Mau Kurban Sah? Tips Fiqih Praktis Pilih Hewan Terbaik!
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Memastikan ibadah kurban sah secara syariat menjadi prioritas utama bagi setiap muslim menjelang Iduladha. Kesalahan dalam memilih hewan atau ketidaktahuan akan aturan dasar bisa membuat pengorbanan yang kita keluarkan menjadi kurang sempurna. Menjawab kebutuhan tersebut, kajian Fiqih Kurban Praktis hadir memberikan panduan jitu bagi jemaah agar mampu mempersembahkan kurban terbaiknya.
Kajian edukatif ini menghadirkan Ust. Triwiyanto, S.Sos., M.M., dari Majelis Tarjih Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang sebagai narasumber utama. Bertempat di Masjid At-Taqwa Nurul Firdaus (26/4/2026), beliau mengajak jemaah untuk lebih teliti memeriksa standar fisik dan umur hewan sebelum membeli. Sapi minimal harus berumur dua tahun, sedangkan kambing wajib menginjak usia satu tahun agar memenuhi syarat sah kurban.
Ust. Triwiyanto menekankan bahwa kualitas hewan mencerminkan kesungguhan hati seorang hamba di hadapan Allah SWT. Memilih hewan yang gemuk, jantan, dan tanpa cacat fisik merupakan langkah cerdas untuk meraih rida-Nya. Selain itu, beliau meluruskan aturan kolektif di mana satu ekor kambing berlaku untuk satu orang, sedangkan sapi bisa menjadi kendaraan kurban bagi tujuh orang.
Strategi Berbagi Daging Tanpa Upah Jagal
Salah satu poin penting yang sering menjadi kekeliruan di masyarakat adalah pemberian daging kurban sebagai upah bagi petugas jagal. Terkait hal ini, Ust. Triwiyanto menegaskan bahwa pemilik kurban dilarang memberikan bagian hewan apa pun sebagai imbalan jasa penyembelihan. Sebaliknya, seluruh bagian hewan harus murni menjadi sedekah atau hadiah, sementara biaya operasional jagal harus berasal dari dana yang berbeda.
Kemudian, beliau merinci bahwa penerima kurban terbagi dalam empat kelompok utama, mulai dari orang sengsara hingga fakir miskin. Pembagian yang ideal adalah membagi hasil sembelihan menjadi tiga bagian yang seimbang. Jadi, shohibul kurban mengonsumsi sepertiga bagian, memberikan sepertiga sebagai hadiah bagi kerabat, dan menyedekahkan sepertiga sisanya murni untuk kaum duafa.
“Pilihlah hewan kurban yang paling gemuk dan sempurna, karena satu ekor kambing yang berkualitas lebih baik daripada ikut kolektif sapi namun dengan kualitas biasa,” ujar Ust. Triwiyanto.
Mempererat Ukhuwah Melalui Sepotong Daging
Ibadah kurban sejatinya membawa misi sosial yang sangat kuat untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama muslim. Daging yang diberikan kepada kerabat dan tetangga berfungsi sebagai perekat kasih sayang dan penghilang sekat sosial di hari raya. Ust. Triwiyanto menyebutkan bahwa momen ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kepedulian nyata kepada mereka yang kekurangan.
Melalui penguasaan fiqih yang praktis, jemaah diharapkan tidak lagi ragu dalam mengeksekusi ibadah kurban mereka tahun ini. Harapan besarnya, setiap tetes darah hewan yang mengalir mampu menghadirkan keberkahan bagi keluarga dan masyarakat luas. Kajian ini menutup pagi dengan doa agar setiap jemaah diberikan kemampuan untuk mempersembahkan kurban terbaiknya.
“Bismillahi wallahu akbar, sesungguhnya shalat dan kurbanmu adalah wujud syukur atas nikmat Allah yang begitu banyak,” pungkas Ust. Triwiyanto mengutip pesan suci Al-Kautsar.