Temukan Cara Islam Mengatasi Masalah Hidup Lewat Konsep Allah
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Sedang merasa beban hidup datang bertubi-tubi hingga kehilangan arah? Ternyata, kunci ketenangan bukan terletak pada hilangnya masalah, melainkan pada pemahaman bahwa manusia memiliki keterbatasan sementara Tuhan memegang kendali penuh. Pesan inspiratif ini mengemuka dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Taqwa Al Mukarromah, Gayamsari, pada Ahad (18/01/2026). Melalui tema “Manusia Punya Kendala, Allah Punya Kendali”, jamaah belajar mengenai cara Islam mengatasi masalah hidup secara mendalam.
Ust. Aang Kunaepi, M.Ag, hadir memberikan pemaparan yang sangat mencerahkan mengenai fitrah manusia. Tokoh intelektual ini menjelaskan bahwa kegelisahan sering muncul karena kita mengabaikan unsur-unsur dalam diri sendiri. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu merawat jasad, akal, hati, jiwa, dan ruh secara seimbang agar mampu menjalani hidup dengan lebih bermakna.
Merawat Lima Unsur Diri untuk Kualitas Hidup
Selanjutnya, pendidik kharismatik ini merinci pentingnya menjaga kelima unsur tersebut sebagai fondasi kebahagiaan. Jasad membutuhkan asupan sehat, sementara akal memerlukan ilmu pengetahuan sebagai alat inovasi.
Bahkan, narasumber ini menekankan bahwa hati harus menjadi pusat suara kebenaran yang menuntun perilaku kita sehari-hari. Tanpa ruh yang menghidupkan potensi, jasad manusia hanyalah sebuah tubuh tanpa makna.
“Jiwa manusia itu sangat dinamis, bisa berubah dari semangat menjadi gelisah dalam sekejap,” ungkap sosok inovator religi tersebut.
Maka dari itu, Islam hadir menawarkan sistem yang komprehensif mulai dari akidah hingga hubungan sosial sebagai solusi persoalan zaman.
Perpaduan antara keunggulan spiritual dan aksi nyata inilah yang menjadi ciri khas spirit Muslim berkemajuan dalam memandang setiap tantangan.
Strategi Menjemput Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
Selain itu, jamaah mendapatkan bekal praktis untuk menghadapi masa-masa sulit melalui sikap tawakal dan istighfar. Ust. Aang mengajak umat untuk meningkatkan kepedulian sosial melalui zakat dan sedekah sebagai bentuk nyata dari iman.
Dampaknya, penyelesaian konflik tidak lagi menggunakan emosi, melainkan prinsip keadilan dan musyawarah yang saling menghormati.
Dalam kajian ini menegaskan bahwa tujuan utama ajaran Islam adalah membawa manusia pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ternyata, saat kita memprioritaskan ilmu pengetahuan dan membuang kebodohan, kualitas hidup akan meningkat secara otomatis.
Mari kita jadikan setiap kendala sebagai momentum untuk semakin mendekat pada kendali Tuhan, demi terwujudnya masyarakat yang berilmu dan berkemajuan.