Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Benarkah Rumah Kita Sudah Menjadi Keluarga Sakinah yang Berkah?

26 Juni 2026, 17:09 WIB 4 menit baca
Ustadz Ananto sedang menyampaikan khotbah Jumat mengenai tips keluarga sakinah dan ujian hidup berat dari atas mimbar kayu Masjid At-Taqwa, Wates.
Ustadz Ananto saat menyampaikan khotbah Jumat mengenai esensi keharmonisan keluarga sakinah di Masjid At-Taqwa, Wates, Jumat (26/6/2026).

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org Membangun keluarga sakinah di era modern bukan sekadar tentang kecukupan materi atau tawa renyah di meja makan. Langkah ini merupakan perjalanan spiritual mendalam untuk menjaga keharmonisan tempat bernaung dari berbagai pengaruh buruk duniawi. Oleh karena itu, setiap orang tua wajib memahami esensi rumah tangga agar tidak terjebak dalam tuntutan hidup yang salah arah.

Pesan reflektif tersebut menggema di ruang utama Masjid At-Taqwa, Wates, pada siang hari ini, Jumat (26/06/26). Di tengah hembusan angin siang yang tenang, ratusan jemaah hadir merapatkan barisan di atas karpet hijau. Selanjutnya, mereka larut dalam untaian khotbah Jumat yang disampaikan oleh Tri Ananto Prasetia S.Pd selaku takmir masjid At Taqwa Ngaliyan Wates bidang dakwah dan pendidikan.

Keluarga adalah pelabuhan pertama dan terakhir bagi setiap jiwa yang lelah. Di balik dinding rumah, manusia senantiasa mencari ketenangan, merajut kasih sayang, dan menemukan alasan untuk terus melangkah. Namun, lewat mimbar Jumat, Ustadz Ananto mengajak jemaah bertanya pada diri sendiri apakah tempat tercinta ini sudah benar-benar bebas dari ujian.

Ketika Cinta Menjadi Ujian Hidup Berat

Ketenangan rumah tangga adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT yang paling nyata. Rumah yang dipenuhi iman dan ketakwaan bahkan bisa menjelma menjadi taman surga sebelum surga yang sesungguhnya di akhirat. Namun, Al-Qur’an dengan jujur mengingatkan bahwa harta dan anak-anak kita adalah fitnah yang berarti ujian atau cobaan.

Cinta dalam keluarga yang teramat besar acapkali menjadi pisau bermata dua bagi seseorang. Ia bisa mengantarkan manusia ke surga, namun ia juga bisa menggelincirkan kita ke dalam jurang dosa jika salah arah. Saat mengulas hal ini, Ustadz Ananto mengingatkan kembali firman Allah SWT dalam Al-Qur’an.

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)

Suara sang khatib mengalun syahdu hingga membuat jemaah di dalam masjid tertunduk lesu. Selanjutnya, ia menjabarkan fenomena sosial yang kerap terjadi di era modern ini dengan sangat gamblang. Banyak orang yang awalnya jujur dan berintegritas justru terjebak dalam pusaran korupsi atau menghalalkan segala cara.

Tuntutan Palsu yang Merusak Integritas

Alasan yang kerap terdengar dari bibir para pelaku tersebut sungguh klasik, yaitu demi masa depan dan kebahagiaan anak-anak. Tuntutan itu membuat sebagian orang rela mengorbankan waktu ibadahnya bahkan mengabaikan salat berjamaah. Akibatnya, mereka menempuh jalur yang tidak berkah hanya untuk memenuhi gaya hidup dan tuntutan cinta dalam keluarga.

Terkait fenomena tersebut, Ustadz Ananto memberikan peringatan keras secara langsung di hadapan jemaah.

“Tanpa sadar, kita sering kali lebih takut anak-anak kita gagal secara finansial atau status sosial di dunia, ketimbang takut mereka merugi di akhirat,” tegasnya dari atas mimbar.

Oleh sebab itu, mimbar Jumat menyodorkan kisah keteguhan hati para nabi sebagai pembelajaran berharga bagi jemaah. Jemaah diajak menatap keindahan iman dalam keluarga Nabi Ibrahim AS saat menerima ujian yang sangat besar. Ketika perintah terberat datang untuk mengorbankan sang putra, Ismail AS, cinta mereka kepada Sang Pencipta berdiri jauh di atas segalanya.

Respon sang anak yang diabadikan dalam Al-Qur’an sungguh menggetarkan hati.

“Wahai ayahku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102)

Ciri Rumah Tangga Berkah yang Hakiki

Kisah nyata tersebut memperlihatkan bagaimana cinta duniawi tunduk sepenuhnya pada cinta kepada Yang Maha Kuasa. Hubungan mulia inilah yang namanya diabadikan dengan indah sepanjang zaman karena mampu menjaga visi keimanannya. Orang tua memikul beban besar untuk menjaga anak dan istri dari api dunia serta akhirat.

Ia pun melemparkan pertanyaan reflektif yang mendalam untuk menguji keseriusan para orang tua dalam mendidik anak.

“Sudahkah kita memastikan mereka bisa membaca Al-Qur’an dengan benar? Sudahkah kita mengenalkan mereka pada Allah SWT yang menciptakan mereka?” tanyanya lugas.

Mendidik anak bukan hanya tentang mengajari mereka cara bertahan hidup dan mencari nafkah di dunia luar. Langkah yang paling utama adalah mengajari mereka cara hidup yang diridhai-Nya melalui pola asuh anak berlandaskan syariat. Hal ini menjadi tips keharmonisan keluarga yang paling mendasar agar rumah tangga senantiasa mendapatkan perlindungan.

Pada hari kiamat nanti, setiap manusia akan datang sendiri-sendiri menghadap Mahkamah Ilahi dengan penuh rasa takut. Hari itu begitu dahsyat hingga seseorang akan lari dari saudara, orang tua, bahkan dari istri dan anak-anaknya. Sebelum mengakhiri khotbah, ia menitipkan sebuah pesan penutup untuk dibawa pulang oleh seluruh jemaah ke rumah masing-masing.

“Jangan hanya sibuk membangun rumah yang megah di dunia, hingga lupa membangun istana di surga. Jangan hanya lelah mewariskan tumpukan harta, tetapi wariskanlah sekeping iman yang kokoh untuk masa depan mereka,” pesannya.

Oleh karena itu, jadikan momentum ini untuk mengevaluasi kembali tujuan utama kita dalam membangun tempat bernaung. Mari peluk kembali keluarga dengan cara yang benar agar kita terhindar dari ujian hidup berat. Melalui cara tersebut, kita bisa mewujudkan ciri rumah tangga berkah dan berkumpul kembali dalam keabadian yang indah kelak.

Kontributor: Gahthan
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: