Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tak Boleh Asal Akting! Unimus Kreasikan ‘Pasien Bayangan’ Demi Ujian Profesi Ners Berkelas

21 Agustus 2026, 19:29 WIB • 2 menit baca
Dosen pakar keperawatan UNIMUS berdiri memegang mikrofon memberikan pengarahan di depan papan tulis, sementara peserta pelatihan dan pemeran pasien bayangan berkumpul di ruang kelas ber-AC mendengarkan instruksi.
Dosen pakar keperawatan UNIMUS memberikan instruksi dan arahan simulasi peran pasien standar dalam Pelatihan Klien Standar guna menjamin mutu pendidikan serta objektivitas ujian profesi Ners.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Menilai kecakapan calon perawat profesional tidak cukup hanya memantau kelihaian tangan saat menyuntik atau memasang infus. Menguji kepekaan empati, keputusan klinis, hingga gaya komunikasi terapeutik kini membutuhkan stimulasi nyata yang makin presisi.

Merespons kebutuhan tersebut, Prodi Pendidikan Profesi Ners FIKKES Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) menggelar Pelatihan Klien Standar. Langkah strategis ini menjadi fondasi utama jelang marathon 16 sesi Objective Structured Clinical Examination (OSCE) pada 27 Agustus hingga 4 September 2026.

Dosen pakar keperawatan UNIMUS, Dr. Ns. Yunie Armiyati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., menegaskan bahwa klien standar memegang peran krusial dalam sistem penilaian. Klien standar bertindak sebagai ‘pasien bayangan’ yang wajib menyajikan keluhan secara konsisten kepada setiap peserta ujian.

“Klien standar harus memahami skenario secara utuh, mulai dari keluhan, respons, ekspresi hingga informasi apa yang boleh dan tidak boleh disampaikan tanpa terlebih dahulu ditanyakan oleh peserta. Konsistensi menjadi sangat penting karena setiap mahasiswa harus memperoleh kesempatan menghadapi situasi klinis yang setara,” ujar Yunie Armiyati.

Menempa Bahasa Tubuh Pasien Lewat Simulasi Langsung

Penilaian uji klinik OSCE sejatinya merangkum kemampuan mengkaji masalah, keselamatan pasien, hingga etika keperawatan. Oleh sebab itu, pelatihan tidak hanya berhenti pada teori lembar skenario di atas kertas.

Pakar keperawatan jiwa UNIMUS, Dr. Ns. Desy Ariyana, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.Jiwa., langsung memimpin simulasi praktik akting klinis tersebut. Para pemeran pasien berlatih menampilkan ekspresi emosi, bahasa tubuh, hingga dinamika jawaban secara natural namun tetap sesuai batas skenario.

Desy Ariyana menjelaskan bahwa latihan instingtif ini menjaga tingkat objektivitas ujian agar tetap adil bagi seluruh mahasiswa. “Melalui latihan langsung, kami mengevaluasi secara menyeluruh bagaimana peserta memainkan peran, mulai dari komunikasi verbal, ekspresi nonverbal, respons emosional hingga konsistensi informasi,” tegas Desy Ariyana.

Garansi Kualitas Calon Perawat di Garis Depan Pelayanan

Langkah terobosan ini membuktikan komitmen kampus dalam menjaga mutu pendidikan kesehatan secara berkelanjutan. Fasilitas simulasi terpadu menjamin calon perawat siap menghadapi tekanan dunia kerja nyata tanpa mengabaikan aspek keselamatan pasien.

Ujian terstandar ini membekali para calon Ners dengan fondasi moral dan keterampilan klinis yang kuat. Kehadiran pemeran pasien teruji menghadirkan ujian yang adil, presisi, serta mendekati realitas layanan kesehatan modern.

Dengan demikian, penguatan mutu pendidikan lewat metode OSCE terstruktur siap melahirkan lulusan perawat yang tangguh. UNIMUS membuktikan bahwa integritas profesi tenaga kesehatan selalu berawal dari proses evaluasi yang objektif.

Kontributor: Prima Trisna Aji
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: