Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Wanti-wanti Kapolrestabes Semarang di Muktamar Tapak Suci: Jangan Jadikan Pencak Silat Alat Permusuhan!

12 Agustus 2026, 17:12 WIB • 2 menit baca
Rombongan pesilat remaja Tapak Suci berseragam merah-kuning berjalan rapi bersama di trotoar jalanan Kota Semarang dengan ceria.
Semangat para pesilat remaja Tapak Suci yang berjalan rapi di trotoar Simpang Lima Semarang, menjadi simbol pembinaan generasi muda yang positif dan terarah sebagai langkah pencegahan kenakalan remaja.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Kapolrestabes Semarang Kombes Pol. Heri Wahyudi menyampaikan pesan mendalam di sela pembukaan Muktamar XVI Tapak Suci pada Sabtu (8/8/2026). Pihaknya mewanti-wanti agar seni bela diri tidak pernah berubah fungsi menjadi alat perpecahan atau ajang pamer kekuatan di jalanan.

Peringatan tegas tersebut mengemuka sewaktu perwira menengah kepolisian ini melihat langsung lautan peserta di Lapangan Pancasila Simpang Lima. Menurutnya, seragam dan identitas perguruan seharusnya menjadi sarana menempa keberanian diri, bukan justru menyemai benih permusuhan antarpesilat.

Oleh karena itu, aparat kepolisian mendukung penuh langkah Muhammadiyah yang konsisten merangkul kaum muda melalui jalur olahraga. Pendekatan positif ini terbukti ampuh mendongkrak prestasi sekaligus menekan angka kejahatan jalanan di Kota Semarang.

“Acaranya bagus untuk membina kaum muda sebagai generasi penerus. Jadi ini merupakan langkah positif bagi Muhammadiyah untuk merangkul generasi muda agar dapat meraih prestasi di bidang olahraga, khususnya pencak silat,” ujar Heri Wahyudi memberikan penilaiannya.

Benteng Utama Pencegahan Kenakalan Remaja

Selanjutnya, pimpinan kepolisian Kota Semarang tersebut memberikan sorotan khusus terkait ancaman tawuran dan kenakalan remaja yang kian mengkhawatirkan. Pihaknya meyakini bahwa kegiatan pembinaan bela diri secara otomatis sanggup membendung godaan perilaku destruktif.

Namun, efektivitas pencegahan kenakalan remaja tersebut membutuhkan syarat mutlak dari seluruh pengurus perguruan silat. Setiap organisasi wajib membuka ruang silaturahmi agar perbedaan aliran tidak memicu gesekan di tingkat bawah.

Maka dari itu, keharmonisan antarpesilat bakal menciptakan suasana kota yang jauh lebih kondusif dan aman. Hasilnya, energi besar anak-anak muda terarah secara utuh pada pencapaian prestasi yang membanggakan.

“Pasti, itu pasti. Dengan catatan mungkin antara perguruan-perguruan pencak silat tetap bersatu, kemudian menjalin tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah yang ada tanpa harus menimbulkan perpecahan di antara mereka,” tegas Heri Wahyudi.

Bukan Cuma Pandai Bertarung

Di samping menekankan pentingnya persatuan, Kapolrestabes Semarang mengingatkan bahwa seni membela diri hakikatnya adalah proses menaklukkan ego pribadi. Keahlian bertarung yang dimiliki seorang pesilat wajib berbanding lurus dengan keluhuran akhlak dalam bermasyarakat.

Sebab, ketika tangan seorang pesilat justru melukai saudaranya sendiri, martabat olahraga bela diri seketika ikut hancur. Institusi kepolisian sangat berharap agar pembinaan karakter di dalam gelanggang mampu terbawa hingga ke kehidupan sehari-hari.

Lalu, sinergi antara aparat keamanan dan organisasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menyelamatkan masa depan generasi muda. Pola pengawasan yang hangat dan disiplin bakal menghindarkan anak-anak dari jebakan pergaulan liar.

Akhirnya, pesan mendalam dari pimpinan kepolisian ini menjadi pengingat berharga bagi seluruh pendekar di tanah air. Dunia tidak sekadar membutuhkan pemuda yang jago bertarung, melainkan generasi bertakwa yang tahu cara merangkul sesama.

Kontributor: Imam S Abu Maulana
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: