manusia. Sejak awal, beliau dipersiapkan menjadi rahmat bagi semesta,” ujarnya.

Namun, pembahasan paling menarik muncul ketika DR. Zuhad membahas tentang bagaimana Allah mendidik Rasul-Nya. “Kedekatan Rasulullah dengan Allah begitu istimewa. Bahkan ketika ada teguran, itu justru bentuk kasih sayang Allah, agar umat lebih menghormati dan memahami kemuliaan Rasul,” jelasnya merujuk pada QS Al-Nur 63 dan QS Abasa 1.

Hal ini menunjukkan bahwa teguran dari Tuhan, sebagaimana yang dialami Nabi, adalah cara Allah untuk mendidik dan memuliakan, bukan menghukum.

Pengajian yang berlangsung dalam suasana akrab dan penuh makna ini tidak hanya memperkaya pengetahuan tafsir, tetapi juga membuka mata para jamaah untuk merenungi sisi kemanusiaan Nabi yang bisa diteladani sehari-hari. DR. Zuhad mengingatkan, meneladani Nabi bukanlah sekadar menghafal kisah, melainkan menghidupkan akhlaknya, seperti kasih sayang, keikhlasan, dan kepedulian.

Didukung oleh Lazismu Kota Semarang, Pengajian Ahad Pagi ini kembali membuktikan dirinya sebagai ruang belajar agama dan ruang merajut kebersamaan. Agenda yang telah rutin sejak 1988 ini telah menjadi oase spiritual bagi masyarakat.

Sebagai penutup, DR. Zuhad berpesan, “Kalau kita benar-benar mencintai Rasulullah, maka cara terbaik adalah meneladani akhlaknya.”

Pesan ini menjadi bekal rohani bagi jamaah, mendorong mereka untuk pulang dengan semangat baru: menapaki jalan yang pernah dilalui Nabi Muhammad SAW, jalan yang penuh kasih sayang dan cinta kepada sesama.

Kontributor: Rio, Rizki Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: