Waspadai “Ghazwul Fikri” Ancaman Terbesar Umat Saat Ini
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Di tengah dunia yang semakin riuh oleh budaya digital, ada peperangan senyap yang tak tampak mata tanpa dentuman meriam, tanpa pasukan berbaris namun perlahan menggerogoti akhlak, pola pikir, dan jati diri umat. Peperangan inilah yang dikenal sebagai ghazwul fikri, perang pemikiran yang masuk lewat budaya, ideologi, dan layar gawai.
Ancaman ini menjadi sorotan utama dalam Sekolah Tabligh PDM Kota Semarang pada Sabtu (06/12), sebuah pengingat agar umat tidak lengah menghadapi serangan yang hadir bukan dengan kekerasan fisik, melainkan lewat narasi dan pengaruh yang mengubah cara berpikir. Acara ini menghadirkan Drs. H. Nurbini, M.Si., Wakil Ketua PDM Kota Semarang, yang membongkar bagaimana serangan pemikiran modern bisa meruntuhkan moral jika tidak disadari sejak dini.
Perang yang Tidak Lagi Menggunakan Pedang
Dalam pemaparannya, Nurbini menggambarkan bahwa ancaman terbesar hari ini bukan lagi berupa pasukan berkuda atau peperangan fisik.
Serangannya jauh lebih halus masuk melalui hiburan, konten digital, budaya populer, hingga pola pikir yang perlahan mengubah cara umat menilai benar dan salah.
“Yang diserang bukan tubuh, tapi akidah, akhlak, dan pola pikir. Di sinilah umat sering kalah tanpa sadar,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa perang pemikiran (Ghazwul Fikr) merupakan bentuk penjajahan paling berbahaya karena membuat seseorang meninggalkan nilai Islam tanpa paksaan apa pun.
Musuh Halus Lewat Layar
Serangan pemikiran, menurutnya, hadir lewat arus budaya yang normalisasi perilaku menyimpang, relativisme moral, hingga pemikiran liberal yang mengikis batas halal haram.
Nurbini menambahkan, “Musuh tidak menyerang dari depan. Mereka datang lewat gaya hidup, ideologi, dan tontonan yang membuat umat jauh dari identitasnya.”
Ia mengingatkan pentingnya membangun benteng keluarga, memperkuat pendidikan agama, dan membentuk lingkungan yang sehat agar generasi muda tidak mudah goyah.
Rutinan Sekolah Tabligh ini ditutup dengan ajakan agar umat tidak sekadar resah melihat perubahan zaman, tetapi mengambil peran dalam menjaga akidah dan moral.
Melalui penguatan ilmu, kepekaan terhadap media, dan kebanggaan terhadap identitas Islam, setiap Muslim diharapkan mampu menjadi penjaga peradaban bukan korban dari serangan halus yang tak terlihat.
Baca Juga :
Cetak Juru Dakwah Modern: PDM Semarang Gelar Sekolah Tabligh