Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Shalat Terasa Berat? Rahasia Kekuatan Iman di Balik Peristiwa Isra Mikraj

19 Januari 2026, 19:07 WIB 3 menit baca
Ustaz Raad Nur Fatah sedang berdiri menyampaikan khutbah di atas mimbar kayu berukir di dalam masjid dengan pilar kayu besar, sementara jamaah pria duduk menyimak dengan khidmat di atas karpet hijau bermotif
Menjemput rahmat melalui sujud: Ustaz Raad Nur Fatah, S.Ag., M.Ag. menyampaikan pesan spiritual tentang pentingnya menjaga kualitas sholat sebagai solusi menghadapi badai ujian hidup dalam khutbah Jumat bertepatan dengan 27 Rajab 1447 H."

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Langit Jumat (16/01/2026) yang bertepatan dengan momentum sakral 27 Rajab 1447 H menjadi saksi sebuah pesan spiritual yang menggetarkan sanubari. Di balik kemegahan peristiwa perjalanan Nabi Muhammad ﷺ menghadap Sang Pencipta, tersimpan rahasia besar tentang cara manusia bertahan di tengah badai duka. Ustaz Raad Nur Fatah, S.Ag., M.Ag., dalam khutbahnya menegaskan bahwa hikmah Isra Mikraj bagi kehidupan adalah solusi nyata bagi siapa pun yang sedang merasa lelah dengan beratnya ujian dunia.

Pendidik kharismatik ini mengajak jamaah menyelami sisi emosional Rasulullah ﷺ sebelum berangkat menuju Sidratul Muntaha. Pasalnya, peristiwa agung ini hadir justru setelah Nabi melewati masa paling kelam, mulai dari kehilangan orang tercinta hingga penolakan fisik yang menyakitkan di Thaif. Oleh karena itu, Isra Mikraj bukan hanya tentang mukjizat terbang ke langit, melainkan tentang bagaimana Tuhan memuliakan hamba-Nya yang teguh dalam kesabaran.

Belajar Sabar dari Tragedi Thaif hingga Keajaiban Langit

Selanjutnya, sang khatib menceritakan sisi kemanusiaan Nabi yang tetap memaafkan meski mendapatkan penolakan keras di Thaif.

Bahkan, Ustaz Raad menekankan bahwa kesabaran luar biasa itulah yang membuka pintu langit bagi Rasulullah. Maka dari itu, kita perlu meneladani keteguhan hati tersebut saat menghadapi konflik atau kegagalan dalam hidup modern.

Kemudian, narasumber ini menonjolkan peran Abu Bakar As-Siddiq sebagai simbol kepercayaan tanpa syarat. Menurutnya, dunia saat ini membutuhkan orang-orang yang memiliki keyakinan kuat terhadap nilai kebenaran.

Dampaknya, seseorang dengan iman yang tangguh akan selalu memiliki arah hidup yang jelas meski lingkungan sekitar meragukannya.

Shalat Sebagai Kunci Ketenangan dan Jalan Keselamatan

Selain itu, puncak dari pesan perjalanan suci ini adalah perintah suci ibadah shalat. Narasumber menjelaskan bahwa sholat sebenarnya sangat mudah secara teknis, namun terasa sangat berat tanpa sokongan iman yang kuat.

Dampaknya, shalat sering kali berubah menjadi rutinitas hampa jika hati tidak meyakini pertemuan dengan Tuhannya.
Kemudian, Ustaz Raad Nur Fatah mengingatkan bahwa menjaga sholat adalah satu-satunya jalan meraih rahmat dan keselamatan yang hakiki.

“Shalat akan terasa ringan hanya bagi mereka yang khusyuk,” tegas sang khatib saat berdiri di mimbar jumat. Ternyata, di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, shalat hadir sebagai pemberi arah dan ketenangan batin.

Sebab, mereka yang menjaga komunikasi dengan Allah melalui sujud, tidak akan pernah kehilangan harapan meskipun badai kehidupan datang menerjang.

Menghidupkan Risalah Nabi dalam Perilaku Sehari-hari

Akhirnya, refleksi Isra Mikraj ini membawa kita pada kesadaran bahwa kekuatan umat Islam terletak pada kualitas ruhani, bukan sekadar simbol seremonial.

Ternyata, siapa pun yang memperkuat iman dan konsisten dalam ketaatan akan selalu memiliki pegangan hidup yang kokoh.
Pengaruh positif dari ibadah yang benar harus tercermin dalam sikap saling memaafkan dan kepedulian sosial di lingkungan sekitar.

Bahwa setiap ujian adalah tangga menuju kemuliaan jika kita hadapi dengan sabar. Mari Sahabat, kita jadikan momentum Rajab ini untuk memperbaiki kualitas sholat dan mempertebal iman.

Dampaknya, kita tidak hanya selamat di dunia, tetapi juga meraih tempat terbaik di surga Allah kelak melalui jalan ketaatan yang konsisten.

Kontributor: Syafii Media Masjid Assalam Wonodri
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: