
MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG – Al-Qur’an berposisi sebagai pedoman umat Islam agar menuntun ke jalan yang benar. Al-Qur’an menjadi pedoman untuk melakukan praktik resepsi yang diyakini akan selamat, serta bahagia dunia akhirat jika melaksanakannya.
Al-Qur’an adalah teks inti dalam sejarah peradaban Islam. Demikianlah tausiah dari ustadz Dr. H. Zuhad Masduki M.Ag. ketika menjadi narasumber dalam kajian Ahad pagi Majelis Tabligh PDM Kota Semarang. Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa bukan suatu simplikasi jika dikatakan bahwa peradaban Islam adalah “Peradaban Teks”. Hal tersebut tidak berarti bahwa teks itu sendiri yang membangun peradaban, sebab teks apapun tidak dapat membangun peradaban dan menegakkan ilmu pengetahuan serta kebudayaan. Yang dapat membangun peradaban dan menegakkan kebudayaan adalah dialektika manusia dengan realitas di satu pihak dan dialektika dengan teks di pihak lain.
Sebagaimana firman Allah didalam surat Al-Muddatsir ayat 31 :
وَمَا جَعَلْنَآ اَصْحٰبَ النَّارِ اِلَّا مَلٰۤىِٕكَةً ۖوَّمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ اِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْاۙ لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِيْمَانًا وَّلَا يَرْتَابَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْمُؤْمِنُوْنَۙ وَلِيَقُوْلَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ وَّالْكٰفِرُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًاۗ كَذٰلِكَ يُضِلُّ اللّٰهُ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ اِلَّا هُوَۗ وَمَا هِيَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْبَشَرِ ࣖ
Artinya : Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), “Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.
Penjelasan dari tafsir ayat tersebut adalah Allah SWT tidak menjadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat. Allah SWT pun tidak menjadikan jumlah penjaga neraka sebanyak sembilan belas malaikat melainkan untuk menguji orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi al-Kitab meyakini bahwa apa yang dikatakan Al-Qur’an mengenai penjaga neraka jahanam adalah benar dari sisi Allah sebagaimana terdapat dalam kitab-kitab suci mereka. Demikian juga, agar para pengikut Muhammad semakin bertambah imannya, dan mereka yang telah diberikan al-Kitab beserta orang-orang Mukmin tidak lagi meragukan kebenaran hal ini. Sebaliknya, orang-orang munafik dan orang-orang kafir akan bertanya-tanya, “Perumpamaan apakah yang Allah inginkan dari jumlah yang aneh ini?” Sesuai dengan kadar kesesatan atau petunjuk seperti disebutkan di atas, Allah akan membuat sesat orang-orang kafir dan memberi petunjuk kepada orang-orang Mukmin. Demikian banyaknya balatentara Allah sehingga tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia yang Mahasuci dan Mahaagung. Neraka Saqar tidak lain hanyalah suatu peringatan kepada manusia dan ancaman yang menakutkan bagi mereka.
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara